Zona Merah Lagi, Depok Kerahkan Relawan Klaster

Satgas COVID-19 (Istimewa)

BEJI– Setelah sempat berada di zona orange, kasus COVID-19 di Kota Depok kini mulai melonjak lagi. Terkait hal itu, Gugus Tugas pusat pun akhirnya kembali menetapkan Depok sebagai salah satu daerah di Jawa Barat dengan status zona merah, atau beresiko tinggi.

Berdasarkan data resmi yang diunggah Gugus Tugas Percepatan COVID-19 Kota Depok, telah terjadi penambahan kasus dengan total terkonfirmasi positif 2.749 orang, sembuh 1.861 orang, dan meninggal 96 orang sampai dengan Jumat 11 September 2020

Angka itu kembali naik jika dibandingkan pada Kamis, 10 September 2020, dengan jumlah terkonfirmasi positif 2.698 orang, sembuh 1.841 orang, dan meninggal dunia 94 orang.

Dengan demikian, untuk kasus terkonfirmasi mengalami penambahan sebanyak 51 orang, dan meninggal dunia dua orang, dalam kurun waktu satu hari terakhir. Berbagai upaya untuk menekan penyebaran virus berbahaya tersebut pun kian gencar dilakukan pemerintah daerah dan aparat setempat.

Di antaranya mulai dari pemberlakuan pembatasan aktivitas malam, swab massal, hingga sosialisasi protokol kesehatan. Kapolres Metro Depok, Komisaris Besar Polisi Azis Andriansyah bahkan telah mengerahkan jajarannya untuk turun langsung ke sejumlah lokasi yang dianggap rentan terjadinya klaster COVID-19.

Azis, bahkan telah membentuk satuan tugas (Satgas) penegak disiplin berbasis komunitas. Salah satunya adalah di area Pasar Kemirimuka, Beji, Depok. Ia berharap, komunitas ini terlibat aktif guna menekan penyebaran virus berbahaya tersebut.

“Melihat kondisi Kota Depok masuk zona merah di Jawa Barat, kita bentuk Satgas bertujuan dapat melakukan pemantauan disiplin protokol kesehatan COVID-19, khususnya di tempat-tempat keramaian, pusat perbelanjaan dan perkantoran,” katanya

Satgas ini terdiri dari anggota Ketertiban Pasar atau Tibsar. Mereka bertugas melakukan pemantauan terhadap pengunjung dan penjual di pasar.

“Sebagai pencegahan Satgas dibuat untuk penegak disiplin protokol kesehatan di lapangan. Dengan berbasis komunitas kita harapkan kesadaran masyarakat dapat lebih tinggi dalam penerapan protokol kesehatan,” ujarnya

Pria kelahiran Semarang, 1977 itu menuturkan, satgas ini akan bergerak bersama dengan TNI dan stakeholder lainnya.

“Kerja tim satgas ini dapat bersinergi dengan aparat kepolisian yaitu masing-masing Polsek, TNI, Satpol PP, dan Dinas Perhubungan Kota Depok.”

Satgas ini terdiri dari 20 orang ditiap komunitas. Didalamnya terdapat juga tokoh masyarakat agar lebih maksimal dalam penegakan disiplin. (rul/*)

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here