Waspada! BMKG Prediksi Cuaca Ekstrem Depok Sampai Oktober

Sejumlah pohon tumbang akibat cuaca ekstrem di Kota Depok. (DepokToday.com)
Sejumlah pohon tumbang akibat cuaca ekstrem di Kota Depok. (DepokToday.com)

DepokToday- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi cuaca ekstrem di Kota Depok bakal berlangsung sampai dengan awal Oktober 2021. Kondisi ini disebabkan beberapa faktor.

Berdasarkan keterangan BMKG baru-baru ini, hujan deras dan angin kencang itu akibat dari kondisi dinamika atmosfer terkini, yaitu kombinasi dari Madden Julian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin, dan gelombang tipe Low Frequency.

“Ketiganya berkontribusi terhadap pembentukan awan di wilayah Indonesia,” sebut BMKG dalam keterangan tertulisnya dikutip pada Selasa 28 September 2021.

Baca Juga: Lanjutan Sidang Hoax Babi Ngepet Hari Ini, PN Depok Hadirkan Saksi Kunci

Lebih lanjut BMKG memaparkan, berdasarkan pantauan citra satelit dan radar cuaca menunjukkan pada beberapa hari terakhir antara pukul 14:00-18:00 WIB terpantau tutupan awan konvektif di wilayah Bogor dan Depok.

Sedangkan nilai reflektivitas maksimum (50-55 dBz) di sekitar Bogor utara dan Depok terjadi pada pukul 16:50-17:30 WIB.

Penyebab Cuaca Ekstrem di Depok

Disitat DepokToday.com dari Tempo, MJO merupakan pergerakan aktivitas konveksi yang bergerak ke arah timur dari Samudera Hindia ke Samudera Pasifik, biasanya terjadi setiap 30 sampai 40 hari.

Gelombang Kelvin adalah gelombang di lautan atau atmosfer yang menyeimbangkan gaya coriolis bumi terhadap suatu batas topografi seperti suatu garis pantai atau suatu waveguide seperti khatulistiwa.

Baca Juga: Viral, Gerbong KRL Kebanjiran, Warganet: Awas Nyetrum

Terkait kondisi saat ini, BMKG mengungkapkan adanya pola perlambatan angin di sekitar Laut Jawa sebelah utara Jawa Barat.

Kemudian adanya pertumbuhan awan hujan di sebagian wilayah Bogor dan Depok dipicu oleh indeks labilitas dan kelembapan udara yang tinggi.

Menurut Kepala Sub-Bidang Analisis dan Informasi Iklim BMKG Adi Ripaldi mengatakan pada periode transisi atau peralihan musim kemarau ke musim hujan terdapat potensi terjadinya cuaca ekstrem di Jabodetabek. “Setidaknya di bulan September-Oktober nanti,” kata Adi dikutip dari Tempo. (rul/*)