Warga Limo Terancam Kehilangan Tanah, Mantan Kades Punya Bukti Kuat

Pelaksanaan uji coba Tol Cijago. (DepokToday.com)
Pelaksanaan uji coba Tol Cijago. (DepokToday.com)

DepokToday- Sejumlah warga di Kelurahan Limo, Kecamatan Limo, Depok, menuntut keadilan lantaran mengaku menjadi korban penyerobotan tanah oleh perusahaan yang bergerak dibidang property. Kasus ini telah berlangsung sejak beberapa tahun lalu.

Marhali, salah satu warga yang mengaku menjadi korban dugaan mafia tanah tersebut menegaskan, pihaknya tidak pernah menjual aset berharganya pada siapapun.

Namun anehnya, ketika mengajukan Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL), tanah warisan orangtuanya itu diklaim milik perusahaan yang bergerak dibidang property. Kabarnya, tanah itu akan digunakan untuk proyek jalan tol.

“Nah warga pada tahu (tanahnya diserobot) ketika sedang mengajukan pembuatan PTSL di 2019. Pas kita ajukan itu diklaim punya Wisma Mas dan sampai saat ini ya begini aja, tidak ada lagi tindak lanjut,” katanya pada awak media, Kamis 2 September 2021.

Marhali yang menjabat sebagai Ketua RW ini mengaku, tanah milik keluarganya seluas 500 meter. Selain dia, ada sejumlah warga lainnya yang juga bernasib sama.

Ia menegaskan sebagai pemilik yang sah karena memiliki dokumen asli seperti surat Leter C. “Yang lain AJB, karena ini kan tanah adat.”

Baca Juga: Pejabat BPN Depok Akui Proyek Tol Cijago Ada Banyak Masalah

Marhali berharap, persoalan ini bisa segera selesai karena ia dan sejumlah warga lainnya sama sekali tidak pernah menjual tanah tersebut.

“Kami ingin hak kami kembali, karena ini dari dulu tidak dijual, tidak ada negosiasi,” tegasnya.

Nasib serupa juga dialami Suharlin Lilin Harlini. Dia mengaku punya dua bidang tanah seluas 2.300 meter dan itu tak pernah ia jual pada siapapun. Namun anehnya, belakangan ada pihak perusahaan yang mengklaim aset miliknya itu.

Tak tinggal diam, wanita yang akrab disapa Lilin ini pun telah melayangkan somasi bahkan gugatan secara perdata pada pihak-pihak terkait, termasuk BPN. Bahkan rencananya, dalam waktu dekat ia akan membawa kasus ini ke ranah pidana.

Kronologi Sengketa Tanah di Limo

Lantas seperti apa sebenarnya duduk persoalan tersebut? Mantan Kepala Desa Limo, Marjaya menjelaskan, pada 2001 jelang akhir jabatan dirinya sebagai kepala desa, mereka (PT Wisma Mas) ingin membebaskan lahan  di kawasan itu.

Seingat Marjaya, kala itu pihak perusahaan meminta sekira 12-15 hektar tanah.

“Waktu itu Wali Kota nya masih Pak Nur Mahmudi, izinnya dikeluarkan dan kita diminta untuk tanda tangan SPH (surat pengakuan hak) dari PT Wisma Mas dan pelaksanaan lapangannya itu direktur operasional, namanya Pak Osi dengan Pak Karni,” bebernya.

Pada Marjaya, keduanya minta tolong untuk dibantu. Namun jelang akhir jabatan Marjaya, SPH belum sepenuhnya rampung.

“Mereka minta tanda tanganin SPH. Saya tidak keberatan dengan catatan tanah warga harus diselesaikan. Karena aturan jual beli itu bayar dulu baru SPH, bukan SPH dulu,” katanya.

Dugaan Licik Mafia Tanah

Kemudian, setelah itu Marjaya dimutasi dari Kepala Desa Limo Menjadi Sekertaris Kelurahan Depok pada tahun 2001. Namun, pihak perusahaan tersebut tetap bersikeras meminta tanda tangan Marjaya.

“Saya tanda tangani tapi saya minta pernyataan dan saya buat surat pemblokiran ke BPN agar tidak diterbitkan sertifikat, karena ada beberapa tanah warga yang belum diselesaikan,” jelasnya.

Tapi ternyata, tanpa sepengetahuan aparat daerah setempat, pihak perusahaan itu melakukan pengukuran tanah bersama BPN.

“Tapi Pak RW Udin (saksi) saat itu selaku pelaksana teknis di lapangan tidak dilibatkan ketika pengukuran. Kalau dia (Udin) dilibatkan saat pengukuran, saya pikir tidak akan terjadi hal seperti ini. Itu koronologisnya,” ucap Marjaya.

Baca Juga: Terungkap, Segini Biaya Fantastis Proyek Tol Cijago Depok

“Jadi Pak Osi pun pada intinya siap, sebelum itu HGB (Hak Guna Bangunan) terbitnya itu tahun 2006. Waktu ngukur di lapangan itu tadi, tidak melibatkan tim teknis yang ditunjuk oleh Pas Osi waktu itu di lapangan. Penunjuk batasnya itu Pak Karni yang notabenenya dia selaku tim dari PT Wisma Mas,” sambungnya.

Mantan Kades Limo, Marjaya. (DepokToday.com)
Mantan Kades Limo, Marjaya. (DepokToday.com)

Persoalan semakin kusut karena ternyata perusahaan tersebut telah dilelang dan berganti manajemen.

“Kalau itu tanah masih milik PT Wisma Mas saya pikir tidak akan terjadi seperti ini. Tapi ternyata ada pelelangan dan saya nggak tahu itu PT siapa yang menang lelang. Dan setelah menang lelang ternyata tanah warga masih banyak yang belum diselesaikan,” tuturnya.

Baca Juga: Ketika Janda Cantik dari Austria Kebelet Nikahi Tukang Sapu Jakarta

Lebih lanjut Marjaya mengingatkan, jika pihak perusahaan tersebut (PT Wisma Mas) lepas tangan, maka kemungkinan warga bakal melakukan protes keras.

“Karena prosesnya ini bukan dengan PT yang sekarang (yang menang lelang), tapi dengan yang dulu, yang membebaskan tanah warga yang belum diselesaikan. Nah itu harusnya diselesaikan dulu.” (rul/*)