Warga Depok! Ini Sebab Ular Masuk Rumah dan Cara Mengatasinya

Evakuasi ular jenis kobra Jawa di Depok (DepokToday.com)
Evakuasi ular jenis kobra Jawa di Depok (DepokToday.com)

DepokToday- Kasus ular masuk rumah kerap ditemukan di Kota Depok. Kondisi itu semakin rawan terjadi dikala musim hujan seperti sekarang ini. Lantas bagaimana mendeteksi keberadaan hewan berbahaya itu dan mengatasinya?

Terkait hal tersebut, Kabid Pengendalian dan Operasional Dinas Kebakaran dan Penyelamatan Kota Depok, Welman Naipospos punya beberapa informasi terkait hal itu.

Menurutnya, musim hujan adalah waktu yang paling tepat menetasnya telur beberapa spesies ular di sekitar rumah.

Baca Juga: Menguak Pergolakan Batin Grafolog Dibalik Misteri Kematian Akseyna

Nah, berdasarkan data yang ia himpun, pada periode September – Oktober hingga nanti Maret, adalah waktu menetasnya telur ular kobra (dan beberapa ular lain) yang sudah di keluarkan induknya 2-3 bulan lalu.

“Setelah telur menetas, anak ular akan langsung bergerak ke segala penjuru arah untuk mencari air dan makanannya,” kata dia dikutip dari keterangan tertulis yang diterima awak media pada Selasa 16 November 2021.

Welman menjelaskan, ular tidak menyusui dan tidak tinggal dengan induknya. Si induk biasanya sudah pergi meninggalkan telur sesaat setelah di sembunyikan dalam lubang untuk ditetaskan.

“Induk ular kobra tidak mengerami telur,” ujarnya.

Baca Juga: 11 Puskesmas di Depok Kini Punya Serum Anti Bisa Ular, Ini Jenisnya

Kemudian, ketika hujan atau ada genangan air, maka itu akan memaksa ular (anak atau dewasa) berpindah mencari tempat kering. “Ular kobra lebih suka bersembunyi di tempat yang kering timbang di genangan air,” tuturnya.

Ia berpendapat, insting ular kobra mencari makan akan mendekati area dengan bau, umumnya seperti bau tikus, kodok, katak, kadal, cicak, dan lain-lain.

“Ular akan bertahan di satu tempat yang banyak makanannya dan juga ada lokasi sembunyi yang aman dan kering. Dia akan berpindah jika tidak menemukan makanan.”

Tips Agar Rumah Tidak Dimasuki Ular

Untuk mencegah agar kasus ular masuk rumah seperti yang sering kali terjadi di Depok, menurut Welman ada beberapa langkah yang harus diperhatikan.

Di antaranya, adalah dengan membersihkan area kebun, pindahkan pot, tata ulang. Tumpukan material dirapihkan, sampah buang secara rutin.

“Jika induk kobra menaruh telur di halaman rumah, bisa diketahui jika kita menyapu, menggali, memindahkan material yang tidak terawat,” katanya.

Cara berikutnya yang bisa dilakukan agar ular tidak masuk rumah adalah dengan memasang lem tikus untuk mengurangi atau membasmi tikus di rumah dan sekitar. “Tikus memgeluakan bau kotoran yang memancing ular datang.”

Baca Juga: Bikin Gugup Prajurit Kopassus, Jenderal Mulyono Rela Buang Pangkat

Saat setelah hujan selalu cek lubang-lubang di halaman dan sekitar rumah yang kering dengan diterangi senter.

“Semprot wewangian ruangan di dalam rumah. Wangi menyengat tidak disukai oleh ular karena mengganggu penciumannya terhadap mangsa dan musuh. Wangi menyengat hanya efektif di ruang tertutup. Bukan di teras atau halaman rumah terbuka,” tuturnya.

Warga Depok Catat, Ini Nomor Telepon Penanganan Ular

Kemudian, siapkan alat bantu menangani ular dirumah. Pelajari mengenali atau identifikasi ular sekitar rumah.

“Latih keluarga yang harus dilakukan jika bertemu ular. Stop jangan pegang ular, jangan bunuh ular. Amati pergerakan ular dan jika memungkinkan isolasi pergerakan ular, panggil tim snake rescue terdekat,” katanya.

Jika dalam kondisi darurat bisa menghubungi tim rescue Damkar Depok atau Snake Rescue terdekat. Call center Indonesia Snake Rescue di wa.me/628176800446.

Juga dapat menghubungi kantor pemadam kebakaran bidang penyelamatan terdekat atau komunitas reptile di sekitar.

“Tidak perlu panik jika ada ular masuk ke rumah. Hindari menyentuh, memegang atau menangani ular jika tidak terlatih.”

Baca Juga: Nasib Tragis Penjaga SDN Sukatani 6, Dianiaya Rampok Dihadapan Anak Istri

Welman menambahkan, hanya 20 persen ular di sekitar kita yang berbisa tinggi. 80 persen lainya ular yang tidak berbahaya dan justru bermanfaat bagi lingkungan.

“Di Pulau Jawa, ada 110 an spesies ular, yang berbisa tinggi sekitar 16-17 spesies saja. Kenali, waspada, tapi jangan bunuh ular,” terangnya. (rul/*)