Wamenkes Dante: Keterisian Tempat Tidur Pasien COVID Mulai Flat

Wakil Menteri Wamenkes RI, dokter Dante Saksono Harbuwono (Istimewa)
Wakil Menteri Wamenkes RI, dokter Dante Saksono Harbuwono (Istimewa)

JAKARTA- Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI, dokter Dante Saksono Harbuwono menyebut, keterisian tempat tidur pasien COVID-19 di sejumlah rumah sakit di Jakarta mulai mendatar.

Kabar baik itu diungkapkan Wamenkes Dante dalam siaran virtual yang dikutip pada Minggu 18 Juli 2021.

Ia menyebut, mendatarnya keterisian tempat tidur itu dimungkinkan akibat adanya penambahan tempat tidur yang cukup signifikan.

Namun, ia tidak merinci secara detail berapa angka keterisian dan dalam berapa hari BOR itu mendatar.

“Ada kabar baik tentang belakangan ini bahwa BOR (Bed Occupancy Rate) rumah sakit sudah mulai flat di Jakarta,’” katanya.

Terkait hal itu, ia pun berharap angka pasien positif COVID-19 yang masuk rumah sakit untuk beberapa hari ke depan tidak terlalu masif lagi.

Wamenkes Dante Ungkap Penambahan BOR

Wamenkes Dante mengatakan, ada penambahan 1.000 tempat tidur di Wisma Haji.

“Ada penambahan kira-kira 1.000 tempat tidur di Wisma Haji, ini adalah 900 tempat tidur isolasi dan 100 tempat tidur disolasi. Ini bekerja sama antara Kementerian Kesehatan, Kementerian Agama, kemudian juga dengan BUMN,” jelasnya.

Dante juga mengatakan, Kementerian Kesehatan akan menambah 300 tempat tidur di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dan sekira 300 sampai 400 tempat tidur lagi di beberapa rumah sakit di Jakarta.

Sehingga total hampir terdapat penambahan 2.000 tempat tidur di seluruh rumah sakit di Jakarta.

Selain soal tempat tidur, pemerintah terus berupaya memenuhi kebutuhan oksigen untuk pasien positif COVID-19.

Wamenkes Dante mengungkapkan, kebutuhan oksigen harian sebelumnya mencapai sekira 400 ton per hari.

Dengan adanya peningkatan secara eksponensial pada kasus-kasus COVID-19 belakangan ini maka kebutuhan oksigen menjadi 5 kali lipat.

Baca Juga: Sambangi Depok, Kapolda Metro Jaya Sebar Bantuan Sembako

Untuk mengatasi hal tersebut, Kementerian Kesehatan bekerja sama dengan Kementerian Perindustrian melakukan rekonversi dari penggunaan oksigen untuk industry.

Sehingga sebesar 90 persen oksigen digunakan untuk kebutuhan medis, dan tinggal 10 persen lagi kebutuhan yang digunakan untuk kebutuhan industri.

Kementerian Kesehatan juga akan menambah sekira 20.000 sampai 30.000 oksigen konsentrator, dengan jumlah kira-kira 600 ton oksigen perhari yang akan dibutuhkan. (rul/*)