Wakil Sekretaris Komisi Dakwah MUI Pusat Dukung Polisi Ngaji Kitab Kuning

K.H. Khariri Makmun. (Foto: Dok Pribadi)

DEPOK—Kapolri baru, Komjen Listyo Sigit, akan mewajibkan anggota Polri untuk mengaji Kitab Kuning. Dukungan dari kiai pun mengalir untuk dirinya.

Diantaranya datang dari Wakil Sekretaris Komisi Dakwah MUI Pusat, K.H. Khariri Makmun. Menurut dia, rencana Kapolri baru itu perlu didukung sebagai khazanah Islam klasik.

“Bisa menambah spirit anggota Polri melawan terorisme dan menjauhkan agama dari budaya kekerasan,” ucap Pengasuh Pesantren Algebra, Ciawi, Bogor, kepada wartawan, Sabtu 23 Januari 2021.

Dibaca Juga: https://depoktoday.hops.id/melestarikan-tradisi-pesantren-dengan-kitab-kuning/

Ia menerangkan, Kitab Kuning dipahami sebagai mata rantai keilmuan Islam yang dapat bersambung. Yaitu, kata dia, hingga pemahaman keilmuan Islam masa tabiin dan sahabat.

Dengan kata lain, lanjut Kiai Khariri, memutuskan mata rantai Kitab Kuning sama artinya membuang sebagian sejarah intelektual umat.

“Sering kita mendengar sebuah hadist yang disabdakan oleh Rasulullah SAW Al-ulama warosatul anbiya yang artinya ulama adalah pewaris para Nabi. Apapun masalahnya, jawabnya adalah Kitab Kuning. Itulah ungkapan mudah untuk menggambarkan betapa luasnya khazanah dalam Kitab Kuning seperti dipahami kalangan Pesantren. Sehingga semua masalah dapat terselesaikan olehnya,” kata Wakil Direktur Eksekutif ICIS (International Conference of Islamic Scholars) ini.

Dia menambahkan, Kitab Kuning telah diajarkan di pesantren-pesantren di Indonesia sejak abad 18. Dikatakannya, Pesantren disinyalir merupakan hasil Islamisasi sistem pendidikan lokal yang berasal dari masa Hindu-Buddha di Nusantara.

Kala itu, lanjutnya, Lembaga Pendidikan lokal berupa padepokan dan dukuh banyak didirikan untuk mendidik para cantrik. Melalui proses dakwah yang dipelopori oleh Wali Songo, lanjutnya, padepokan-padepokan tersebut di akulturasi dengan nilai-nilai Islam.

Menurutnya, materi yang diajarkan pun diganti menjadi ilmu-ilmu yang bernapaskan Islam. Seiring dengan semakin meluasnya ajaran Islam di Nusantara, padepokan-padepokan tadi berganti nama menjadi pesantren.

“Karakter Islam Indonesia yang sejuk dan menekankan kedamaian salah satu kuncinya ada pada materi Kitab Kuning. Narasi Kitab Kuning yang menekankan pada kecintaan terhadap negara, memperkuat nasionalisme, reformasi akhlak dan dakwah dengan santun merupakan kekuatan dan karakter Islam di Nusantara,” terangnya.

Dikatakannya, Kitab Kuning telah berhasil membentuk karakter Islam Indonesia berpaham moderat. Terlebih lagi menjaga ajaran Islam ahli sunnah yang adaptif terhadap modernitas dan perkembangan zaman.

“Maka tak salah jika Kapolri baru Komisaris Jenderal Listyo Prabowo mewajibkan anggotanya belajar kitab kuning,” tutupnya.

(ahi)