UP Buka Program S1 Perkeretaapian

Universitas Pancasila (istimewa)

JAKARTA– Universitas Pancasila (UP) akhirnya resmi membuka ​​​Program Studi (Prodi) S-1 Teknik Perkeretaapian untuk menjawab tantangan perkembangan transportasi modern perkotaan berbasis rel.

Dekan Fakultas Teknik Universitas Pancasila (FTUP) Budhi M Suyitno mengungkapkan, terkait hal itu pihaknya sudah menyiapkan kerja sama dengan Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Masyarakat Perkeretaapian Indonesia (Maska), PT Inka, PT Adi Karya, dan sejumlah instansi terkait lainnya.

“Dengan menyinergikan akademisi dan praktisi di bidang perkeretaapian, kami ingin meningkatkan sumber daya manusia yang mumpuni di bidang tersebut,” ujarnya, Senin 25 November 2019

Mantan Menteri Perhubungan era Abdurahman Wahid itu menuturkan,

nantinya dosen-dosen yang membimbing Prodi S-1 tersebut berasal dari dalam UP dan pihak luar, seperti Maska dan dunia industri.

Sementara itu Rektor UP Prof Wahono Sumaryono mengatakan, pengajar-pengajar untuk Prodi Teknik Perkeretaapian sudah siap dan sarana dan prasarana juga sudah memadai. “Kami perlu membuka prodi-prodi baru sesuai dengan permintaan tuntutan jaman,” katanya.

Ke depan, lanjut Wahono, pihaknya juga bakal menyiapkan program studi baru yang sesuai dengan tuntutan pembangunan.

Ketua Pembina Yayasan Pendidikan dan Pembina UP Siswono Yudo Husodo mendukung penuh pembukaan Jurusan Teknik Perkeretaapian di kampus tersebut.

“Sampai hari ini untuk angkutan jarak jauh barang tidak ada yang lebih efisien dari kereta api. Begitu juga untuk angkutan manusia tidak ada yang lebih murah dari kereta api,” ujarnya

Siswono menilai, semua negara yang sukses ekonominya mempunyai jaringan kereta api yang luas. Seperti China sekarang membangun rel kereta api ke segala penjuru yang bermuara dari pelabuhan untuk jalur ekspor maupun impor.

“Selain itu, negara India juga demikian, Amerika serikat juga membangun jalur rel kereta api dari timur ke barat melalui daerah pertanian di mana hasil kebun langsung masuk gerbong menyambung ke rel kereta api untuk sampai ke pelabuhan,” tuturnya

Ia menyebutkan, Indonesia saat ini masih belum menggunakan angkutan rel kereta api secara maksimal sehingga ongkosnya menjadi mahal. “Jadi jangka panjang nanti Indonesia adalah pembangunan kereta api yang menjangkau semua jaringan,” ujarnya

Terakit hal itu, pihaknya pun menilai, berbagai pola skema pembiayaan yang mengurangi beban penggunaan APBN perlu dikaji lebih lanjut, salah satunya adalah Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) untuk membantu mendorong pembangunan prasarana dan sarana transportasi perkotaan berbasis rel.

Atas dasar itulah, Masyarakat Perkeretaapian Indonesia (MASKA) berkerja sama dengan Universitas Pancasila menyelenggarakan Lokakarya tentang Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha dalam Pembangunan Transportasi Perkotaan Berbasis Rel. (rul/*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here