UI Kukuhkan Dua Guru Besar

0
204
Rektor Universitas Indonesia (UI) Prof. Muhammad Anis memimpin upacara pengukuhan terhadap dua guru besar atau profesor di Balai Sidang UI, Depok pada Rabu 6 November 2019. (istimewa)

DEPOK-Rektor Universitas Indonesia (UI) Prof. Muhammad Anis memimpin upacara pengukuhan terhadap dua guru besar atau profesor di Balai Sidang UI, Depok pada Rabu 6 November 2019.

Adapun kedua nama itu yakni, Prof. Ellyza Herda yang merupakan guru besar tetap Fakultas Kedokteran Gigi UI, dengan kepakaran bidang Ilmu Material Kedokteran Gigi dan Prof. Sandra Fikawati yang merupakan guru besar tetap Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKMUI) dengan kepakaran gizi kesehatan masyarakat.

Pada paparanya, Prof. Ellyza menyampaikan perkembangan resin komposit sebagai material restorasi gigi masa depan sebagai judul pidato pengukuhannya. Menurut Ellyza, berdasarkan hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi karies di Indonesia rata-rata adalah 88,8 persen.

Untuk itu, diperlukan program pencegahan karies gigi. Namun apabila karies telah terjadi, diperlukan tindakan pembuatan restorasi gigi. Sampai saat ini, resin komposit merupakan material restorasi gigi yang memberikan sifat estetik terbaik dan sifat mekanik yang tinggi dibandingkan restorasi direk sewarna gigi lainnya.

“Pemakaian Resin komposit sebagai material restorasi gigi semakin luas demikian pula indikasi pemakaiannnya,” katanya

Namun lamanya restorasi bertahan di dalam mulut dapat berkurang karena berkembangnya lesikaries baru (karies sekunder) pada interface gigi-restorasi atau terjadi frakturmaterial.

“Hal ini terjadi tidak selalu karena defisiensi material. Tingkat keterampilan profesional dan kesadaran pasien tentang diet yang baik dan kesehatan gigi dan mulut juga menentukan suksesnya restorasi gigi,” ujarnya

Ellyza menjelaskan, pengalaman klinis menunjukkan bahwa meningkatkan daya tahan resin komposit terhadap fraktur maupun melibatkan mekanisme proteksi untuk mengurangi resiko berkembangnya karies sangat penting untuk memperpanjang umur restorasi.

Usaha untuk mengatasi kekurangan resin komposit seperti prosedur penambalan yang bertahap, polymerization shrinkage, marginal gap dan karies sekunder terus dilakukan sampai saat ini.

Pengembangan Self-adhesive restorative composite, remineralizing composite dan antibacterialresin composite memberikan harapan untuk menjadi resin komposit masa depan sebagai material restorasi gigi dengan sifat fisik, mekanik, kimia, biologi serta bioaktif yang memenuhi standar.

“Untuk itu, diperlukan riset transdisciplinary yang harus terus dikembangkan dengan melibatkan berbagai pakar keilmuan terkait.”

Sementara itu, Prof. Sandra menyampaikan pidato pengukuhan berjudul Peran Gizi Ibu Laktasi dalam Pencegahan Stunting: Peluang yang Terabaikan.

Ia menjelaskan, masalah kurang gizi, khususnya stunting, telah ditetapkan sebagai masalah nasional dan pencegahannya menjadi prioritas nasional. WHO menyebutkan, bahwa stunting dimulai pada 1000 hari pertama kehidupan (1000 HPK) dan terkait dengan banyak faktor, termasuk status lingkungan, sosial ekonomi, infeksi, penyakit menular, defisiensi mikronutrien, asupan makanan, dan status gizi ibu.

Dalam hal ini, Prof. Sandra menyoroti Intervensi Gerakan Nasional 1000 HPK berupa promosi menyusui kepada kelompok laktasi yang hanya berupa konseling individu dan kelompok. Intervensi ini kurang jika dibandingkan dengan kelompok lainnya.

“Dalam upaya pencegahan stunting yang komprehensif, maka diperlukan pula optimalisasi gizi ibu laktasi guna mencegah mulai terjadinya stunting di periode bayi 0-6 bulan,” katanya

Ia menyebutkan, saat ini promosi ASI eksklusif 6 bulan sangat gencar dilakukan oleh pemerintah dan oleh banyak organisasi nonprofit tetapi tidak demikian halnya dengan promosi konsumsi gizi untuk ibu laktasi.

“Selama ini, status gizi ibu laktasi masih sangat kurang diperhatikan, sedangkan hal tersebut tidak boleh diabaikan dan perlu mendapat perhatian utama.”

Di Indonesia, studi tentang konsumsi energi ibu laktasi secara konsisten menunjukkan rendahnya asupan energi ibu laktasi yang jauh di bawah rekomendasi. Dengan kondisi Kurang Energi Kronis (KEK) dan anemia tinggi pada kehamilan dan asupan energi rendah dan terus menurun di masa menyusui, maka intervensi gizi kepada ibu laktasi sangat diperlukan.

Keberhasilan ASI eksklusif 6 bulan tergantung pada banyak faktor termasuk status gizi dan konsumsi gizi ibu laktasi. Berbagai penelitian skala mikro yang dilakukan di Indonesia menunjukkan bahwa kondisi gizi ibu laktasi yang kurang menyebabkan ibu tidak mampu memberikan ASI secara optimal.

Lebih lanjut Sandra merekomendasikan kepada pemerintah agar berkomitmen untuk mengalokasikan anggaran yang cukup untuk daerah marginal di dalam pemenuhan gizi ibu hamil dan ibu menyusui serta membangun kerjasama dan komitmen lintas sektor sebagai upaya meningkatkan status gizi dan asupan energi ibu hamil dan laktasi. (rul/*)

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here