UI Ajarkan Cara Mencegah Penyebaran HIV/AIDS

Ilustrasi HIV-AIDS (istimewa)

MARGONDA-Tim Pengabdian Masyarakat (Pengmas) Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI) yang terdiri dari sejumlah mahasiswa dan dosen menggelar aksi nyata bagi masyarakat bertemakan Pencegahan Penyebaran HIV/AIDS.

Pada kegiatan itu, para sejumlah civitas UI ini memberikan informasi kepada masyarakat mengenai resiko penyebaran serta mengubah paradigma masyarakat tentang penyakit HIV dan AIDS melalui penyuluhan kebijakan. Kegiatan ini dilaksanakan di Sekolah  Master (Masjid dan Terminal Depok) dengan target siswa-siswi SMP dan SMA, yang dihadiri 300 peserta belum lama ini.

Ketua Tim Pengmas FHUI Wahyu Andrianto menuturkan, diselenggarakannya kegiatan ini dilatarbelakangi karena sejak tahun 2016 jumlah penderita penyakit mematikan HIV dan AIDS semakin meningkat. Hingga bulan Juli 2019, setidaknya tercatat 790 warga Depok berstatus positif terjangkit virus HIV dan AIDS.

Menurut data yang didapat dari LSM Kuldesak (Kumpulan dengan Segala Aksi Kemanusiaan) setiap tahunya rata-rata jumlah penderita baru bertambah sejumlah 50 orang lebih. Hal itulah yang membuat Pengmas FHUI bekerjasama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sengaja menggelar penyuluhan ini.

“Kasus infeksi virus HIV dan AIDS paling banyak terjadi pada kaum ibu rumah tangga, anak-anak dan balita, jika sebelumnya virus HIV dan AIDS dikenal menular pada kalangan pengguna narkotika, pelaku seks bebas dan LGBT, kini mulai merambak pada keluarga melalui perkawinan,” katanya, Selasa 29 Oktober 2019

Disis lain, upaya Pemerintah Daerah dalam melakukan deteksi dini seringkali mendapat perlawanan dari masyarakat karena enggan untuk memeriksa status HIV nya secara gratis.

Penyuluhan dari sisi medis dan patologis diberikan oleh dr.Amelia dimana materi penyuluhan diberikan secara tematis dan interaktif menggunakan metode CBL (Collaborative Based Learning).

Hal tersebut mempermudah para peserta untuk memahami materi lebih dalam yang diharapkan dapat merubah mindset mereka terhadap penyakit HIV dan AIDS agar dapat lebih waspada.

Populasi anak dipilih karena dipandang merupakan populasi paling rentan untuk menjadi penderita HIV dan AIDS baru, ketika virus ini ditularkan dari ibu ke anak, gejala virus HIV dan AIDS tidak langsung muncul pada tubuh penderita anak, melainkan akan terinkubasi dahulu hingga penderita beranjak dewasa.

“Setelah dilakukannya program sosialisasi ini diharapkan para peserta dapat tersadarkan secara pengetahuan dan budaya, sehingga dapat membentuk generasi mendatang yang peduli terhadap bahaya penyebaran Virus HIV dan AIDS,” ujar Wahyu (*red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here