Tragedi Bom Beji Depok, Aksi Teror Gagal Kelompok Radikal

Lokasi ledakan bom Beji pada 2012 lalu. (Foto: Istimewa)
Lokasi ledakan bom Beji pada 2012 lalu. (Foto: Istimewa)

DepokToday- Sembilan tahun lalu, atau sekira awal September 2012, publik sempat dibuat heboh dengan peristiwa ledakan bom yang terjadi di sebuah rumah bertuliskan Yayasan Yatim Piatu Pondok Bidara, Jalan Nusantara Raya, Beji, Depok.

Dari kejadian itu, dua orang dilaporkan mengalami luka ringan sedangkan seorang lainnya luka berat. Belakangan diketahui, rupanya ledakan tersebut terkait dengan jaringan teroris.

Melansir VOA Indonesia, bom rakitan yang ditemukan di Depok dan Tambora mirip dengan yang digunakan dalam beberapa peristiwa pengeboman di masa lalu.

“Ada kemiripan dalam sistem kerja, hanya bungkusnya saja yang berbeda. Jika dulu ada gotri, kali ini diganti dengan paku, mur dan baut. Dan kalo dulu bom itu diletakkan di wadah yang kemudian dibawa dengan mobil, sekarang lebih variatif, seperti di ikat pinggang, pipa peralon ukuran kecil hingga sedang dan sebagainya,” kata Brigjen Boy Rafli Amar yang kala itu menjabat sebagai Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri pada Rabu, 12 September 2012.

Kronologi Bom Beji

Lantas seperti apa kronologi ledakan bom Beji yang sempat membuat Jalan Nusantara dan sekitarnya kala itu ditutup oleh aparat. Berikut ulasannya:

Sabtu, 8 September 2012. Melansir dari detik.com, sekira pukul 21:05 WIB, ledakan sangat kencang terdengar dari sebuah bangunan di Jalan Nusantara Raya No 63, Beji, Depok. Bangunan itu diketahui merupakan Yayasan Yatim Piatu Pondok Bidara.

Tak lama berselang setelah ledakan tersebut, warga melihat dua orang berlari keluar dari rumah yang jadi kantor yayasan itu. Bukan hanya dua pria saja yang dilihat warga kabur dari lokasi ledakan.

Baca Juga: Detik-detik Pabrik Karung Terbakar, Begini Kondisi Pekerja di Dalamnya

Tetapi sebuah mobil pun terlihat langsung tancap gas dari lokasi kejadian begitu ledakan mengguncang. Mobil yang diidentifikasi berjenis Kijang warna hitam itu, mengangkut sejumlah orang.

Menurut salah seorang saksi, Dede, ledakan terjadi sekira pukul 21:05 WIB. Saat itu warga mendengar ledakan keras, dan tak lama kemudian ada beberapa pria lari keluar. Seorang dari mereka memakai baju hitam dengan punggung berdarah, seorang lagi memakai kemeja sambil berteriak kiamat.

Ilustrasi teroris (Foto Istimewa)
Ilustrasi teroris (Foto Istimewa)

Sekira pukul 21:15 WIB, delapan orang warga masuk ke dalam rumah setelah melihat asap putih keluar dari bangunan tersebut. Dari tempat itu, warga mengevakuasi lima orang yang ada di dalam rumah. Satu orang ditemukan kritis dengan punggung terbakar dan tangan luka parah.

Sekira pukul 21:45 WIB, sejumlah polisi datang ke lokasi. Mereka mengamankan TKP dan memasang garis pembatas. Warga berkerumun di sekitar lokasi dan mengakibatkan lalin di Jalan Nusantara Raya macet. Korban luka dilarikan ke rumah sakit terdekat.

Selang beberapa saat kemudian, sekira pukul 22:15 WIB, mobil Tim Gegana datang ke lokasi ledakan dan mulai melakukan olah TKP.

Target Gagal Bom Istana Hingga Mako Brimob

Tak butuh waktu lama, polisi akhirnya berhasil meringkus para pelaku. Diduga, di rumah tersebut mereka sedang menyiapkan bom yang bakal digunakan untuk serangkaian aksi teror di sejumlah tempat. Namun, bom tersebut keburu meledak.

Dari kasus itu, Pengadilan Negeri Kota Depok mengadili tiga pelaku bom Beji. Mereka masing-masing berinisial MY, AA, dan AS.

Ketiga terdakwa divonis berbeda. MY divonis 5,6 tahun, lebih rendah dari tuntutan jaksa, yakni 8 tahun.

Kemudian AA divonis 7 tahun penjara, potong masa tahanan. Vonis ini 3 tahun lebih rendah dibanding tuntutan jaksa

Sedangkan AS divonis 8 tahun penjara. Kala itu, jaksa mendakwa AS sebagai pemimpin dan pendoktrin kelompok teroris ini.

Dalam surat dakwaan, jaksa menyebutkan jika AA merupakan pengantin yang merencanakan pengeboman di beberapa tempat, seperti Mako Brimob Kelapa Dua Depok, Istana Negara, DPR, dan Mapolres Jakarta Pusat. Sementara MY berperan sebagai pengajar AA dalam meracik bom. (rul/*)