Tertipu Ratusan Juta, Seorang Pengusaha Laporkan Rekan Bisnis ke Polisi

Ilustrasi penipuan investasi bodong (Istimewa)
Ilustrasi penipuan investasi bodong (Istimewa)

Direktur PT. Multi Coco Indonesia, Ady Indra Pawennari melaporkan dua rekan bisnisnya yakni Yusnita Nurlaini yang merupakan Direktur PT. Kanall Mulia Mandiri (KMM) dan Syarifudin Mapiase Komisaris PT. Bara Lestari Papua (BLP) ke polisi.

Keduanya dilaporkan atas dugaan tindak pidana penipuan kerjasama investasi dan penerbitan cek kosong.

Dalam Laporan Polisi Nomor : LP/45/IV/2020/Sat Reskrim, tanggal 16 April 2020 yang diterima, pelapor menyampaikan ihwal penipuan yang dialaminya bermula dari pertemuannya dengan Zulkhairi dan Achmad Yani di salah satu hotel di Jakarta sekitar bulan Februari 2020.

Pada pertemuan itu, Zulkhairi memperkenalkan Achmad Yani sebagai orang kepercayaan petinggi sebuah perusahaan pembiayaan investasi yang berkantor pusat di Jepang dan menawarkan kerjasama pembiayaan investasi di Indonesia.

Zulkhairi yang merupakan kolega dari Ady, ini akhirnya tergiur dengan cerita Achmad Yani dan digiring menemui Syarifudin Mapiase yang merupakan Komisaris PT Bara Lestari Papua.

Saat itu, Syarifudin diperkenalkan oleh Achmad Yani sebagai orang yang memiliki akses ke perusahaan pembiayaan investasi tersebut. Sementara, pembiayaan investasi yang disepakati adalah pembelian tanah seluas 29 Ha di Pulau Bintan, Kepulauan Riau.

“Akhirnya, disepakati kerjasama pembiayaan sebesar Rp50 Miliar. Sebanyak Rp17,4 Miliar digunakan untuk membeli tanah seluas 29 Ha dan sisanya Rp32,6 Miliar untuk pembiayaan investasi lainnya,” jelas Ady.

Ady menambahkan, tepat tanggal 20 Maret 2020, Ia ditelpon Zulkhairi bahwa untuk pengurusan pencairan dana pembiayaan investasi tersebut diperlukan biaya provisi dan lainnya sebesar Rp750 juta.

“Di sini saya mulai curiga. Saya akhirnya ke Jakarta dan ketemu dengan Achmad Yani, Yusman dan Zulkhairi. Ketiganya menyodorkan draft perjanjian dan meyakinkan saya bahwa pencairan dananya paling lama 3 hari. Akhirnya, saya setuju,” bebernya.

Sebetulnya, dalam perjanjian kerjasama investasi antara PT. Multi Coco Indonesia dengan PT. Kanall Mulia Mandiri, Ady hanya ingin membantu temannya, Zulkhairi. Semua perundingan dan kesepakatan kerjasama pembiayaan investasi itu, diputuskan oleh Zulkhairi.

“Saya itu hanya ingin membantu teman. Akhirnya, pada tanggal 23 Maret 2020, saya menandatangani perjanjian dan menyerahkan cek kontan senilai Rp750 juta kepada Yusnita dan Syarifudin di Wisma BNI 46,” katanya.

Setelah memasuki hari ketiga, Ady menghubungi Zulkhairi untuk memastikan dana pembiayaan kerjasama investasi tersebut dapat dicairkan. Ternyata, hingga memasuki hari ketujuh dana tersebut belum juga cair.

“Saya sudah punya firasat buruk, saya kena tipu. Tanggal 31 Maret 2020, saya telepon Zulkhairi dan memutuskan tak melanjutkan kerjasama investasi ini. Saya minta uang saya dikembalikan saja,” lanjutnya.

Setelah melewati pembicaraan yang alot, lanjut Ady, pada tanggal 11 April 2020, Direktur PT. KMM melalui Syarifudin menyerahkan cek cash yang diterbitkan Bank Mandiri Jakarta International Expo No. GY 536580 senilai Rp750 juta atas nama PT. Primatama Mandiri Abadi.

Namun, pada saat cek tersebut akan dicairkan, pihak bank menolak lantaran rekening tersebut sudah lama ditutup.

“Tanpa berpikir panjang lagi, saya putuskan membuat laporan polisi pada hari itu juga. Saya khawatir, jika ini dibiarkan akan semakin banyak korban lagi yang berjatuhan,” tegasnya.

Kepala Unit Reserse Kriminal Polsek Pancoran Jakarta Selatan Inspektur Satu Wahidin membenarkan laporan tersebut. Ia mengaku sudah beberapa kali melayangkan surat panggilan kepada terlapor, namun yang bersangkutan belum pernah datang.

“Kami masih lakukan pengecekan,” ujarnya ketika dikonfirmasi.

(BRY)