Terpopuler DepokToday, 29 September 2021: KKB Semakin Buat Repot, Patung Soeharto dan Pahlawan Revolusi Hilang

Akibat kebrutalan KKB (Foto: Istimewa)
Akibat kebrutalan KKB (Foto: Istimewa)

DepokToday – DepokToday merangkum berita terpopuler pada Rabu pagi, 29 September 2021. Pertama, pemberontakan KKB semakin membuat repot aparat TNI-Polri, ulahnya semakin beringas. Seperti aksi pembakaran pemukiman warga belum lama ini.

Terpopuler kedua, patung Soeharto dan dua pahlawan revolusi AH Nasution serta Sarwo Edhie Wibowo hilang dari Markas Kostrad.

Selanjutnya, dari kesehatan, waspadai serangan jantung jika mengalami empat tanda ini di dalam tubuh.

Berikut ringkasan berita terpopuler di DepokToday pada Rabu pagi:

1. KKB Semakin Buat TNI-Polri Kerepotan, Giliran Rumah Warga Dekat Polsek yang Dibakar

Perlawanan Kelompok Kriminal Bersenjata atau KKB di Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua tidak berhenti. Seolah ingin menunjukan kekuatannya, personel TNI dan Polri yang diturunkan di sana tidak membikin perlawanan KKB kendor, malah yang terbaru mereka makin sadis untuk menyerang dan membunuh.

Belum lama ini, KKB kembali menembak mati seorang anggota polisi. Kemudian melanjutkan aksi membakar dua rumah warga di Kampung Pomding, Distrik Kiwirok, Pegunungan Bintang.

Melansir dari Suara.com, Kapolres Pegunungan Bintang, AKBP Cahyo Sukarnito membenarkan pembakaran rumah warga di kampung itu. Kampung Pomding terletak di atas bukit. Persis di belakang Mapolsek kiwirok.

“Saat ini kami mendapatkan laporan adanya 2 rumah warga dibakar KKB. Jumlah pasti selanjutnya masih terus dimonitor,” katanya.

Pada kejadian sebelumnya, kontak tembak terjadi di depan Polsek Kiwirok Kabupaten Pegunungan Bintang dengan KKB pimpinan Lamek Alipki Taplo. Kontak tembak terjadi saat personel gabungan TNI-Polri sedang melakukan penjagaan di Polsek Kiwirok.

Dari kontak tembak tersebut mengakibatkan gugurnya 1 personel Satgas Nemangkawi atas nama Bharatu Anumerta Muhammad Kurniadi Sutio yang mendapatkan luka tembak di bawah ketiak sebelah kanan.

Jenazah Muhammad langsung dievakuasi dengan helikopter Polri untuk dibawa ke Oksibil, ibu kota Kabupaten Pegunungan Bintang dan selanjutnya dibawa ke Jayapura untuk dikirim ke kampung halamannya di Medan, Sumatera Utara.

“Personel gabungan di lapangan tetap melakukan pengejaran terhadap KKB Lamek Alipki Taplo,” Kamal menjelaskan.

Sebagai informasi, pada kejadian sebelumnya, sejumlah bangunan juga dibakar, bahkan hingga menewaskan tenaga medis.

Pada kejadian itu, sebelum evakuasi jenazah nakes bernama Suster Gabriela, korban sebelumnya sempat melompat ke dalam jurang ketika KKB menyerang Distrik Kiwirok Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua, pada Senin 13 September 2021.

Suster Gabriela melompat karena KKB telah membakar Puskesmas Kiwirok dan sejumlah fasilitas lain di lokasi seperti Kantor Bank, Kantor Distrik hingga Sekolah Dasar.

Tak hanya itu KKB juga mengepung tenaga kesehatan dan menganiayanya. Dalam peristiwa penyerangan tersebut Suster Gabriela ditemukan tewas di jurang. Sedangkan empat tenaga medis lainnya mengalami luka dan satu mantri hilang.

2. Patung Soeharto, AH Nasution, Sarwo Edhie Hilang, Dudung: Tidak Benar

Diorama patung Pahlawan Revolusi yaitu Jenderal AH Nasution, Mayjen Soeharto dan Kolonel Sarwo Edhie Wibowo dikabarkan hilang di Markas Kostrad.

Dilansir Republika.co.id dari akun YouTube Hersubeno Point, yang menyebut hilangnya diorama para penumpas G30S PKI itu adalah mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo, ketika menjadi pembicara webinar bertema ‘TNI Vs PKI’ di Jakarta Minggu 26 September 2021 malam.

Gatot menyebut, diorama yang hilang tersebut adalah momen ketika Mayjen Soeharto memerintahkan Komandan RPKAD Kolonel Sarwo Edhie Wibowo untuk menumpas PKI.

Dalam diorama itu terlihat Mayjen Soeharto berdiri di hadapan Sarwo Edhie. Kemudian, di sebelahnya tampak Jenderal AH Nasution tengah duduk sambil memegang tongkat, dan mengangkat kakinya ke meja dengan diperban, usai ditembak personel Cakrabirawa.

Mantan orang nomor satu di tubuh TNI ini sebelumnya sempat tidak pecaya dengan kabar itu, sehingga mengutus seseorang ke Markas Kostrad tersebut untuk memeriksa kebenarannya.

Gatot mengatakan, utusannya itu kemudian mengirimkan foto ruangan yang dimaksud sudah dalam keadaan kosong.

Presiden ke 2 RI, Soeharto bersama sang istri Tien Soeharto (Foto: Istimewa)
Presiden ke 2 RI, Soeharto bersama sang istri Tien Soeharto (Foto: Istimewa)

“Ini sudah ada penyusupan paham-paham kiri, paham-paham komunis di tubuh TNI,” kata Gatot.

“Mengapa saya sampaikan ini? Untuk mengingatkan bahwa indikasi seperti ini apabila dibiarkan maka peristiwa kelam tahun 65 bisa terjadi lagi. Betapa menyakitkan dan menyedihkan. Yang korban rakyat juga,” ucap Gatot.

Masih dalam portal berita yang sama, Panglima Kostrad Letnan Jenderal TNI Dudung Abdurrachman menepis kabar tersebut. Diorama Pahlawan Revolusi itu tidaklah sengaja dihilangkan karena ada paham PKI di tubuh TNI.

“Tidak benar tudingan bahwa karena patung diorama itu sudah tidak ada diindikasikan bahwa AD telah disusupi oleh PKI. Itu tudingan yang keji terhadap kami,” kata Dudung.

Dudung mengatakan, tiga patung diorama, yaitu Jenderal TNI AH Nasution (Menteri Pertahanan dan Keamanan), Mayjen TNI Soeharto (Panglima Kostrad), dan Kolonel Inf Sarwo Edhie Wibowo (Komandan RPKAD atau sekarang Kopassus), itu diminta kembali oleh pembuatnya yakni Pangkostrad periode 2011-2012 Letjen (Purn)  Azmyn Yusri (AY) Nasution.

“Saya hargai alasan pribadi Letjen TNI (Purn) AY Nasution, yang merasa berdosa membuat patung-patung tersebut menurut keyakinan agamanya. Jadi, saya tidak bisa menolak permintaan yang bersangkutan,” jelas Dudung.

Dudung menyebut, patung-patung itu memang sebelumnya ada di dalam Museum Darma Bhakti Kostrad, Namun, kata dia, patung itu hilang karena diminta kembali oleh pembuatnya.

Dia pun menolak bila penarikan tiga patung itu kemudian disimpulkan sebagai bentuk TNI melupakan peristiwa sejarah pemberontakan G30S/PKI tahun 1965. “Itu sama sekali tidak benar. Saya dan Letjen TNI (Purn) AY Nasution mempunyai komitmen yang sama tidak akan melupakan peristiwa terbunuhnya para jenderal senior TNI AD dan perwira pertama Kapten Piere Tendean dalam peristiwa itu,” kata Dudung.

Mantan Pangdam Jaya ini malah menilai, seharusnya Gatot selaku prajurit senior dapat melakukan klarifikasi terlebih dahulu kepada Kostrad maupun institusi terkait sebelum membeberkannya ke publik. Pasalnya, pernyataan Gatot tersebut dapat menimbulkan fitnah dan kegaduhan di tengah masyarakat Indonesia.

“Dalam Islam disebut tabayun agar tidak menimbulkan prasangka buruk yang membuat fitnah, dan menimbulkan kegaduhan terhadap umat dan bangsa,” kata Dudung.

3. Waspadai Keseringan Alami Keluhan Ini, Jadi Gejala Serangan Jantung

Penyakit jantung atau serangan jantung merupakan penyebab kematian tertinggi di dunia. Penyebabnya, karena arteri jantung yang tersumbat. Tapi dalam beberapa kasus, ada penderita yang hanya tersumbat sebagian.

Melansir dari Suara.com, para peneliti telah memperingatkan bahwa ketika penyumbatan di arteri ini bertahap, beberapa tanda mungkin memberikan petunjuk pada hari-hari menjelang insiden.

Ketidaknyamanan di daerah perut ini mungkin sebanding dengan mual perut kosong atau penuh, merasa kembung atau sakit perut. Perasaan tidak nyaman di daerah perut ini dapat terjadi baik pada laki-laki maupun perempuan.

Sakit perut didiagnosis pada 50 persen kasus serangan jantung dan terjadi dalam beberapa episode.

Ini berarti kram dapat mereda dan kembali untuk waktu yang singkat, dan ketegangan fisik selama fase ini dapat memperburuk sakit perut.

Ilustrasi serangan jantung (Foto: Istimewa)
Ilustrasi serangan jantung (Foto: Istimewa)

Tanda-tanda awal serangan jantung lainnya mungkin termasuk kelelahan, yang lebih sering dilaporkan pada perempuan daripada laki-laki.

Rambut rontok, sesak napas dan insomnia adalah tanda-tanda awal lainnya dari kondisi yang terlalu sering diabaikan.

Sebuah studi tahun 2019 yang diterbitkan dalam European Journal of Cardiovascular Nursing, menemukan bahwa meski 57 persen pasien melaporkan “onset gejala mendadak”, sisanya 43 persen mengalami “onset gejala bertahap”.

Penulis penelitian menjelaskan bahwa kedua jenis gejala dianggap darurat medis dan memerlukan intervensi medis segera.

Dia melanjutkan untuk mencatat bahwa gejalanya seringkali dapat menyesatkan pasien dan profesional medis.

“Saya tahu dokter yang telah menempatkan serangan jantung mereka sendiri ke gangguan pencernaan dan pergi tidur untuk sementara waktu,” jelasnya.

“Kadang-kadang jika Anda mengalami serangan jantung, Anda merasa ingin sakit – mereka pikir itu semua karena apa yang mungkin mereka makan.”

“Biasanya, itu tidak berlangsung selama beberapa hari, tetapi beberapa jam, berbeda dengan serangan jantung ‘big bang’ ketika dalam beberapa saat Anda tahu ada sesuatu yang berubah.”

Selain itu, mesin EKG mungkin tidak mendeteksi gejala bertahap ini sebagai abnormal, yang selanjutnya dapat menunda pengobatan.