Teror OTK di Aceh, Pos Polisi Diberondong AK 47, Komandan BAIS Tewas

Sebuah pos polisi di Panton Reu, wilayah Polresta Aceh Barat, Provinsi Aceh, ditembaki oleh orang tak dikenal (OTK) pada Kamis, pukul 03.15 WIB. Foto: Humas Polda Aceh
Sebuah pos polisi di Panton Reu, wilayah Polresta Aceh Barat, Provinsi Aceh, ditembaki oleh orang tak dikenal (OTK) pada Kamis, pukul 03.15 WIB. Foto: Humas Polda Aceh

DepokToday- Pos Polisi di Aceh tiba-tiba diserang orang tak dikenal atau OTK. Peristiwa yang terjadi pada dini hari, sekira pukul 03.15 WIB, Kamis, 28 Oktober 2021 itu membuat warga sekitar trauma.

Melansir Hops.id jaringan DepokToday.com, Penyerangan diduga dilakukan dengan menggunakan senjata laras panjang jenis AK-47, dan M-16, serta SS1.

Meski tak ada warga sekitar yang menjadi korban jiwa maupun korban luka, dikabarkan bodi mobil milik seorang warga yang berada dekat dengan Pospol tersebut ikut diberondong peluru.

“Saat letusan senjata, saya dan keluarga ikut terbangun karena besarnya suara tembakan,” kata Arsyad, warga Manggie, Kecamatan Panton Reu menyitat Serambinews.com, dikutip pada Jumat, 28 Oktober 2021.

Baca Juga: Terpopuler DepokToday, 29 Oktober 2021: Jokowi Punya Kakak di Korea, Presiden Korea Traktir Jokowi

Arsyad mengaku dari peristiwa itu turut menderita kerugian lantaran mobil kesayanganya turut jadi sasaran peluru panas dari OTK.

Pria berusia 32 tahun ini lantas mengaku masih merasa trauma karena seakan-akan telah terjadi konflik lagi di Aceh, sebagaimana yang terjadi beberapa tahun lalu.

Terlebih belakangan ini, kata Arsyad, masih ada sejumlah pihak yang melakukan penyerangan dengan senjata api.

“Sebab masih ada pihak yang melakukan penyerangan dengan menggunakan senjata api,” ujarnya.

Baca Juga: Dampak Hujan Deras, Simpang Mampang Macet Parah Karena Banjir

Selain mengenai mobil milik warga, puluhan peluru yang dilepaskan juga mengenai dinding tembok pos polisi bahkan sebagian peluru menembus jendela hingga mengenai TV yang ada di dalam pos tersebut.

Komandan Tim BAIS Ditembak di Aceh

Pasca terjadi penembakan di pos polisi Aceh Barat, Komandan Tim (Dantim) Badan Intelijen Strategis (Bais) Pidie, Kapten Abdul Majid dikabarkan ditembak oleh orang tak dikenal (OTK) pada sore hari.

Aksi penembakan tersebut terjadi sekitar pukul 17:15 waktu setempat. Akibat kejadian itu, perwira pertama TNI warga Batuphat Barat, Kecamatan Muarara Satu, Kota Lhoksumawe tersebut, dikabarkan meninggal dunia.

Penembakan itu sendiri terjadi di kawasan Jalan Lhok Krincong, Gampong Lhok panah, Kecamatan Sakti, Kabupaten Pidie.

Baca Juga: Musim Penghujan, Penyakit DBD Menghantui, Begini Cara Antisipasinya

Dari informasi yang diterima, penembakan terhadap anggota TNI oleh OTK ini, kini sudah beredar di banyak grup aplikasi pesan singkat WhatsApp (WA).

Ketika insiden penembakan itu terjadi, korban diketahui sedang mengemudi sebuah mobil Toyota Fortuner warna putih dengan nomor polisi BL 1598 NH ke arah TKP.

Kemudian sekitar pukul 17:15 waktu setempat terdengar suara letusan senjata api (senpi) sebanyak satu kali.

Baca Juga: Begini Jawaban Menohok Ketua Kadin Depok Soal Tuduhan Balaguna

Pada saat itu, seorang saksi yang diketahui bernama Syarwan sedang mengendarai sepeda motor bersama istrinya diberhentikan oleh teman korban, untuk meminta pertolongan membawa korban.

Korban pun dinaikan ke sepeda motor ke arah perumahan penduduk Gampong Lhok Panah, untuk di bawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sigli, Aceh.

Kendati begitu, nyawa korban tak tertolong lagi akibat ada luka tembak di bagian perut

Trauma GAM

Sebagaimana diketahui, warga Aceh sempat merasakan pahitnya konflik yang terjadi di wilayahnya pada tahun 1976 hingga 2005. Dari peristiwa itu setidaknya hampir 15.000 orang jadi korban jiwa.

Gerakan Aceh Merdeka atau GAM adalah gerakan separatisme bersenjata yng bertujuan agar Aceh terlepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). GAM dibentuk pada 4 Desember 1976 dan dipimpin oleh Hasan di Tirto.

Konflik yang terjadi di Aceh disebabkan oleh beberapa hal, yaitu perbedaan pendapat tentang hukum Islam, ketidakpuasan atas distribusi sumber daya alam Aceh, dan peningkatan jumlah orang Jawa di Aceh. (rul/*)