Tentang Puasa

PERINTAH puasa telah dijelaskan dalam Alquran surat Al-Baqarah ayat 183: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.

Ayat tersebut turun pada tahun kedua Hijrah, pada bulan Sya’ban atau bulan ke-8 dalam kalender Hijriah.

Baru pada ayat berikutnya dijelaskan kapan pelaksanaan bulan puasa yaitu dalam surat Al- Baqarah ayat 185. Ayat itu juga menjelaskan ketentuan bagaimana jika orang dalam keadaan sakit dan musafir, apakah perlu puasa atau tidak.

Berikut ini ada beberapa pertanyaan yang berkaitan tentang puasa, dan siapa serta bagaimana kondisi seseorang yang perlu puasa atau tidak.

PERTANYAAN 1: Apakah bepergian pasti boleh tidak berpuasa?

JAWABAN: Berpergian yang boleh tidak berpuasa adalah bepergian yang :
1. Bukan maksiat
2. Jarak yang dituju mencapai masafatul qoshri (89 KM)
3. Berangkatnya dari rumah sebelum fajar shubuh

REFERENSI : Kitab At-taqrirotus sadidah hal 439

PERTANYAAN 2: Apa kriteria sakit yang membolehkan tidak berpuasa?

JAWABAN: Sakit yang dikhawatirkan dengan tetap melaksanakan akan menyebabkan kematian, atau menyebabkan sembuhnya menjadi lama, atau akan menambah sakitnya, atau menyebabkan tidak berfungsinya anggota badan yang sakit.

REFERENSI : At-taqrirotus sadidah hal 439

PERTANYAAN 3: Bagaimana jika ada orang meninggal dunia mempunya hutang puasa?

JAWABAN: Apabila ketika punya hutang puasa ada imkanul qodlo (kesempatan untuk qodlo) tapi belum dilakukan, maka boleh dua kemungkinan yaitu diqodloi oleh keluarganya atau dibayari fidyah untuk seharinya satu mud.

REFERENSI : Kitab Attaqrirotus sadidah hal 459

PERTANYAAN 4: Bagaimana hukumnya orang yang berpuasa memakai obat tetes mata, apakah membatalkan puasa atau tidak, padahal selang beberapa menit seakan terasa obatnya itu di tenggorokan?

JAWABAN: puasa tetap sah dan tidak batal, sekalipun obat tersebut terasa di tenggorokan, karena meresapnya obat dari mata ke tenggorokan itu melalui pori-pori bukan melalui jalan yang tembus seperti mulut.

REFERENSI: Kitab Al-Majmu’ syarah Muhadzdzab juz 6 hal 348

PERTANYAAN 5: Bagaimana dengan orang yang mengobati telinga yang sakit dengan cara memasukkan obat ke lubang telinga, apa membatalkan puasa apa tidak?

JAWABAN: Tidak membatalkan puasa, apabila tersebut benar-benar dapat mengurangi rasa sakit, karena yang demikian termasuk kategori dhorurot.

REFERENSI: Kitab Bughyatul Mustarsyidin hal 111

PERTANYAAN 6: Bagaimana hukumnya puasa orang yang mandi jinabat kemasukan air ke telinganya?

JAWABAN: kalau orang yang sedang mandi jinabat itu telah berusaha untuk menghindari kemasukan air dengan mencondongkan kepalanya, tapi tetep saja kemasukan, maka puasanya sah, kecuali kalau mandi itu adalah mandi sunnah maka jadi batal puasanya.

REFERENSI: Kitab Nihayatuz zain hal 188

Bagi Anda yang ingin konsultasi dapat mengirimkan pertanyaan ke inbox Facebook Depok Today, kirim pesan via Instagram DepokTodayCom, atau ke email: [email protected] Identitas Anda bisa disebutkan dan jika tidak berkenan karena sesuatu hal, juga dapat kami samarkan. Terima kasih.

(mdk/*)