Tasripin, Orang Jawa Tulen yang Derajatnya Setara Ratu Belanda

Tasripin dan orang Jawa lainnya Foto: Okezone
Tasripin dan orang Jawa lainnya Foto: Okezone

DEPOK- Siapa sangka, ternyata ada pula orang asli Jawa yang derajatnya pernah dianggap setara dengan Ratu Belanda. Ia adalah Tasripin, pengusaha pribumi asli Semarang, Jawa Tengah.

Lalu seperti apa sosok Tasripin itu? Melansir dari berbagai sumber, Tasripin adalah salah satu pengusaha yang cukup terkenal pada awal abad ke 20, selain sang Raja Gula, Oei Tiong Ham.

Tasripin lahir pada tahun 1834. Dilansir dari Unika.ac.id, Tasripin mengembangkan bisnisnya dengan membeli sejumlah tanah dari orang-orang Belanda. Maka tak heran, di kemudian hari, aset-aset Tasripin tersebar di sejumlah wilayah Kota Semarang.

Saking tajirnya, Tasripin pernah menjadi satu-satunya orang Jawa yang kaya pada saat itu. Sejumlah aset rumah yang dibeli Tasripin dari orang-orang Belanda hingga kini masih terjaga.

Dilansir dari serat.id, Tasripin merupakan pengusaha sukses. Keberhasilannya memiliki banyak aset rumah di Semarang tak lepas dari kesuksesannya dalam menjalankan beberapa bisnis seperti penyamakan kulit, hasil bumi, serta sewa menyewa tanah dan bangunan.

Tak hanya itu, Tasripin juga menjalankan usaha pengiriman barang di daerah Kota Lama Semarang.

Dilansir dari Merdeka.com, pakar Sejarah Semarang, Amen Budiman, mengatakan, bahwa aset tanah milik Tasripin tersebar di beberapa perkampungan Semarang, yaitu Kampung Kulitan, Gandekan, Gedungbobrok, Jayenggaten, Kepatihan, Pesantren, Sayangan, Kebon Kenap, Wotprau, Demangan, Bang Inggris, Kampung Cokro, Kampung Bedug, dan lain-lain.

Dalam catatan koran Bataviaasch Nieuwsblaad pada 11 Agustus 1919, nilai kekayaan aset warisan Tasripin mencapai 45 juta gulden.

Baca Juga: PPKM Bikin Tekor, Pengusaha Mall Minta Pemerintah Subsidi Gaji Pegawai

Salah satu usaha yang dijalankan Tasripin adalah bisnis kulit. Majunya bisnis kulit yang dijalankan Tasripin dan keluarganya pada awal tahun 1900-an membuatnya membutuhkan lebih banyak pekerja.

Dia pun kemudian mempekerjakan banyak orang yang diambil dari desa-desa di wilayah Semarang.

Dilansir dari Unika.ac.id, para pekerja ini kemudian ditempatkan pada sebuah rumah milik Tasripin yang disebut Pondok Boro. Pondok Boro merupakan bangunan sederhana yang terletak di pinggir Kali Semarang yang dapat menampung 20 orang pekerja.

Seiring berjalannya waktu, jumlah pekerja yang datang kala itu pun semakin banyak, sehingga mereka menempati aset-aset rumah lain yang dimiliki Tasripin.

Para pendatang yang menempati rumah Tasripin ini kemudian mendapat julukan sebagai Kaum Boro. Mereka telah menempati rumah itu secara turun-temurun.

Derajat Tasripin Setara Ratu Belanda

Kabar tentang seorang pribumi kaya raya bernama Tasripin rupanya terdengar hingga Negeri Belanda. Oleh Ratu Belanda Wilhelmina, dia diberikan sejumlah uang koin yang di kedua sisinya ada gambar wajah sang ratu.

Untuk mengapresiasi pemberian itu, Tasripin memasang beberapa uang koin itu di lantai rumah miliknya. Karena adanya uang koin ini, para serdadu Belanda tak pernah sekalipun menggeledah aset rumah milik Tasripin.

“Waktu itu, para serdadu Belanda rutin melakukan penggeledahan pada rumah-rumah di perkampungan. Namun rumah milik Tasripin tak pernah digeledah. Sebab jika mereka masuk rumahnya sama saja dengan menghina Ratu Belanda,” ucap sejarawan Universitas Negeri Semarang, Ufi Saraswati.

Salah satu rumah peninggalan Tasripin (Istimewa)
Salah satu rumah peninggalan Tasripin (Istimewa)

Walaupun kisah kejayaan Tasripin sudah berlalu, namun jejak-jejaknya masih bisa ditemukan hingga kini. Salah satunya adalah sebuah masjid yang berada di Kampung Kulitan, Semarang, yang bernama Masjid At-Taqwa.

Karena masih ada hubungannya dengan konglomerat pribumi itu, masjid tersebut juga dikenal dengan nama Masjid Tasripin. Menurut keterangan warga sekitar, dulunya masjid itu adalah sebuah langgar yang khusus dibangun sebagai tempat ibadah keluarga Tasripin dan juga para pekerjanya. (rul/*)