Tak Hanya Belajar Agama, Santri Kobong Abah Dedy Diajarkan Wirausaha

Gerobak untuk para santri berjualan keliling kampung.(DepokToday/Eru)

TAPOS-Persaingan dunia kerja di era industri 4.0 dirasa akan semakin berat. Hal ini dikarenakan makin banyaknya lulusan yang menjadi angkatan kerja. Namun, jumlah angkatan kerja ini belum sebanding dengan ketersediaan lapangan kerja.

Karena itu, para angkatan kerja ke depan diharapkan tidak hanya bisa mencari lowongan pekerjaan, namun juga menciptakan lapangan kerja bagi dirinya dan orang lain.

Pondok Pesantren Al Faaqih atau yang juga dikenal dengan sebutan Kobong Abah Dedy yang berlokasi di RT06/RW 05 Kelurahan Cilangkap, Kecamatan Tapos, berupaya menanamkan jiwa wirausaha atau entrepreneurship kepada para santri.

“Tepatnya Jumat, 11 Agustus 2020, di kobong ini disediakan sebanyak lima gerobak dorong untuk penjualan perdana Bakso Bakar Kobong. Gerobak ini disediakan untuk para santri berjualan keliling kampung,” ungkap Pimpinan Ponpes Al Faqiih, Abah Dedy Rahmat Sandi, Minggu (24/8/2020).

Lebih lanjut diutarakannya, usaha ini dijalankan santri dengan tujuan melatih para santrinya agar bisa hidup mandiri. Jadi, setelah lulus nanti, para santri selain mempunyai bekal ilmu agama, juga mempunyai bekal keahlian di bidang kewirausahaan.

“Kenapa bakso bakar dipilih sebagai usaha? Dari sekian banyak varian makanan atau kuliner, tentunya semua masyarakat dari anak-anak hingga orang dewasa sudah sangat akrab dengan bakso. Karena itu, dengan makanan yang audah akrab dengan keseharian masyarakat, usaha ini diharapkan bisa terus berkembang,” paparnya.

Ke depan, Abah Dedy pun berencana akan menambah gerobak bakso agar paling tidak di setiap kelurahan di Kota Depok, ada yang berjualan Bakso Bakar Kobong miliknya.

“Mudah-mudahan ini bisa menjadi sedikit solusi membantu pemerintah menciptakan jiwa wirausaha sejak dini, sehingga mereka nanti setelah lulus mampu menciptakan lapangan pekerjaan dan mengurangi angka pengangguran,” harapnya.

Abah Dedy menyampaikan dalam proses wirausaha ini, mulai dari pembuatan gerobak, membuat bakso bakar, proses pengemasan, hingga menjual melibatkan peran semua santri.

“Ini untuk mendapatkan kesamaan pemahaman mengenai usaha yang dijalankan. Jika mereka sudah mempunyai rasa memiliki pasti akan timbul rasa tangggung jawab yang tinggi. Bagaimana menjual Bakso Bakar Kobong agar laku di pasaran. Untuk harga cukup terjangkau, yakni satu tusuk Rp2000 dan satu porsi isi lima tusuk Rp10.000,” jelasnya.

Seorang santri asal Wonosobo Jawa Tengah, Wisnu mengatakan selama ini aktivitas sehari- hari di kobong layaknya seorang santri, yakni mengikuti kegiatan pembelajaran dan keagamaan.

“Setelah Abah mempunyai rencana akan membuat usaha bakso bakar, saya dan santri yang lain menyambut gembira. Tentunya karena selain mendapat ilmu agama, kami semuanya juga mendapatkan ilmu untuk menjadi wirausaha bagaimana cara memcari nafkah,” katanya.

(eru)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here