Tak Banyak yang Tahu, Ternyata Ini Fakta Menarik Si Pitung

Ilustrasi si Pitung, jawara dari tanah Betawi (Foto: Istimewa)
Ilustrasi si Pitung, jawara dari tanah Betawi (Foto: Istimewa)

DepokToday- Bagi masyarakat Jakarta dan sekitarnya, nama si Pitung tentu sudah tak asing lagi ditelinga. Sosoknya digambarkan sebagai pahlawan yang jago bela diri dan kerap membantu orang susah. Lantas seperti apakah fakta dibalik jawara tersohor itu.

Budayawan Betawi, Ridwan Saidi, mengungkapkan, ada sederet fakta yang tak diketahui banyak orang tentang si Pitung. Umumnya, jika bicara Pitung maka yang paling dikenal adalah kesaktiannya.

Bahkan, banyak yang percaya jika tubuh sang jawara tersebut sampai harus dipotong tujuh bagian agar tak bisa bangkit lagi karena sakit saktinya. Namun menurut Ridwan itu tidak benar.

“Kalau bicara sejarah harus ada rujukan nggak bisa dongeng. Sosok pitung ada tujuh biji, kuburannya ada di Palembang ada di mana-mana, bahkan ada yang bilang di Scandinavia, Eropa Utara, menurut saya itu diabaikan saja,” katanya dikutip DepokToday.com dari akun channel YouTube Macan Idealis pada Selasa, 2 November 2021.

Baca Juga: Pesugihan Bisa Dibatalkan, Begini Tipu Daya Setan Modus Penyembuhan

Ridwan Saidi mengungkapkan, salah satu rujukan yang bisa dipertanggungjawabkan terkait sosok Pitung adalah kajian Margreet van Tiil, peneliti asal Belanda yang melakukan pendalaman terkait Pitung pada tahun 1984, dan hasil penelitiannya dimuat pada tahun yang sama.

“Dia melakukan penelitian melalui surat-surat kabar dan catatan Kepolisian Belanda. Jadi relatif dapat dipertanggungjawabkan walaupun kita harus kritis terhadap tulisan dia,” ujarnya.

Berdasarkan penelitian tersebut, diketahui sepak terjang Pitung relatif singkat, hanya sekira tahun 1886 sampai 1894. Dan sampai sekarang tidak diketahui garis keturunannya.

Asal Mula Nama Si Pitung

Dalam penelitiannya itu, Margreet van Till, berhasil menemukan korespondensi pitung dengan pengurus masjid Al Atik di Bukit Duri, ketika Pitung dipenjara di kawasan tersebut.

“Disitu ditemukan fakta bahwa nama dia (Pitung) sebenarnya Solihun, kalau abad ke 19 ada orang Betawi namanya Solihun cukup unik, jarang, dulu namanya asal mudah diucapkan, misalnya, ngkik kan gampang.”

Baca Juga: Jurus Silat Jalan Enam, Beladiri Mematikan dari Sawangan Depok

Ridwan Saidi menuturkan, Pitung adalah julukan. Sejumlah koran terbitan Belanda ada yang menyebut Pitung, namun ada pula yang memanggilnya Betung.

“Tapi saya kira yang benar Betung, itu diambil dari nama bambu betung. Kan bambu betung itu hitam, nah posturnya Pitung yang kekar seperti bambu betung. Itulah asal mula julukannya.”

Duel Lawan Jago Glodok

Alumni FISIP UI itu menyebut, sampai saat ini belum diketahui secara pasti Pitung berasal dari mana.

Namun diperkirakan, ia berasal dari wilayah Kampung Gusti, tak jauh dari kawasan Bandengan, Jakarta Barat. Hal itu dikaitkan dengan persitiwa pertama yang terjadi pada tahun 1886 di jembatan yang sekarag diberi nama Jembatan Si Pitung, lokasinya ada di Jalan Bandengan.

“Di situ Pitung menyeberang jembatan yang ukurannya cuma muat satu badan. Menjadi adat dimanapun juga kalau sudah orang masuk jembatan satu badan, dari arah berlawan jangan masuk,” katanya.

Budayawan Betawi, Ridwan Saidi (kiri) sarung biru. (Foto: Tangkapan layar YouTube)
Budayawan Betawi, Ridwan Saidi (kiri) sarung biru. (Foto: Tangkapan layar YouTube)

Akan tetapi, ada seorang pria keturunan Tionghoa yang tidak mau mengalah. Bukannya minta maaf, pria China tersebut malah pamer kekuatan mistik dengan memutar pantatnya ke depan.

“Nah Pitung dibegitukan dia marah, dia cabutlah goloknya, ditebaslah tuh China, dia rebah, gempar Kampung Bandengan. Nggak banyak saksi sebenarnya yang tahu, Pitung menghilang, tapi orang bilang Pitung.”

Atas kejadian itu, Pitung akhirnya menjadi buronan dan ditangkap Polisi Belanda. Ia kemudian dibawa ke penjara Glodok yang sekarang menjadi kawasan Harco.

“Kemudian dia disidang, dia nggak kena hukuman mati karena nggak ada orang yang bersedia jadi saksi. Lantas dia dihukum 8 tahun, dia dibuang ke Bui Mester, penjara di kawasan Bukit Duri,” tuturnya.

Di situ, Pitung melakukan korespondensi dengan pengurus Masjid Al Atik, surat menyurat. Pertanyaan yang muncul adalah, Pitung belajar dimana surat menyurat?

“Kita simpulkan Pitung ini anak Kampung Gusti, kampung yang orang-orang di sana profesinya menulis, menulis perjanjian dagang dan macam-macam. Pitung bisa gitu berarti dia anak Kampung Gusti,” jelasnya.

“Peristiwa pembunuhan jago Glodok itu kan nggak jauh dari Kampung Gusti. Dari situ bisa disimpulkan bahwa dia bisa baca tulis berarti orang sana,” sambungnya.

Kabur dari Penjara Bunuh Demang Belanda

Pada suatu ketika, Pitung yang masih dipenjara mendapat kabar jika saudaranya yang bernama Ji Ih dibunuh oleh Demang Kebayoran. Ridwan Saidi menyebut, Ji Ih bukanlah jawara seperti yang dikisahkan dalam film, Ji Ih hanyalah pedagang biasa.

“Ya silahkan film mau bikin apa, kita bicara sejarah. Si Demang ini motifnya cari muka, nah dicarilah si Demang Master Cornelis oleh si Pitung.”

Baca Juga: Ketika Tim Jaguar Ditantang Duel Hingga Dikerjai Gerombolan Pemabuk

Saat itu, kata Ridwan Saidi, Pitung nekat kabur dari penjara dengan tujuan balas dendam atas nyawa saudaranya tersebut. Menurut Ridwan Saidi, Pitung berhasil lolos bukan karena kesaktian yang dimiliki tapi memang karena lemahnya penjagaan.

“Menurut saya itu nggak pakai ilmu-ilmuan, karena pengamanan lemah aja. Tahun 65-an kan banyak juga tahanan yang lolos dari sana,” ujarnya

“Lantas dia cari Demang Mester Cornelis dan dia tembak dengan pistol. Mendapatkan pistol zaman itu mudah, karena banyak tentara Belanda yang menyewakan pistol itu. Jadi dia main beceng (pistol),” tuturnya lagi. Bersambung…