Tak Ada MA Negeri, Jargon Depok Kota Religius Dipertanyakan

Madrasah Negeri Depok (Istimewa)
Madrasah Negeri Depok (Istimewa)

PANCORAN MAS– Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), Babai Suhaimi menilai, slogan Depok sebagai kota religius yang digaungkan oleh Mohammad Idris sebagai wali kota tak sesuai dengan kenyataan dilapangan.

“Nah ini yang sangat luar biasa kontra produktif dengan jargon Kota Depok sebagai kota religius. Dibidang keagamaan apa yang dibangun jaman Pak Idris,” katanya dikutip pada Senin 2 November 2020

Babai mencontohkan, dijaman era kepemimpinan Mohammad Idris, Pemerintah Depok belum pernah membangun masjid. Padahal, menurutnya itu bisa dilakukan di lahan fasilitas sosial atau fasilitas umum yang ada di tingkat kecamatan.

“Kita ingat Bupati Bogor Pak Eddie Yoso Martadipura membangun Masjid Atta’awun di Puncak, Bogor. Itu kan salah satu contoh, kita di Depok apa yang kita bangun dibidang keagamaan,” ucap Babai

Kemudian, politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Depok ini menyebut, Idris minim perhatian terhadap madrasah maupun pondok pesantren.

“Pembangunan Madrasah Ibtidaiyah Negeri tidak ada, Madrasah Tsanawiyah Negeri tidak terbangun, Madrasah Aliyah Negeri tidak terbangun.”

Menarik Lainnya: Kritik Perhatian Dibidang Pendidikan, Babai: Idris Gagal

Kalaupun ada Madrasah Tsanawiyah Negeri, kata Babai hanya satu di Cilodong, dan itupun hibah dari Kabupten Bogor, bukan dibangun murni oleh Pemerintah Depok. Ironisnya lagi, sekolah itu juga sempat tidak diperhatikan.

“Sempat sekolah itu pernah belajar dilantai karena tidak memiliki meja belajar, coba bayangkan dimana letak religiusnya,” kata dia

Disisi lain, Babai mempertanyakan maraknya pembangunan apartemen di Kota Depok yang akhir-akhir ini justru kerap disalahgunakan. Beberapa kasus terkait pidana hingga prostitusi sempat mewarnai keberadaan sejumlah bangunan megah itu.

“Ini bukan salah apartemennya, saya tidak menyalahkan apartemen tapi saya menyalahkan sistem Kota Depok yang katanya kota religius sehingga apartemen tidak digunakan untuk hal-hal negatif oleh penghuninya.”

Terpisah, Mohammad Idris mengakui, indeks harapan atau kepuasan warga Depok terkait layanan masih cukup rendah. Penyebabnya ada banyak faktor, namun ia optimis bisa memenuhinya jika terpilih kembali bersama Imam Budi Hartono.

“Jadi banyak harapan-harapan kepinginnya orang Depok dan itu ada ukurannya. Diukur ternyata indeks harapan orang Depok jauh lebih tinggi dari indeks harapan orang Lamongan,” katanya saat menghadiri kampanye terbuka di Jalan Rawa Geni Poncol, Kelurahan Ratu Jaya, Kecamatan Cipayung, dikutip pada Senin 12 Oktober 2020

Adapun faktor penyebab, kata Idris, di antaranya adalah banyak pejabat tinggal di Kota Depok.

“Depok ini banyak juga pejabat-pejabat kementerian, banyak mantan-mantan kepala daerah ada di Depok, bahkan kominsioner anggota KPK juga ada di Depok, orang-orang BIN juga banyak di Depok.”

Menurutnya, itu berpengaruh besar pada tingkat harapan warga Depok terhadap kinerja pemerintah. “Kalau Sukabumi misalnya, Lamongan barangkali biasa-biasa aja,” ujarnya. (rul/*)