Strategi Diplomasi Indonesia Merespon Pemerintahan Baru Taliban

Direktur Kajian Strategis, Khariri Makmun.(Foto: Istimewa)
Direktur Kajian Strategis, Khariri Makmun.(Foto: Istimewa)

DepokToday-Afganistan di bawah kepemimpinan Taliban saat ini menyisakan sejumlah permasalahan seperti ekonomi, sosial, keamanan dan lainnya.

Indonesia yang memiliki hubungan baik dengan Afghanistan diharapkan punya peran dalam perdamaian di negara tersebut.

BACA JUGA: Begini Video Pasukan Taliban Kuasai Istana Presiden Afghanistan

Seperti yang diucapkan oleh Direktur Kajian Strategis, Khariri Makmun, seusai acara Dipantara Strategic Webinar Series 2 dengan tema “Diplomasi Indonesia Merespon Pemerintahan Baru Afganistan”.

Ia mengungkapkan ada beberapa upaya bagi Indonesia dalam merespon Afganistan saat ini. Menurutnya, perlu dibuat forum terbatas yang mengkombinasikan antara Kementerian Luar Negeri dengan Ormas Islam seperti NU.

Yaitu, kata dia, mendorog masuknya Indonesia dalam transisi kepemimpinan. Ia menambahkan, perlunya menghidupkan intrafaith dialogue dengan Taliban.

“Ini sebagai upaya membuka dialog teologis dan diskusi internal dengan berbagai pendekatan metodologi wawasan keislaman,” katanya.

Untuk itu, lanjutnya, Indonesia perlu segera masuk ke Afganistan dan jangan menunggu terlalu lama situasi afganistan menjadi semakin rumit.

“Tentunya, strategi diplomasi Indonesia harus di framing dengan pola pendekatan yang selaras dengan budaya dan kearifan lokal,” ujarnya.

BACA JUGA: Berhasil Kuasai Afghanistan, Taliban Mulai Pepet China

Pada acara yang sama, Direktur Asia Selatan dan Tengah Kemlu RI, Jatmiko Heru Prasetyo, menyatakan, Afganistan memiliki hubungan sejarah dengan Indonesia.

Dikatakan dia, Afganistan salah satu negara yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia. Dirinya mengatakan hubungan antara Indonesia dan Afganistan sudah terjalin lama.

“Kita masih wait and see dalam kepemimpinan Taliban di Afganistan ini. Meski begitu, kita tetap konsisten dalam menjalankan soft diplomasi menuju kedamaian, kesejahteraan bagi Afganistan,” papar Jatmiko.

“Ibu Menlu Retno juga pernah mengunjungi Afganistan menyampaikan bantuan kemanusiaan. Kita juga selama tiga tahun ke depan akan membantu dengan hal-hal yang disesuaikan dengan kebutuhan rakyat Afganistan,” sambungnya.

Jatmiko menerangkan, Indonesia mengetahui bahwa kondisi pendapatan domestik Afganistan sekitar 40% sedangkan bantuan dari Internasional 60%.

“Parahnya, pendapatan lebih kecil dibandingkan dengan pengeluaran yang menyebabkan negara ini defisit anggaran. Krisis pangan, krisis ekonomi, keamanan masih menyebabkan sejumlah pihak belum menjalankan bisnisnya. Meskipun negara ini dikenal dengan kaya kandungan mineralnya,” tuturnya.

Dipantara Strategic Webinar Series 2 dengan tema "Diplomasi Indonesia Merespon Pemerintahan Baru Afganistan".(Foto: Istimewa)
Dipantara Strategic Webinar Series 2 dengan tema “Diplomasi Indonesia Merespon Pemerintahan Baru Afganistan”.(Foto: Istimewa)

BACA JUGA: Terinspirasi Taliban Menang di Afghanistan, Beredar WA Bernada Provokasi di Indonesia

Hal senada diungkapkan Pengkaji Geopolitik dan Direktur Global Future Institute, Hendrajit. Menurutnya ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam menjalankan strategi diplomasi Indonesia dengan Afganistan.

Pertama, kebijakan saat ini harus berdasarkan pada geopolitik khusus pada lokasi geografis dan lokasi sumber daya alam.

Kedua, Taliban adalah katalisator sebetulnya dari pikiran-pikiran baru ke arah keseimbangan baru di Asia tengah dan Asia Selatan.

Untuk itu, lanjutnya, saatnya Indonesia menempatkan posisi di OKI dengan spirit Konferensi Asia-Afrika di Bandung dan Non Blok di Beograd.

“Sudah saatnya Indonesia harus menjadi bagian dari kekuatan perintis seperti pada Konferensi Asia-Afrika tahun 1955 dan gerakan non-blok 1961. Walaupun dengan tantangan baru dan menjawab tantangan tren global ke depan,” jelasnya.

BACA JUGA: Presiden Turki Siap Dukung Rezim Taliban di Afghanistan

Sementara itu, Wasekjen PBNU 2010-2015, K.H. Adnan Anwar, menegaskan, pihak Afganistan berharap respon Indonesia cepat masuk secara aktif ke dalam masa transisi.

Dia merincikan tujuh kali petinggi PBNU ke Afganistan dan bertemu faksi yang bertikai secara langsung telah mendengar aspirasi.

“Salah satunya, berharap Indonesia menjadi pemimpin di Afganistan yang bertikai. Indonesia dinilai sebagai Negara berpenduduk muslim terbesar tidak memiliki kepentingan lain di Afganistan. Indonesia benar-benar menjalankan UUD 45 dalam mewujudkan perdamaian dan keadilan,” tegasnya.

Sebagaimana diketahui bahwa sejumlah pemimpin Afganistan mendatangi PBNU. Bahkan, saat ini juga telah berdiri NU di Afganistan salah satu upaya mewujudkan Islam Rahmatan Lil Alamin.

Laporan: Ahmad