Sri Sultan HB IX, Raja Jawa yang Berani Menolak Tawaran Soeharto

Sosok Sri Sultan HB IX (Istimewa)
Sosok Sri Sultan HB IX (Istimewa)

DepokToday- Sosok Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) IX hingga kini masih memikat hati orang Jawa. Itu lantaran sikapnya yang dikenal sangat membumi meski mengenyam pendidikan barat dan bergaul dengan orang Eropa.

Banyak kisah tentang sosok Raja Yogyakarta tersebut. Salah satunya yang cukup menarik untuk diulas adalah ketegangan antara Sri Sultan HB IX dengan mantan Presiden Soeharto.

Dilansir dari goodnewsfromindonesia.id, meskipun mengenyam pendidikan barat dan bergaul dengan orang-orang Belanda, namun Sri Sultan Hamengku Buwono IX ternyata tidak pernah tercatat menggunakan kata-kata intelek melainkan cukup dengan ungkapan-ungkapan polos dan membumi agar bisa dipahami rakyatnya.

Jon Monfries, akademisi Australian National University mencatat, dari penelusuran di Belanda, sang calon raja dianggap kalem dan konservatif.

Di Belanda, Sri Sultan yang memiliki nama kecil Dorojatun itu mendalami ilmu hukum tata negara, sambil aktif mengikuti klub debat yang dipimpin Profesor Schrike.

Dirinya memang tidak berhubungan dengan mahasiswa radikal, namun terpilih sebagai presiden organisasi mahasiswa yang 90 persen anggotanya mahasiswa Belanda.

Memang keputusan ayahandanya, Sultan HB VIII mengirim anak-anaknya ke Belanda, termasuk Dorojatun adalah selain mempelajari ilmu-ilmu barat juga melatih jiwa kepemimpinan.

Ternyata pandangan visioner ini baru terbukti saat memasuki masa pendudukan Jepang dan lahirnya Republik Indonesia.

“Pendidikan kesederhanaan, rasionalitas dan disiplin ala Belanda tentu berguna dalam sisi lain. Inilah sikap yang kemudian dilakukan ketika memasuki masa pendudukan Jepang dan lahirnya Republik Indonesia. Pendidikan barat membuatnya bersikap demokratis, terbuka terhadap hal-hal baru dan gagasan pembaharuan,” jelas Ahkmad Khoirul Fahmi, pemerhati Sejarah Islam dalam Republika.

Memang awalnya sikap Dorojatun yang kalem dan konservatif dianggap akan menguntungkan bagi Belanda.

Karena dengan begitu ketika memerintah kelak, Dorojatun dinilai tidak akan berani pada pemerintah kolonial. Namun, nyatanya Belanda salah. Saat menjadi raja, kebijakannya malah menguntungkan republik dan melawan Belanda.

“Kalau anda mau merampas keraton, saya lebih suka mati,” tegas HB IX kepada petinggi Belanda suatu kali.

Sri Sultan Hamengku Buwono bersama Presiden Soekarno (Istimewa)
Sri Sultan Hamengku Buwono bersama Presiden Soekarno (Istimewa)

Dorojatun kemudian diangkat menjadi raja pada 18 Maret 1940 dengan gelar Ngarsadalem Sampeyandalem Hingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono Senapati Hing Ngalaga Ngabdurrahman Sayidin Panatagama Kalifatulah Hingkang Jumeneng Kaping Sanga.

Sebagai raja, HB IX meninggalkan sifat-sifat feodal dan tak segan keluar masuk pedesaan hingga Gunungkidul dan Kulonprogo (hal yang jarang dilakukan raja-raja pendahulunya) sehingga bisa dianggap sebagai pionir blusukan. Dirinya terbiasa menggunakan kendaraan sendiri tanpa pengawal.

Baca Juga: Skenario Presiden Soekarno di Balik Misi Rahasia Koes Plus ke Malaysia

Ketika Jepang menduduki Yogyakarta, 5 Maret 1942, untuk menghindari kerja paksa romusha, HB IX memerintahkan pembuatan proyek Selokan Mataram, yakni menyambungkan Sungai Progo dan Opak untuk irigasi.

Saat itu bahkan Sultan meminta dana kepada pemerintah Jepang untuk membangun saluran irigasi.

Berhasil, Jepang termakan siasat Sultan. Apalagi mereka dijanjikan jika hasil panen meningkat, tentu Jepang yang untung.

Pembangunan saluran air sepanjang puluhan kilometer ini menyedot ribuan pekerja. Maka rakyat Yogya pun selamat dari kewajiban romusha.

Menolak Suap

Terkenal dengan sikap yang tegas, ternyata saat HB IX mengemban amanat menjadi Menteri Koordinator Ekonomi, Keuangan, dan Industri Indonesia, masih saja ada pihak yang berani menyuap beliau dengan sebuah mobil Mercedes Benz dan sekoper penuh uang, demi melancarkan proses impor vetsin ke tanah air. Dengan geram beliau menolaknya mentah-mentah.

“Keterlaluan! Sungguh keterlaluan. Sampai begitu berani mereka mencoba menyuap saya, coba, sebuah mobil Mercedes Benz dan sekoper penuh uang. Berani disodorkan ke muka saya guna mendapatkan fasilitas yang mereka inginkan. Akibatnya dapat menghalangi Dwi Dharma dan Tjatur Karya Kabinet Ampera,” kata Sri Sultan dari Koleksi Surat Kabar Lama Perpustakaan Nasional RI.

Tawaran menggiurkan ini ditolak Sultan karena mempertimbangkan kondisi rakyat. Saat itu untuk membeli makanan pokok saja masih susah. Jika lebih mementingkan vetsin atau penyedap rasa, kemungkinan kas keuangan negara bisa terkena imbas.

Tawaran tersebut tentu membuat wajahnya merah padam dan penuh amarah karena sangat melukai perasaannya. Terlebih hal yang terkait dengan kondisi ekonomi rakyatnya kala itu.

“Coba pikir untuk apa impor 7 ton vetsin? rakyat lagi kekurangan bahan pokok terutama beras. Vetsin hanya berfungsi untuk membuat enak masakan. Apa yang dienakan jika makanan pokoknya saja sulit diperoleh,” geram Sang Sultan kala itu.

Sultan HB IX Selamatkan Ekonomi Bangsa

HB IX menjadi orang penting dalam pemerintahan republik sejak revolusi. Menjabat posisi menteri pun adalah hal biasa baginya. Dirinya pernah menjabat sebagai Menteri Negara, Menteri Pertahanan, hingga Wakil Perdana Menteri pada masa Orde Lama (Orla).

Setelah pamor Presiden Soekarno meredup, Soeharto, Adam Malik dan Sri Sultan Hamengkubuwana IX menjadi tritunggal penting selama periode awal rezim yang kelak dinamai Orde Baru (Orba).

Baca Juga: Aksi Nekat Tole Iskandar, Pemuda Depok yang Bikin Jatuh Pesawat NICA

Pada masa pemerintahan Orba, Sultan HB IX mempunyai peran dalam program stabilisasi dan rehabilitas perekonomian Indonesia.

Utang pemerintah sudah menumpuk. Pada 1966, beban cicilan pokok utang dan bunganya saja sudah 530 juta dolar AS.

Dari pembelian senjata Uni Soviet dan Cekoslowakia juga masih ada utang 2,4 miliar dolar AS. Sri Sultan punya jasa besar dalam negosiasi-negosiasi utang dan upaya menarik investasi pada masa-masa awal Orba.

Pada awal pemerintahan Orba, Sultan HB IX melihat pentingnya fondasi ekonomi dan percaya pada pentingnya dana modal asing. Dia juga disebut-sebut sebagai orang yang mempersiapkan blueprint ekonomi Orba.

Sultan HB IX memimpin delegasi ke Jepang mencari pinjaman uang.

Dirinya juga berkeliling Eropa dan Amerika untuk bertemu dengan berbagai lembaga, seperti IMF, Bank Dunia, dan Bank Pembangunan Asia.

Sebagai bagian dari Tritunggal Orba, bukan hal aneh jika Sultan Jogja menjadi wakil presiden daripada Soeharto pada 1973.

Setelah diangkat, foto sang raja Jawa pun terpampang di tiap kantor dan sekolah seluruh Indonesia

Selain bergulat dengan perbaikan ekonomi, Indonesia di awal 1970-an tengah memperbaiki hubungan dengan beberapa negara Asia seperti Malaysia dan Jepang.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Indonesia, Adam Malik dikenal cukup sukses dan mampu mendirikan ASEAN.

“Peranan Sri Sultan antara lain untuk menghilangkan kesan militerisme dalam kepemimpian Orba,” ungkap Frans Sedan yang terangkum dalam kumpulan tulisan untuk Sri Sultan, Tahta Untuk Rakyat.

Namun, jabatan wakil presiden yang diberikan kepada Sri Sultan tidak menutupi dominasi ABRI dalam kehidupan politik. Jabatan-jabatan non-militer tetap saja diisi tentara. Wapres memang Sri Sultan, tapi kekuasaan tertinggi tetap berada di tangan presiden.

“Sebagai Wakil Presiden, dia hanya menerima hanya sedikit tanggung jawab dan tanpa kekuasaan,” tulis Jhon Monfries dalam A Prince of Republic (2016).

Memang selama lima tahun, tak banyak terdengar peran Sultan. Padahal Soeharto sudah berjanji akan menjalankan pemerintahan Indonesia secara demokratis.

Tapi kalaupun kecewa dengan kekuasaannya yang sangat terbatas, Sri Sultan tak pernah mempertunjukannya.

Sultan yang Menolak Soeharto

Kabar itu tak disangka banyak orang. Sri Sultan HB IX menolak dipilih lagi sebagai wakil presiden. Di depan Sidang Umum MPR pada 12 Maret 1978, Sri Sultan telah menyampaikan alasan atas penolakan dipilihnya kembali dirinya mendampingi Presiden Soeharto pada periode 1978-1983.

“Pertimbangan ini saya ambil antara lain dengan menggunakan pertimbangan kesehatan saya dewasa ini. Pertimbangan lain setelah saya renungkan dalam-dalam adanya rasa tanggung jawab di mana tumbuh keinginan di dalam jiwa saya untuk memberikan bakti lebih besar kepada negara dan bangsa,” kata Sri Sultan XB IX.

“Hal ini hanya dapat saya laksanakan hanya apabila saya melepaskan diri dari hambatan resmi yang melekat pada jabatan wakil presiden.”

Padahal hingga hari-hari terakhir menjelang Sidang Umum, tak ada kabar soal penolakan Sri Sultan dicalonkan kembali.

Selain itu apakah benar masalah kesehatan menjadi alasan Sri Sultan menolak jadi wapres? Sampai akhir hayatnya, Sri Sultan tidak pernah terbuka soal penolakan mendadak tersebut.

Hal yang lebih jelas adalah hubungannya dengan Presiden Soeharto yang semakin renggang, makin dingin.

Mereka makin jarang bertemu. Soeharto juga jarang sekali minta pertimbangan Sri Sultan untuk berbagai kebijakan penting, seperti kenaikan harga bahan bakar.

Presiden ke 2 RI, Soeharto bersama sang istri Tien Soeharto (Foto: Istimewa)
Presiden ke 2 RI, Soeharto bersama sang istri Tien Soeharto (Foto: Istimewa)

Kabar memburuknya hubungan Presiden dengan wakilnya itu sampai juga ke telinga Ibu Negara Siti Hartinah atau Tien Soeharto. Kepada seorang menteri, Tien Soeharto menyampaikan keprihatinan.

Tapi semua sudah terlambat. Hubungan keduanya terlanjur beku.

Meski tak lagi mesra, Soeharto tetap menawarkan kembali posisi wakil presiden untuk lima tahun berikutnya kepada Sri Sultan.

Tak hanya sekali, tapi sampai berkali-kali Soeharto membujuk Sultan.

Penolakan semacam itu cukup menyakitkan bagi Soeharto sebagai orang Jawa. Tapi karena masih hormat kepada Sri Sultan selaku Raja Jawa, ia hanya bisa nurut.

Baca Juga: Kisah Tole Iskandar, Pemuda Depok yang Bikin Repot Serdadu Belanda

Meski sempat ada sedikit ‘gesekan’, hingga akhir hayatnya Sri Sultan masih tetap menjaga hubungan baik dengan Presiden Soeharto.

Setelah tak menjabat Wakil Presiden, dia tak pernah bicara buruk tentang Soeharto. Soeharto dalam autobiografinya juga mengatakan hubungannya dengan Sri Sultan tidak ada masalah, harmonis dan baik-baik saja. (rul/*)