Sri Mulyani Katakan Akan Ada Ancaman Baru di Dunia Seperti Covid-19

Menteri Keuangan atau Menkeu RI, Sri Mulyani. (Tangkapan layar Youtube Kemenkeu RI)
Menteri Keuangan atau Menkeu RI, Sri Mulyani. (Tangkapan layar Youtube Kemenkeu RI)

JAKARTA – Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani Indrawati menyebut, dunia akan menghadapi ancaman kedua setelah pandemi Covid-19, yaitu perubahan iklim atau climate change.

Menurut Sri Mulyani, perubahan iklim yang akan melanda dunia termasuk Indonesia dalam satu dekade ini, memiliki dampak yang sangat dahsyat dan diperkirakan ancaman catastrophic-nya (bencananya) akan sama dengan pandemi Covid-19.

Baca Juga : 159 Karyawan Ramayana Kena PHK Ditengah Wabah Corona

“Saat ini dunia dihadapkan dengan ancaman yang sama catastrophic-nya, yaitu climate change. Berbagai studi menunjukkan bahwa dampak dari climate change akan sangat dahsyat,” kata Sri Mulyani dalam diskusi webinar yang diselenggarakan oleh Universitas Indonesia, Jumat 11 Juni 2021.

Sri Mulyani mengatakan, mengacu dari laporan United Nations Environment Programme (UNEP), perubahan iklim itu dipicu dari naiknya suhu bumi 1,1 derajat celcius lebih hangat dibandingkan kondisi pra-industrialisasi. Dampaknya pun saat ini sudah mulai dirasakan di Indonesia dan berbagai belahan dunia.

“Berbagai belahan dunia melihat fenomena yang cukup catastrophic, seperti di Indonesia frekuensi hujan yang terus menerus hinga 18 bulan terakhir atau bencana yang berasal dari hidrometeorologi. Di kutub utara dan selatan fenomena cairnya es, di seluruh negara kekeringan berkepanjangan atau hujan yang terus-menerus,” katanya.

Baca Juga : COVID-19 Renggut Sembilan Nyawa Warga Depok Dalam Sehari

Ia menambahkan, pemicu dari naiknya suhu bumi adalah sumbangan emisi karbon, dan meski setiap negara termasuk Indonesia melakukan kontribusi penurunan emisi karbon pun, kenaikan suhu dan perubahan iklim tetap akan terjadi, sesuai dengan prediksi Paris Agreement.

“Dunia tidak akan terhindar dari kenaikan suhu, karena berdasarkan Nationally Determined Contributions (NDC) di Paris, bahwa dunia pada tahun 2030 suhunya naik menjadi 3,2 derajat celcius di atas pra-industri,” kata Sri Mulyani.

NDC adalah salah satu poin dalam Paris Agreement, kesepakatan itu telah diratifikasi Indonesia melalui UU Nomor 16 Tahun 2016. NDC lahir agar setiap negara bisa berkontribusi menurunkan emisi karbon masing-masing dan beradaptasi dengan dampak perubahan iklim.

Sri Mulyani mengatakan, para ahli menyebut bahwa kenaikan suhu maksimal yang bisa ditahan/dilalui oleh bumi hanya 1,5 hingga 2 derajat celcius saja. Dengan prediksi angka 3,2 derajat celcius, bisa pastikan suhu bumi akan melewati batas kenaikan.

“Dengan waktu kurang dari 10 tahun dunia dihadapkan pada climate change. Artinya, masyarakat dihadapkan pada konsekuensi, yaitu harus beradaptasi pada perubahan iklim atau aktif memitigasi risikonya,” katanya.

Baca Juga : PDIP Sentil Pemkot Soal Penanganan Covid-19

Sri Mulyani mengatakan, masyarakat Indonesia harus mampu mengantisipasi perubahan iklim tersebut dengan cara gotong-royong baik pemerintah, swasta, dan terutama masyarakat.

“Seperti melalui manajemen sampah, penggunaan energi, air bersih, dan lainnya,” kata Sri Mulyani.

Ia berharap, selain di pusat, di daerah juga semakin menunjukkan komitmen untuk isu climate change.

“Saat ini, terdapat tujuh daerah provinsi, tiga kabupaten, dan satu kota yang mendapatkan dukungan Kemenkeu melalui berbagai instrumen. Enam daerah lagi akan ditambahkan mengikuti program regional climate budget tagging (pendanaan anggaran iklim).” pungkasnya. (ade/*)