[Siaran Pers] Kolaborasi HDI dan Benih Baik untuk Pendidikan Anak di Panti Asuhan

Andy F. Noya (kiri) dan Budi Suryanto memaparkan bahwa hingga kini program pemberdayaan panti asuhan ini, sudah berhasil menjangkau 10.317 orang anak di 136 panti asuhan di Indonesia.(Foto: Istimewa)

JAKARTA—High Desert International (HDI) berkolaborasi dengan platform filantropi digital benihbaik.com meluncurkan inisiatif pengumpulan donasi dan penyediaan program pendidikan melalui program ‘Make Life Meaningful – Hope for a Better Life’ yang ditargetkan menjangkau lebih dari 10.000 anak panti asuhan di Indonesia.

HDI merupakan perusahaan social network marketing penyedia produk-produk kesehatan berbasis hasil perlebahan dan madu yang efektif bagi kehidupan modern yang dinamis. Sedangkan benihbaik.com adalah platform filantropi digital yang salah satunya pendirinya Tokoh Sosial, Andy F. Noya.

Dibaca Juga: https://depoktoday.hops.id/informa-salurkan-bantuan-untuk-panti-jompo-di-15-kota/

Brandon Chia selaku CEO dan Chairman HDI, menuturkan, sejak awal hadir di Indonesia pada tahun 1993, HDI memang berorientasi mensejahterakan masyarakat dan menolong sesama.

“Kali ini berkolaborasi dengan benihbaik.com, HDI meluncurkan program ‘Make Life Meaningful – Hope for a Better Life’, program pemberdayaan anak-anak panti asuhan yang hingga kini berhasil menjangkau 10.317 orang anak di 136 panti asuhan di Indonesia, tentu saja kami harap angka ini akan bertambah seiring dengan penambahan jumlah donasi yang berhasil kami kumpulkan,” papar Brandon Chia dalam konferensi pers virtual, Selasa 22 Desember 2020.

“Berkaca dari kesuksesan Sekolah Selamat Pagi Indonesia (Sekolah SPI), program ini diharap mampu membuat anak-anak panti asuhan memiliki cita-cita tinggi dan semangat, serta metode untuk mencapainya,” katanya.

Menurutnya, dinamika sosial di era pandemi COVID-19 membawa dampak tidak menguntungkan bagi banyak kelompok masyarakat, salah satunya adalah anak-anak panti asuhan yang mengalami kesulitan mengakses pendidikan.

Namun rupanya COVID-19 ini membuka peluang untuk menjadikan pendidikan di panti asuhan menjadi wacana yang membutuhkan perhatian khusus.

“Di masa krisis ekonomi ini, HDI berkomitmen mendampingi masyarakat Indonesia sepanjang masa krisis dan pemulihan pasca pandemi COVID-19. Selain itu, sudah jadi bagian corporate culture di HDI bahwa keuntungan kembali digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” paparnya.

Untuk mengeksekusi program ini, HDI menggandeng Yayasan Benih Baik Indonesia yang mengelola platform filantropi digital benihbaik.com yang didirikan Andy F. Noya, Khristiana Anggit Mustikaningrum, dan Firdaus Juli.

Tokoh Sosial, Andy F. Noya, di acara yang sama juga berharap masyarakat juga tertarik ikut mendukung program ini.

“Melalui program ‘Make Life Meaningful – Hope for a Better Life’, HDI dan benihbaik.com ingin memastikan bahwa semua anak di Indonesia, terutama yang kurang mampu, memiliki harapan dan kesempatan untuk sukses melalui motivasi, disiplin dan pendidikan,” jelas Andy F. Noya.

Kolaborasi Brandon Chia (CEO/Chairman HDI) dan Julianto Eka Putra (top leader HDI/Founder Sekolah SPI) kali ini menargetkan HDI bisa mendonasikan Rp 1 Miliar untuk pendidikan anak-anak panti asuhan di Indonesia.(Foto: Istimewa)

Arsitek dari program pendidikan anak-anak panti asuhan ini tak lain dan tak bukan adalah Julianto Eka Putra, pendiri Sekolah SPI dan peraih penghargaan Kick Andy Heroes 2018.

“HDI ingin anak-anak panti asuhan memiliki harapan yang sama, yaitu mimpi akan kehidupan yang lebih baik,” terang Julianto yang juga top leader HDI.

Butuh Perhatian Khusus

Berdasarkan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), tercatat hingga 2019 terdapat 106.406 anak di 4.864 Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA)/Panti Asuhan terdaftar di seluruh Indonesia.

Hasil penelitian Kemensos, UNICEF, dan Save The Children, memberi gambaran yang komprehensif tentang kualitas pengasuhan dalam panti asuhan di Indonesia.

Hasil penelitian itu membuktikan bahwa panti asuhan di antaranya lebih berfungsi sebagai lembaga penyedia akses pendidikan, daripada sebagai lembaga alternatif terakhir pengasuhan anak yang tidak dapat diasuh oleh orang tua atau keluarganya, sebab ternyata 90% anak yang tinggal di panti asuhan masih memiliki orang tua dan dikirim ke panti asuhan dengan alasan utama untuk melanjutkan pendidikan.

Berbicara di forum yang sama, Pengamat Kesejahteraan Sosial Universitas Padjadjaran, Budi M. Taftazani, mengakui motivasi dari keberadaan anak-anak dari keluarga tidak mampu di panti asuhan justru agar dapat memenuhi kebutuhan pendidikannya.

“Mereka umumnya masih memiliki orang tua, baik orang tua lengkap, maupun tunggal, akibatnya fungsi panti bergeser menjadi pengganti fungsi keluarga. Untuk itu, para penyelenggara panti seharusnya menjalankan Standar Nasional Pengasuhan Anak serta lembaganya sendiri sebaiknya disertifikasi,” ungkap Budi.

Budi juga menegaskan, anak-anak di panti asuhan membutuhkan perhatian khusus, karena berasal dari latar belakang yang terpisah dari keluarga dibandingkan anak-anak yang memiliki orang tua lengkap atau tinggal dengan keluarga.

Hal ini diakui juga oleh Suryanti, pengasuh Panti Asuhan Baitul Aitam di Cilacap, Jawa Tengah. Ia percaya anak-anak di panti asuhan adalah anak-anak yang istimewa sehingga membutuhkan perhatian khusus dalam pendidikannya.

“Di antara anak-anak ini, biasanya muncul problem rendahnya rasa percaya diri dan keterbatasan akses sebelumnya terhadap pendidikan yang harus diselesaikan terlebih dahulu di panti, sebelum mereka menerima pendidikan formal di sekolah. Itulah sebabnya kami terbuka menerima donasi ini dan mengikuti program pendidikan yang disiapkan HDI dan Benih Baik,” beber Suryanti.

Sejak 1 – 20 Desember 2020, enterpriser HDI telah berhasil mengumpulkan donasi senilai Rp 872.720.000 dan ditargetkan mencapai Rp1 Miliar di akhir Desember 2020. Publik juga bisa berdonasi melalui https://benihbaik.com/campaign/hdi-peduli-pendidikan.

(tdr/*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here