Serangan Jantung dan Panic Attack Berbeda, Gini Cara Atasinya

Ilustrasi serangan jantung (Foto: Istimewa)
Ilustrasi serangan jantung (Foto: Istimewa)

DepokToday- Gejala serangan jantung rupanya mirip dengan serangan rasa panik yang berlebihan atau panic attack. Biasanya, orang yang mengalami hal itu akan merasakan nyeri pada bagian dada.

Lantas apa yang membedakan serangan jantung dengan panic attack?

Salah satu dokter spesialis jantung Rumah Sakit Siloam Hospitals Jantung Diagram, dokter I Gusti Ayu Ratna Dewi menjelaskan, serangan jantung biasanya menimbulkan sejumlah efek yang khas.

Di antaranya, timbul rasa nyeri di areal dada yang cenderung terasa seperti ditekan beban berat, timbul saat aktivitas, lalu menyebar hingga rahang, leher atau bahu dengan keringat dingin yang mengiringi sejumlah gejala tersebut.

“Sedangkan serangan panik, nyeri di dada dirasakan cenderung seperti ditusuk yang dapat dilokalisir, muncul secara tiba-tiba, bahkan dapat muncul saat istirahat atau tidur, akibat stress atau rasa cemas ekstrim, disertai perasaan takut mati atau takut hilang kendali,” katanya dikutip pada Minggu 26 September 2021.

Baca Juga: Terpopuler DepokToday, 26 September 2021: Mayat Ibu dan Anak di Gema Pesona Depok, Pengalaman Gibran Hilang di Gunung Guntur

Wanita yang akrab disapa dokter Ratna ini mengatakan, perlu diingat bahwa timbulnya nyeri dada tidak selalu merupakan gejala serangan jantung, terutama jika Anda berusia muda dan terbebas dari berbagai faktor risiko penyakit jantung setelah melalui berbagai pemeriksaan.

Ia menyebut, serangan panik umumnya tidak berbahaya namun dapat mengganggu aktivitas jika berulang terus menerus.

Hal utama yang dapat dilakukan penderita pada saat terjadi serangan panik yaitu berusaha mengenali keadaan serangan panik, menenangkan diri melalui pengaturan napas, dan mencoba fokus dengan keadaan sekitar (grounding).

“Cobalah untuk menenangkan diri, tarik napas dalam dengan hidung lalu hembuskan secara perlahan melalui mulut,” ujarnya.

“Sembari mengatur napas, lakukan grounding yaitu fokus dengan lingkungan sekitar, dengan cara menyebutkan 3 hal yang dapat anda dengar, 3 hal yang dapat anda lihat, dan 3 hal yang dapat anda sentuh,” sambung dia.

Penyebab dan Penanganan Panic Attack

Menurut dokter Ratna, timbulnya kecemasan yang berlebihan atau merasa takut yang tidak terduga, tanpa pemicu yang jelas serta diikuti keadaan seperti nyeri dada, jantung berdebar cepat, pusing, tremor.

Kemudian, rasa seperti tercekik, ketakutan, berkeringat, gelisah dan lainnya, itu merupakan respon akibat stress yang berlebihan atau dikenal dengan panic attack (serangan panik).

Serangan panik ini umum disebabkan oleh adanya produksi hormon stress berlebih, akibat secara umum karena stress itu sendiri atau karena mengonsumsi alkohol atau zat kaffein secara berlebihan pun adanya faktor genetik.

“Nah frekuensi panik ini dapat dikurangi dengan berolahraga teratur, memenangkan diri dan fokus, tidur yang cukup atau melakukan relaksasi pernafasan melalui meditasi,” ujarnya.

Antisipasi Serangan Jantung

Ia juga mengingatkan, jika faktor resiko penyakit jantung seperti memiliki riwayat kolesterol, hipertensi, diabetes, atau genetik yang ternyata dimiliki pasien yang sedang mengalami panic attack, maka diagnosis heart attack belum dapat disingkirkan tanpa pemeriksaan lebih lanjut.

Baca Juga: Kondisi Mayat Ibu dan Anak di Gema Pesona Depok Tak Wajar, Ini Buktinya

Ratna mencontohkan, seperti misalnya rekam jantung atau enzim jantung. Namun tetap harus waspada apabila penderita memiliki faktor resiko penyakit jantung.

“Bisa jadi gejala panik yang Anda miliki memang betul serangan jantung. Ini patut diwaspadai dengan pemeriksaan rutin, mengingat serangan jantung bersifat berbahaya dan mengancam nyawa jika tidak segera ditangani.”

Dokter I Gusti Ayu Ratna Dewi. (DepokToday.com)
Dokter I Gusti Ayu Ratna Dewi. (DepokToday.com)

Untuk mengantisipasi hal yang tak diinginkan, dokter Ratna menyarankan, melakukan medical check up rutin sebagai deteksi dini untuk mencegah terjadinya serangan jantung. Sebab, pencegahan jauh lebih baik.

“Serangan panik dan serangan jantung bisa terjadi pada siapa saja. Jika mengalami nyeri dada, sesak napas atau jantung berdebar cepat, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter untuk melakukan usaha deteksi dini tersebut,” katanya. (rul/*)