Satgas COVID-19 Pusat Ingatkan Gelombang Ketiga: Jangan Lengah

Juru Bicara Satgas COVID-19, Wiku Adisasmito saat menyampaikan keterangan pers secara virtual, Kamis 22 Juli 2021. Foto: Tangkapan layar akun Youtube Sekretariat Presiden.
Juru Bicara Satgas COVID-19, Wiku Adisasmito saat menyampaikan keterangan pers secara virtual, Kamis 22 Juli 2021. Foto: Tangkapan layar akun Youtube Sekretariat Presiden.

DepokToday – Satgas Penanganan COVID-19 pusat menyampaikan jika tren perkembangan kasus di Indonesia baru saja melewati second wave atau puncak kedua pandemi pada Juli lalu. Sedangkan bagi sejumlah negara, kini tengah memasuki gelombang ketiga.

Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito mewanti-wanti masyarakat tidak lengah. Sebab, gelombang ketiga penyebaran COVID-19 ini bisa saja kembali terjadi.

“Tugas besar kita sekarang mempertahankan kurva yang tengah melandai ini. Terdapat 2 pelajaran utama menjadi catatan kita,” ungkap Wiku yang dilansir di situs covid-19.go.id, pada Kamis 16 September 2021.

Dia memaparkan, hal pertama pelajaran utama itu ialah, menjaga protokol kesehatan seiring pembukaan aktivitas sosial ekonomi masyarakat.

Bila mempelajari perkembangan varian delta yang terbukti lebih cepat menular baik di negara asalnya India dan Indonesia, menunjukkan butuh waktu di kedua negara untuk mencapai fase lonjakan.

Kedua, dengan melihat pola lonjakan di Indonesia yang berselang 3 bulan dari dunia serta negara lain seperti India, Malaysia dan Jepang, maka sikap waspada dan disiplin protokol kesehatan diharuskan agar tidak menyusul negara lain mengalami third wave, jangan sampai lengah mengahadapi COVID-19 yang bisa naik sewaktu-waktu.

“Kita dapat belajar dari India mengingat kasusnya melandai dalam beberapa bulan terakhir,” lanjut Wiku.

Disamping itu, Wiku memaparkan hasil pembelajaran terhadap periode lonjakan yang terjadi di masa pandemi COVID-19. Di dunia sejauh ini telah mengalami 3 puncak di tahun 2021.

Masing-masing terjadi pada bulan Januari (pertama), April (kedua) dan Agustus – September (ketiga).

Negara penyumbang total kasus positif terbanyak di dunia, Amerika Serikat saat ini tengah mengalami third wave dan kurvanya perlahan melandai.

Pola kenaikan kasus di Amerika Serikat, mirip pola kenaikan kasus dunia. Terutama pada kenaikan bulan Januari dan September di tahun 2021.

Terdapat sedikit perbedaan yang terjadi pada bulan April 2021, kasus COVID-19 dunia melonjak dan Amerika Serikat malah menurun.

Jepang dan Malaysia memiliki pola kenaikan kasus serupa dengan dunia dimana terjadi kenaikan 3 kali lonjakan kasus pada Januari, April dan Agustus -September. Jepang sudah menurun, namun Malaysia masih berada di puncak ketiga.

Perkembangan kasus yang paling berbeda dengan negara-negara lainnya adalah di India yang mengalami lonjakan kasus pertama pada September 2020.

Namun, pada tahun 2021 dimana negara lain mengalami puncak, India malah menurun dan mengalami puncak pada April 2021, dan lonjakan signifikan dan menjadi penyumbang kasus tertinggi di dunia.

Puncak Kedua Turun, Antisipasi Gelombang Ketiga

Puncak kedua terus mengalami penurunan dan saat ini kurva kasusnya mendatar selama 2,5 bulan berturut-turut. Cukup berbeda dibandingkan dunia dan negara lain yang tengah mengalami kenaikan kasus.

Melihat pola Indonesia, mengalami periode puncak kasus sama dengan periode dunia, AS dan Jepang, yaitu pada Januari 2021.

Baca Juga: Korban Donna Buruan Merapat, Kapolres Depok Janji Ambil Mobil Gratis

Ketika dunia mengalami puncak kedua pada April, Indonesia mengalami pelandaian. Ketika Indonesia mengalami puncak kedua di Juli lalu, justru negara-negara lain dan dunia tidak mengalami kenaikan.

“Pada September ini kasus Indonesia terus melandai sementara kasus dunia mengalami third wave. Lonjakan kedua di Indonesia pada Juni – Juli lalu, menunjukkan bahwa meskipun Indonesia mengalami kenaikan kasus yang signifikan, namun tidak cukup signifikan berkontribusi untuk kenaikan kasus dunia,” sebut dia.

Lonjakan kasus di Indonesia segera ditangani, sehingga dapat kembali melandai saat ini, dimana negara lain menunjukkan lonjakan ketiga.

Ditambah lagi dengan jumlah penduduk Indonesia yang mirip AS, ternyata Indonesia jauh lebih kecil angkanya pada kasus positif harian dan jumlah kasus per 1 juta penduduk.

Bahkan Jumlah tersebut masih lebih kecil dibandingkan negara tetangga dengan Jumlah penduduk lebih kecil.

“Saya Berterimakasih kepada masyarakat tenaga kesehatan yang tidak kenal lelah menangani pasien Dan kerjasama yang baik seluruh kepala daerah,” pungkas Wiku. (lala/*)