Satgas COVID-19 Minta Ambil Pelajaran Dari Lonjakan Kasus Saat Ini

Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19, Wiku Adisasmito. (Istimewa)
Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19, Wiku Adisasmito. (Istimewa)

JAKARTA – Juru Bicara Satuan Tugas alias Satgas Penanganan COVID-19, Wiku Adisasmito meminta, seluruh pihak agar bisa mengambil pelajaran dari lonjakan kasus yang terjadi saat ini.

Wiku mengatakan, jika dibandingkan dengan tahun lalu, lonjakan kasus yang terjadi di tahun ini sangatlah signifikan.

“Kenaikan signifikan tahun ini, dalam 1 minggu saja terjadi kenaikan hampir 2 kali lipat. Hal ini menyebabkan perbedaan signifikan dari minggu sebelumnya,” kata Wiku dilansir dari laman covid19.go.id, Sabtu, 19 Juni 2021.

Baca Juga : Depok Bantah Data Satgas COVID Pusat

Wiku mengatakan, jika dihitung secara presentase, kenaikan kasus pada perbandingan antara tahun 2020 dengan 2021 dalam periode yang sama, utamanya kenaikan kasus minggu keempatnya, menunjukkan angka yang sangat signifikan di tahun 2021 yang mencapai 112,22 persen.

“Periode yang sama tahun 2020 (hanya) sebesar 93,11 persen, angkanya sangat signifikan,” kata Wiku.

Wiku mengatakan, pembelajaran yang dapat diambil dari kenaikan kasus tersebut adalah peran Pemerintah Kota. Karena menurutnya, penyebaran COVID-19 tidak bisa selesai jika hanya melihat situasi pada tingkat Provinsi.

“Di Jawa Tengah misalnya, angka kenaikan tertinggi masih di tahun 2020 mencapai 758% dan tahun 2021 mencapai 281,59%, tapi penyumbang kenaikan signifikan tahun 2021 ini terjadi di Bangkalan, Kudus, Pati, Jepara, Bandung dan Kota Cimahi,” kata Wiku. “Hal ini menandakan bahwa dalam melihat situasi, tidak hanya cukup menilai di tingkat provinsi saja.”

Wiku mengatakan, perlu melakukan penilaian di tingkat kabupaten/kota, sehingga jika terdapat kabupaten/kota menunjukkan kenaikan signifikan, dapat segera ditangani agar tetap terkendali dan tidak meningkatkan kasus di tingkat provinsi maupun tingkat nasional.

Baca Juga : Jangan Anggap Remeh, 24 Klaster Ini Penyumbang Angka COVID-19

Pembelajaran selanjutnya, kata Wiku, pasca libur lebaran tahun ini, membuat wilayah Jawa Tengah, DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Jawa Timur dan Jawa Barat, masuk 5 besar kenaikan tertinggi COVID-19.

Jika dilihat lebih jauh, kelima provinsi itu merupakan daerah asal dan tujuan mudik dan kenaikan tertinggi ini dapat dikaitkan dengan mobilisasi masyarakat selama periode libur Idul Fitri.

“Faktanya, meskipun sudah diberlakukan periode peniadaan mudik sebelum dan setelah Idul Fitri, mobilitas arus mudik dan arus balik Jabodetabek tetap meningkat signifikan,” kata Wiku.

Lonjakan Kasus COVID-19 Karena Perpanjangan Arus Mudik

Wiku pun menyentil adanya penambahan periode arus balik ke Jabodetabek selama 1 munggu pasca Idul Fitri, yang dianggap sebagai dampak kenaikan kasus ini.

“Dampak dari suatu periode libur panjang biasanya terjadi 4 – 6 minggu lamanya, namun, dengan adanya periode tambahan ini, bisa saja dampak dari periode Idul Fitri ini bisa saja bertahan selama 7 – 8 minggu,” kata Wiku.

Baca Juga : Polsek Beji Belum Temukan Pemudik yang Reaktif COVID-19

Wiku pun berharap, seluruh lapisan masyarakat perlu gotong royong dan bahu membahu menghadapinya. Pemerintah perlu untuk terus menguatkan penanganan hingga level terkecil dengan melakukan tindakan-tindakan konkrit dalam waktu genting, dan masyarakat perlu menerapkan protokol kesehatan.

“Serta inovasi dan intervensi kebijakan yang akan diterapkan termasuk peningkatan kualitas SDM menjadi modal yang kuat memperbaiki penanganan pandemi,” kata Wiku.(ade/*)