Satgas COVID-19: Depok Penyumbang Kasus Aktif Tertinggi di Indonesia

Juru Bicara Satgas COVID-19, Wiku Adisasmito saat menyampaikan keterangan pers secara virtual, Kamis 22 Juli 2021. Foto: Tangkapan layar akun Youtube Sekretariat Presiden.
Juru Bicara Satgas COVID-19, Wiku Adisasmito saat menyampaikan keterangan pers secara virtual, Kamis 22 Juli 2021. Foto: Tangkapan layar akun Youtube Sekretariat Presiden.

DepokToday – Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19, Wiku Adisasmito menyebut, Kota Depok adalah kota dengan penyumbang tertinggi kasus aktif di Indonesia.

Dengan memiliki 27.389 kasus aktif COVID-19, Kota Depok melampaui jauh kabupaten kota lainnya di Indonesia yang hanya memiliki kasus aktif tidak lebih dari 25 ribu kasus.

“Yang perlu menjadi perhatian adalah masih ada 25,49 persen atau 131 kabupaten kota yang memiliki lebih dari 1000 kasus COVID-19,” kata Wiku dalam konferensi pers virtual, Kamis 5 Agustus 2021.

Wiku menyebut, dari 131 kabupaten kota itu yang masuk lima besar tertinggi kasus aktifnya antaranya Kota Depok dengan jumlah 27.389 kasus aktif, Kota Bekasi 22.674 kasus aktif, Kota Bandung 15.151 kasus aktif, Kabupaten Bantul 14. 760 kasus aktif, dan Kota tangerang selatan dengan jumlah 11. 181 kasus aktif.

“Padahal, pada akhir bulan Mei lalu sebelum lonjakan kasus terjadi, jumlah kasus di kabupaten kota ini hanya berkisar antara 400 sampai dengan 1000 kasus saja,” kata Wiku.

Untuk itu, lanjut Wiku, penting bagi pemerintah daerah untuk mengetahui kondisi di daerahnya masing-masing dan kepada seluruh gubernur juga dimohon untuk dapat memantau data COVID-19 di provinsinya masing-masing.

Baca Juga: Dicap Lambat, Ini Catatan PDIP untuk Pemkot Depok Soal Vaksinasi

“Sehingga selalu terpantau kabupaten kota mana saja yang mengalami kenaikan baik kasus positif, kasus aktif maupun kematian, karena hal ini perlu diantisipasi sedini mungkin agar tidak terjadi longjakan kasus,” beber Wiku.

Wiku melanjuutkan, tingginya kasus aktif pada wilayah-wilayah ini perlu ditindaklanjuti dengan mengevaluasi penanganan COVID-19 bersama dengan bupati atau walikota dan perangkat daerah lainnya yang terkait.

“Mengidentifikasi kendala dan penyebab yang perlu untuk segera diperbaiki agar kasus aktif dapat segera berubah menjadi kesembuhan,” kata Wiku.

Kendala-kendala tersebut diantaranya jumlah tenaga kesehatan yang kurang, tempat tidur rumah sakit atau tempat isolasi terpusat yang kurang, pasokan obat-obatan atau oksigen yang tidak memadai, serta rt rw yang belum berkoordinasi dalam penanganan dini maupun pemantauan isolasi mandiri warganya, dan melakukan tindak lanjut sesuai dengan kebutuhan disertai koordinasi dengan pemerintah pusat bila diperlukan.

“Satgas yakin kabupaten kota ini mampu melakukannya, asalkan kosisten dalam bekerja keras menegakkan kedisiplinan protokol kesehatan, dan meningkatkan angka kesembuhan,” kata Wiku. (ade/*)