Sandiaga Uno: Pandemi Covid-19 Krisis Sosial Terberat

Pengusaha yang juga Relawan Covid-19, Sandiaga Uno, dalam sebuah diskusi dalam jaringan (daring) yang diselenggarakan DEEP Indonesia.(Istimewa)

MARGONDA-Pandemik Covid-19 menjadi sebuah krisis sosial terberat yang berimplikasi langsung pada kekuatan ekonomi negara dan masyarakat, khususnya ekonomi keluarga dan UMKM.

Pengusaha yang juga Relawan Covid-19, Sandiaga Uno, mengungkapkan hal tersebut dalam sebuah diskusi dalam jaringan (daring) yang diselenggarakan oleh Democracy and Electoral Empowerment Partnership (DEEP) Indonesia pada Rabu (6/5/2020).

“Untuk kita mengalahkan virus corona ini, harus ada satu keyakinan bahwa selain dengan pembatasan sosial berskala besar, di rumah saja, maupun kegiatan-kegiatan kita yang preventif, tapi kita harus melakukan testing yang saya sebut sebagai 3p yaitu Testing, Tracing, dan Treating,” ungkap Sandiaga.

Sandi, begitu sapaan akrab Sandiaga Uno, menambahkan bahwa di dunia, Indonesia adalah negara dengan tindakan testing yang cukup minim.

Menurutnya, dalam rangka menghambat dan meminimalisir sebaran covid-19, pemerintah harus terus dibantu oleh relawan dan kesadaran masyarakat untuk sama-sama melawan corona.

Misalnya, kata dia, minimal di daerah Jabodetabek, testing covid-19 seharusnya dilakukan paling sedikit adalah pengecekan 50 ribu orang dalam sehari.

Dalam sektor ekonomi, Sandi secara detail memperlihatkan bahwa 99% pelaku ekonomi Indonesia adalah UMKM dan 97% lapangan kerja adalah juga dari UMKM.

“Indikator ekonomi Indonesia  menunjukkan harga dan ketersediaan bahan pokok yang berpotensi meningkat tinggi, namun indeks pertumbuhan penjualan terjun bebas, begitupun dengan indeks keyakinan konsumen,” katanya.

Lebih jauh, Sandi juga menyampaikan adanya ancaman Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang sudah semakin jelas. Ada sekitar 15 juta orang berpotensi atau terancam kena PHK.

“3,5 Juta karyawan di sektor formal dan sisanya di sektor informal. Kelompok keluarga yang terancam kembali ke jurang kemiskinan adalah sebanyak 37 juta orang,” jelasnya.

(rdt/*)