Sambiloto, Tanaman Indonesia yang Terbukti Ampuh Mengatasi COVID

Tanaman sambiloto (Istimewa)
Tanaman sambiloto (Istimewa)

DEPOK- Ekstrak tanaman sambiloto atau yang memiliki nama latin andrographis paniculata ternyata telah digunakan sebagai terapi komplementer untuk pasien COVID-19 gejala ringan di lima rumah sakit milik pemerintah Thailand.

Melansir Hops.id jaringan DepokToday.com, sambiloto termasuk herbal asli Indonesia yang telah lama diketahui memiliki khasiat sebagai imunomodulator atau stimulasi imun sekaligus antiradang dan antivirus.

“Pemerintah Thailand setuju penggunaan ekstrak sambiloto karena bermanfaat menurunkan tingkat keparahan wabah (COVID-19) dan memotong biaya pengobatan,” kata Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia Inggrid Tania dikutip pada Jumat 23 Juli 2021.

Menurut dia, hasil-hasil penelitian praklinis dari sambiloto sejalan dengan uji klinis khasiat dan keamanannya yang telah dilakukan terhadap pasien COVID-19 gejala ringan tersebut.

Uji klinis yang merupakan penelitian awal di Thailand dikabarkan memberi bukti kalau tanaman tersebut aman dikonsumsi dan efektif memperbaiki kondisi pasien yang telah terkonfirmasi positif COVID-19 melalui uji PCR.

“Perbaikan terjadi dalam 3 hari intervensi tanpa efek samping jika sambiloto dikonsumsi pasien dalam 72 jam setelah timbul gejala,” kata Inggrid.

Kesaktian Herbal Indonesia

Sedangkan uji di laboratorium menunjukkan senyawa aktif sambiloto terutama andrographolidae dapat berikatan dengan protein SARS-CoV-2. Melalui serangkaian mekanisme, senyawa mampu menghambat replikasi virus itu dan mengurangi dampak peradangan.

Atas dasar itulah, Inggrid merekomendasikan ekstrak sambiloto yang diproduksi di Indonesia bisa dikonsumsi mereka yang berusia 12 tahun ke atas. Terutama, pada saat jumlah kasus baru infeksi COVID-19 yang sedang melonjak saat ini.

Dosisnya, 2×2 kapsul atau 3×1 kapsul untuk tujuan pencegahan COVID-19. “Dosis 3×2, terutama 5×2 kapsul, untuk terapi komplementer,” jelasnya.

Baca Juga: Bikin Haru, Prajurit Kodim Depok Rela Berisiko Demi Pasien Isoman

Pada orang dengan gangguan fungsi hati atau ginjal, Inggrid menilai perlu ada penyesuaian dosis secara individual. Rekomendasi tak diberikannya kepada orang dengan autoimun, ibu hamil dan menyusui.

Pasien yang mengkonsumsi obat penurun gula darah dan/atau tekanan darah juga dimintanya berhati-hati karena sambiloto bersifat menurunkan gula dan tekanan darah.

Pemprov Sumut Lakukan Uji Sambiloto

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Sumut) bersama para ahli kesehatan dan herbal serta fakultas kedokteran dan farmasi dari enam kampus di Kota Medan yaitu USU, UISU, UMSU, Nommensen, Methodis dan Unpri akan meneliti tanaman herbal sambiloto untuk obati COVID-19.

Langkah ini diambil karena banyak tanaman obat lokal yang dinilai berkhasiat melawan virus dan meningkatkan imun tubuh.

Wakil Gubernur Sumut Musa Rajekshah mengatakan, COVID-19 belum diketahui kapan berakhir sehingga tidak bisa hanya berdiam diri menunggu, harus berbuat sesuatu. Maka dilakukan penelitian tanaman herbal yang dianggap berkhasiat meski membutuhkan penelitian untuk membuktikannya.

“Imun tubuh kita adalah salah satu kunci menghadapi virus, kalau imun kuat, Insya Allah tubuh kita bisa lebih kuat menghadapi penyakit yang disebabkan virus,” katanya.

Ketua Sentra Penelitian dan Pengembangan Pengobatan Tradisional (SP3T) Umar Zein mengatakan, ada 30.000 lebih jenis tanaman obat di Indonesia dan sambiloto menjadi salah satu tanaman yang banyak diteliti di berbagai negara seperti Tiongkok dan Thailand.

Menurutnya, ini peluang bagi Sumut yang mendapat dukungan dari wagub Musa untuk dilakukan penelitian.

“Secara in vivo dan in vitro maupun uji klinis, tanaman ini bermanfaat sebagai antivirus Covid-19. Tentu kami tidak bisa langsung menerima ini adalah obat COVID-19, kami coba membuktikannya melalui penelitian ilmiah,” kata Umar.

Anggota Bidang Penanganan Kesehatan Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Sumut, dr Restuti Hidayani Saragih mengatakan, keenam universitas antusias untuk berkolaborasi. Ditargetkan penelitian akan selesai paling lambat Desember 2021.

“Kami mohon doa masyarakat Sumut agar apa yang kita rencanakan memiliki dampak besar dalam pengobatan COVID-19,” ucap Restuti. (rul/*)