Kemenkes Akui Sulit Beri Pendidikan Seksual Santriwati di Ponpes Karena Ini

- Sabtu, 11 Desember 2021 | 18:05 WIB
Ilustrasi sipir cantik (Foto: Istimewa)
Ilustrasi sipir cantik (Foto: Istimewa)

DepokToday - Kasus pemerkosaan belasan santriwati di pondok pesantren yang ada di Bandung membuat semua pihak terenyuh. Menyinggung masalah ini, Kementerian Kesehatan atau Kemenkes mengakui pendidikan seks sulit masuk ke pondok pesantren karena adanya anggapan yang tabu untuk mempersoalkan masalah ini.

Hal ini diungkap Pelaksana Tugas (Plt) Dirjen Kesehatan Masyarakat, drg. Kartini Rustandi, M.Kes, bahwa akibat pandangan tabu tentang pendidikan seksual dan kesehatan organ reproduksi, sehingga sulit masuk ke pondok pesantren.

"Sebetulnya dari dulu kita sudah mulai masuk, tapi kan tidak mudah. Tabu jadi tantangan kita, justru itulah yang membuat kita setengah mati, kita harus apa," ujar drg. Kartini ditemui dilansir dari suara.com, Sabtu 11 Desember 2021.

Pandangan tabu terhadap pendidikan seksual dan kesehatan organ reproduksi ini, khususnya bagi santriwati ini kata drg. Kartini, terlihat saat santri atau anak sekolah diajarkan dan dikenalkan tentang bentuk organ reproduksi manusia, serta tata cara menjaga kebersihan yang benar.

"Gimana berikan informasinya, ada buku ngasih lihat alat kelamin, gimana caranya mendidik kalau nggak kasih tahu," ungkap drg. Kartini.

Tidak hanya itu, perihal menjelaskan alat kontrasepsi seperti kondom kepada anak atau siswa dipandang sebagai hal yang tidak patut, dan jadi pro kontra di kalangan masyarakat, termasuk juga di pondok pesantren.

"Bicara kondom aja, kita siapin kondom, ribut semuanya. Padahal daripada lakukan tanpa kondom, lebih gila lagi. Tapi di kita selalu bilang tabu, kita bicara soal reproduksi, ribut lagi, padahal bukan itu intinya," jelasnya.

Baca Juga: MUI Bandung Minta Stop Pemberitaan Pemerkosaan Santriwati

Menurut drg. Kartini, menyampaikan pendidikan seksual dan pengenalan kesehatan organ reproduksi bukan berarti mengarahkan anak untuk melakukan seks bebas.

Tapi untuk mendidik anak mengetahui tentang kesehatan organ intim, tujuannya agar tidak terserang berbagai penyakit seksual menular atau IMS, dan berbagai penyakit tidak menular di organ intim.

"Kalau di luar negeri, mengatakan hubungan oke, makanya mereka siapkan. Tapi itu kan kebablasan juga," kata drg. Kartini.

Menurutnya, ia bukan mempermasalahkan pandangan agama yang melarang hubungan seksual di luar pernikahan. Meski begitu, bukan berarti lantas tidak menerima informasi dan pendidikan seksual, karena ini tujuannya agar generasi penerus lebih sehat.

"Memang kita bilang kita beragama, tapi bukan berarti nggak boleh ada informasi, kan," tutup drg. Kartini. (lala/*)

Editor: Nur Komalasari - Depoktoday

Tags

Terkini

X