Raden Sungging, Ulama Sakti Pejuang Rakyat Citayam

Ilustrasi (Istimewa)

Citayam– Nama Raden Sungging mungkin sudah tak asing lagi di telinga warga Kota Depok. Ia adalah salah seorang tokoh agama Islam dari Citayam, Depok yang konon memiliki kesaktian yang cukup tinggi.

Alhasil, dengan ilmu kanuragannya itu, Raden Sungging pun menjadi salah satu jawara yang ditakuti pemerintah kolonial Belanda.

Karena kebijakan, ketegasan dan kesaktiannya, oleh masyarakat setempat Raden Sungging akhirnya diangkat sebagai pemimpin untuk melindungi Citayam dari ancaman Belanda.

Ancaman itu berupa masuknya paham-paham barat yang bertentangan dengan adat istiadat timur, terutama agama Islam.

Pada awalnya, Raden Sungging membiarkan orang-orang Belanda berbuat semaunya, asal tidak mengganggu masyarakat dan melecehkan agama.

Namun, nyatanya, mereka mulai melanggar larangan tersebut, seperti mabuk-mabukan dan berjudi. Tak tinggal diam, Raden Sungging bersama masyarakat kemudian menemui orang Belanda agar mereka menghentikan kelakuannya.

Alih-alih ingin menegur, upaya yang ditempuh Raden Sungging justru mendapat tantangan. Ya, sejumlah serdadu Belanda mengajaknya untuk berperang.

Namun, pihak Belanda memutuskan untuk bertempur di luar Depok, yaitu di kawasan Bekasi.

Alasannya, untuk mencegah kerusakan di dalam kota. Dengan mantap, Raden Sungging pun menyanggupinya.

“Sebelum pertempuran dimulai, Raden Sungging gencar memberikan pesan-pesan yang mengajak masyarakat untuk bersatu melawan penjajah. Pesan inilah yang membuat masyarakat semakin bersemangat mengahadapi perang tersebut,” kata salah satu pengamat dan pemerhati sejarah Depok Diki Erwin.

Pada hari yang telah ditentukan, Raden Sungging beserta sejumlah masyarakat Citayam berangkat ke Bekasi untuk meladeni tantangan serdadu Belanda. Konon, berkat kesaktian sang Raden, senjata dan meriam tentara Belanda tak bisa digunakan.

Hasilnya, pertempuran itu pun dimenangkan oleh pasukan yang dipimpin Raden Sungging.

Tapi, kemenangan itu tidak berlangsung lama, Belanda yang dendam dengan kekalahan itu kemudian kembali lagi dengan jumlah pasukan yang lebih banyak dengan peralatan yang lebih lengkap setelah meminta bantuan ke Batavia.

Menghadapi serangan yang jauh dari kata seimbang itu, Raden Sungging dan pasukannya pun dipaksa menyerah.

Karena dianggap sebagai pemberontak, mereka pun akhirnya ditangkap dan dipenjarakan di Penjara Cipinang, Jatinegara. Sebagai seorang pemimpin, Raden Sungging tak ingin rakyatnya menjadi korban keganasan Belanda.

Ia meminta Belanda untuk membebaskan rakyatnya. Sebagai jaminan, Raden Sungging siap menerima hukuman mati.

“Permintaan ini disetujui oleh Belanda. Namun sebelum dieksekusi, Raden Sungging mengajukan permintaan terakhir berupa makanan, minuman dan rokok kesukaannya. Permintaan ini pun disanggupi pihak Belanda. Ketika acara jamuan itu selesai, secara mendadak Raden Sungging meninggal. Semua pejabat Belanda dibuat gempar,” ungkap Diki.

Setelah kematian Raden itu, Pemerintah Belanda kemudian menguburkan dan menjaga makam Raden Sungging selama satu pekan. Setelah satu pekan berlalu, dan para prajurit Belanda meninggalkan makam tersebut timbul keanehan.

Konon menurut cerita yang percaya warga sekitar secara turun-temurun, Raden Sungging bangkit dari kuburnya dan berjalan menuju Depok. Setelah sampai di Depok ia kembali memimpin Citayam.

“Ia juga memperingatkan agar penjajah Belanda jangan berbuat semena-mena terhadap rakyat Depok. Dan menurut cerita, ancamannya kali ini ternyata membuat takut Belanda,” ungkap Diki.

Kejadian ini sontak membuat gembira rakyat Depok. Mereka menyerukan kata-kata Ratu Jaya..Ratu Jaya. Akhirnya, Raden Sungging pun diangkat kembali menjadi penguasa atau raja setempat. Raden Sungging wafat dan dimakamkan di Pondok Terong, Pancoran Mas Depok. (Zahrul Darmawan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here