Raden Koesno, Ajudan Presiden yang Tak Ambruk Ditembus Dua Peluru

Sersan Mayor CPM (purn), Raden Koesno, mantan ajudan Presiden pertama RI, Soekarno. (Foto: Depoktoday.com)
Sersan Mayor CPM (purn), Raden Koesno, mantan ajudan Presiden pertama RI, Soekarno. (Foto: Depoktoday.com)

DEPOK- Menjadi pengawal, terlebih sebagai ajudan presiden tentu tidaklah mudah. Banyak resiko tugas yang harus siap mereka hadapi. Seperti yang dialami oleh Sersan Mayor, CPM (purn) Raden Koesno, mantan ajudan Presiden RI, Soekarno.

Lalu seperti apa kisah pria yang akrab disapa Koesno itu ketika menjadi salah satu orang kepercayaan presiden?

Kisah ini bermula ketika Koesno mengabdikan dirinya sebagai seorang pejuang kemerdekaan. Ia adalah bagian dari prajurit Jenderal Raden Soedirman. Berbagai pertempuran telah Koesno hadapi semasa hidupnya dulu, sejak usianya sekira 15 tahun.

“Iya, opa saya dari sebelum kemerdekaan sudah ikut perang dan sudah bergabung di bawah pasukan Jenderal Soedirman,” kenang Roland Anziano, cucu ke dua Koesno saat ditemui di rumah kontrakannya di kawasan Cimanggis, Depok, dikutip pada Kamis 27 Mei 2021.

Baca Juga: Tak Sanggup Bayar Kontrakan, Begini Kisah Pilu Istri Ajudan Soekarno

Dari sejumlah kisah yang telah dilalui Koesno, Roland mengaku ada banyak cerita menegangkan yang dulu kerap diceritakan sang opa (kakek) padanya. Semisal ketika harus berlari menuju Surabaya dengan dua luka tembak dibagian tubuh saat peristiwa Perang Palagan Ambarawa sekira tahun 1945-an.

“Itu lari dari sarangan musuh di Ambarawa sampai ke daerah Jawa Timur karena pada saat tu pasukan Soedirman gerilya untuk menghubungi pasukan yang ada pusat, yaitu Surabaya,” ujarnya.

Tak Gentar Ditembaki Musuh

Koesno dan beberapa teman seperjuangannya diperintahkan menuju ke sana (Surabaya) untuk meminta bantuan. Menurut cerita yang diingat Roland, sang kakek menyebutnya dengan strategi sumpit udang.

“Nah selama lari itu, tiga hari, tiga malam, opa tertembak sebanyak dua kali di perut dan kaki. Dari lima orang itu yang empat gugur, jadi tinggal opa yang sampai ke Surabaya,” tuturnya.

Barang peninggalan Sersan Mayor CPM (purn), Raden Koesno, mantan ajudan Presiden pertama RI, Soekarno. (Foto: Depoktoday.com)
Barang peninggalan Sersan Mayor CPM (purn), Raden Koesno, mantan ajudan Presiden pertama RI, Soekarno. (Foto: Depoktoday.com)

 

Kisah tersebut diabadikan negara melalui sejumlah arsip atau piagam yang diterima oleh Koesno dan saat ini dijaga oleh keluarga.

Ketika Diangkat Jadi Ajudan Presiden

Dengan kegigihan dan loyalitasnya itu, Koesno kemudian diangkat menjadi salah satu ajudan Presiden RI ke 1, Soekarno. Semasa hidupnya, Koesno juga sangat dekat dengan sejumlah anak-anak sang proklamator.

Koesno wafat pada tahun 1998. Namun sayangnya, kini keluarga Koesno hidup dalam keprihatinan. Sang istri, Elizbeth, atau yang akrab disapa Oma Koesno terbaring lemah akibat penyakit yang diderita dengan perawatan seadanya.

Roland Anziano cucu almarhum Raden Koesno,memperlihatkan sejumlah piagam yang diterima ketika kakeknya menjadi  ajudan Prsiden RI Ke-1, Soekarno. (Depoktoday.com)
Roland Anziano cucu almarhum Raden Koesno,memperlihatkan sejumlah piagam yang diterima ketika kakeknya menjadi ajudan Prsiden RI Ke-1, Soekarno. (Depoktoday.com)

Tak hanya itu, diusinya yang telah cukup sepuh, Oma Koesno dan keluarga kecilnya  sampai sekarang belum memiliki rumah tetap.

Mereka saat ini hanya tinggal di rumah kontrakan di wilayah Cimanggis, Depok. Itu pun masa sewanya habis pada Juni mendatang lantaran tak punya biaya untuk diperpanjang. (rul/*)