Prof Mochtar, Sang Menteri yang Menganggap Uang Bukan Tujuan

Prof. Mochtar Kusumaatmadja (Istimewa)
Prof. Mochtar Kusumaatmadja (Istimewa)

JAKARTA- Mantan Menteri Kehakiman dan Menteri Luar Negeri, Prof. Mochtar Kusumaatmadja meninggal dunia pada Minggu, 6 Juni 2021. Semasa hidupnya, almarhum dikenal sebagai sosok yang memberikan kontribusi cukup besar untuk Indonesia.

Maka tak heran, kabar duka tersebut mendapat sorotan sejumlah tokoh, termasuk Guru Besar Universitas Indonesia (UI), Hikmahanto Juwana.

Data yang dihimpun menyebutkan, pria kelahiran Batavia (Jakarta),  17 April 1929 itu menghembuskan nafas terakhir di kediamannya, di Jalan Belitung, Jakarta Selatan sekira pukul 09:00 WIB, karena sakit.

Lalu seperti apa jejak Prof Mochtar. Berdasarkan hasil penelusuran Depoktoday.hops.id, beliau adalah lulusan Meester in de Rechten (sarjana hukum plus) dari Fakultas Hukum dan Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan UI pada Tahun 1955.

Karir Mochtar Kusumaatmadja muda melejit ketika diminta pemerintah untuk mengembangkan konsep negara kepulauan pada Tahun 1957, yang kala itu dideklarasikan oleh Perdana Menteri Djuanda.

Semenjak itu, beliau aktif menghadiri berbagai konferensi hukum laut untuk meyakinkan banyak pakar dan perwakilan negara atas konsep negara kepulauan. Perjuangan Mochtar membuahkan hasil dengan diterimanya konsep negara kepulauan (archipelagic states) dalam Konvensi Hukum Laut 1982.

Baca Juga: Kabar Duka, Rektor Universitas Pancasila Prof Wahono Meninggal Dunia

Prof Mochtar di masanya dikenal sebagai the living legend untuk berbagai konsep dalam Konvensi Hukum Laut 1982. Prof Mochtar disamping sebagai akademisi, juga pernah menduduki birokrasi universitas dengan menduduki jabatan sebagai Rektor Universitas Padjadjaran.

“Beliau pun mendirikan sebuah firma hukum yang sangat prestisius dengan rekan-rekannya dengan nama Mochtar Karuwin dan Komar (MKK),” kata Hikmahanto dalam keterangan tertulisnya.

Jejak Orde Baru

Pada masa pemerintahan Soeharto, Prof Mochtar dipercaya untuk menjadi Menteri Kehakiman untuk satu periode, kemudian dipercaya untuk menjadi Menteri Luar Negeri untuk dua periode.

“Saat menjadi Menteri Luar Negeri beliau sangat piawai dan sangat disegani oleh banyak negara dan tokoh pemerintahan,” katanya.

Ketika menjadi Menlu, Prof Mochtar dipercaya sebagai anggota International Law Commission Perserikatan Bangsa-Bangsa yang bertugas merumuskan norma-norma dalam hukum internasional.

Beliau juga dipercaya untuk menjadi Ketua Komisi Perbatasan Iraq dan Kuwait. Bahkan, Prof Mochtar dipercaya oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menjadi Ketua Konsorsium Ilmu Hukum.

“Saya sendiri pernah menjadi mentee (orang yang dibimbing) Prof Mochtar selama 1 tahun lebih saat baru selesai program strata 2 di Jepang. Beliau banyak memberikan nasihat kepada saya tidak saja untuk menjadi akademisi yang mumpuni dan berintegritas tetapi juga dalam menjalani kehidupan.”

Hikmahanto pun mengaku masih mengingat salah satu pesan yang disampaikan almarhum kala itu.

“Prof Mochtar berpesan pada saya untuk benar-benar memanfaatkan hidup yang hanya sekali dengan membuat rencana,” ujarnya.

Lima Wasiat Kehidupan Prof Mochtar

Hikmahanto mengtakan, Prof Mochtar membagi rencana kehidupan menjadi lima fase. Fase pertama adalah hingga usia 25 tahun yaitu mendapatkan pendidikan yang terbaik dan setinggi-tingginya sesuai kemampuan.

Fase kedua adalah fase menunjukkan kepada banyak pihak bahwa seseorang mampu untuk mengerjakan berbagai tugas yang diberikan, bahkan dengan hasil yang di luar ekspektasi pemberi kerja.

“Dua fase ini penting untuk memasuki fase ketiga yaitu seseorang harus membangun jaringan ke berbagai pihak untuk dikenal,” tuturnya.

Pada Hikmahanto, di tiga fase itu beliau berpesan untuk tidak memikirkan uang. “Uang penting namun bukan tujuan,” katanya.

Kemudian fase ke-empat adalah saat manusia menginjak usia 40 yaitu fase cash in program. Di fase ini, menurutnya seseorang akan mendapat hasil finansial karena memiliki pendidikan, kemampuan untuk mengerjakan tugas serta jaringan yang luas.

“Beliau mengatakan tanpa perlu dikejar, uang justru yang akan mengejar kita,” ujarnya.

Fase terakhir adalah fase untuk memikirkan generasi mendatang. Beliau berpesan jangan pernah kita selfish memikirkan diri sendiri tanpa melakukan regenerasi seolah tanpa kita dunia akan runtuh.

“Dalam fase terakhir dalam kehidupan beliau saya mendapat kesempatan untuk beliau bimbing. Dalam menjalankan hidup saya, saya menghayati betul nasihat beliau dan melaksanakannya,” kata Hikmahanto.

Dengan sejumlah pengalaman dan nasihat yang tertanam, maka tak heran banyak yang merasa kehilangan sosok Prof Mochtar.

“Saya bersyukur Prof Mochtar merupakan salah satu guru besar yang menjadikan saya seperti saat ini, disamping Prof Mardjono Reksodiputro dan Prof Erman Rajagukguk. Hari ini saya kehilangan sosok yang saya kagumi dan menjadi panutan,” ucap Hikmahanto.

“Saya mendoakan agar Prof Mochtar dibukakan surga firdaus oleh Allah SWT seraya selalu berjanji untuk meneruskan nasihat beliau ke generasi muda,” timpalnya lagi. (rul/*)