Pria Harus Tau, Ini 4 Mitos Masalah Disfungsi Ereksi yang Jarang Diketahui

Ilustrasi permasalahan disfungsi ereksi. (Foto: Istimewa)
Ilustrasi permasalahan disfungsi ereksi. (Foto: Istimewa)

DepokToday – Permasalahan kejantanan bagi pria merupakan salah satu hal yang penting dalam mengarungui kehidupan. Namun masalah seksual seperti disfungsi ereksi bisa menghalangi hal tersebut.

Ya, masalah disfungsi ereksi dipahami sebagai kondisi ketika pria tidak bisa mencapai atau mempertahankan ereksi yang cukup untuk berhubungan seksual.

Melansir dari Suara.com, tidak jarang disfungsi ereksi atau impotensi ini meruntuhkan rasa percaya diri seorang pria dan membuatnya enggan berkonsultasi dengan dokter.

Supaya tidak salah kaprah, ketahui mitos soal disfungsi ereksi berikut, dirangkum dari Fatherly.

1.Mitos: disfungsi ereksi membuat pria sama sekali tidak bisa ereksi

Sebenarnya ada beberapa situasi berbeda yang memenuhi syarat untuk diagnosis disfungsi ereksi. Menurut National Institutes of Health, pria mengalami disfungsi ereksi ketika mereka kadang-kadang bisa ereksi, mendapatkan ereksi yang tidak bertahan cukup lama untuk memuaskan pasangan saat berhubungan seks atau tidak bisa ereksi setiap ingin berhubungan seks.

2.Mitos: disfungsi ereksi hanya memengaruhi pria lebih tua

Menurut analisis dari 2.126 survei yang diterbitkan pada tahun 2007 di American Journal of Medicine menunjukkan bahwa, meskipun disfungsi ereksi sangat terkait dengan usia, namun ditemukan bahwa sekitar 5,1 persen pria berusia 20-an dan 30-an adalah “kadang-kadang” atau “tidak pernah” mampu “mencapai ereksi yang memadai untuk hubungan seksual yang memuaskan.”

Itu mungkin kedengarannya tidak banyak, tetapi secara harfiah jutaan pria umumnya diyakini “terlalu muda” untuk mengalami gejala disfungsi ereksi.

Baca Juga: Gelar Apel Kesiapsiagaan, Ini Dua Jenis Bencana yang Rawan Terjadi di Depok

3.Mitos: disfungsi ereksi cuma memengaruhi organ intim pria

Menurut Johns Hopkins , disfungsi ereksi adalah gejala dari banyak gangguan dan penyakit lain, mulai dari gangguan tidur kronis, diabetes, gangguan neurogenik, hingga depresi. Jadi sementara disfungsi ereksi terbatas pada satu bagian tubuh, itu sering kali merupakan pertanda masalah yang lebih besar, yang perlu dikonsultasikan kepada seorang profesional medis.

4.Mitos: disfungsi ereksi tidak bisa diobati

Dengan penanganan yang tepat, disfungsi ereksi bisa diobati. Namun juga perlu diimbangi dengan meningkatkan pilihan gaya hidup sehat seperti berhenti merokok dan berolahraga secara teratur, yang efektif dalam membantu pria mengurangi gejala disfungsi ereksi. Namun pastikan mengonsumsi obat resep dokter, jangan mudah tergoda pada obat atau terapi herbal yang tidak terbukti keefektifannya. (lala/*)