Polisi Gagalkan Peredaran 40 Bungkus Ganja Ditengah Wabah Corona

Polisi sita tumpukan ganja siap edar (Istimewa)

MARGONDA- Tiga orang pemuda terpaksa berurusan dengan polisi lantaran nekat menyembunyikan tumpukan daun ganja kering di dalam mobil mini bus. Para pelaku memanfaatkan sepinya lalu lintas di tengah kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Kapolres Metro Depok, Komisaris Besar Polisi Azis Andriansyah mengungkapkan, para pelaku berhasil dibekuk berkat adanya laporan dari masyarakat melalui Unit Reskrim Polsek Beji.

“Jadi saat anggota kami melakukan pemantauan di lapangan mendapat informasi ada mobil yang rencananya digunakan mengangkut narkotika berasal dari luar daerah, dari provinsi lain, atau dari pulau lain, kemudian akan menyebrang pada jam tertentu,” katanya pada Jumat 17 April 2020

Tak ingin membuang-buang kesempatan, sejumlah personil dari polsek tersebut kemudian melakukan pengejaran, sesuai dengan ciri-ciri yang disebutkan. Dan benar saja, dari hasil penggeledahan didapati narkotika jenis ganja sebanyak 40 bungkus yang dilakban warna cokelat.

“Dari informasi tersebut kita dalami kemudian mendapatkan order dari seseorang yang katanya berasal dari Lapas, tapi sampai sekarang masih dikembangkan,” ucap Azis

Adapun barang bukti yang disita dari tangan para pelaku yakni, 40 bungkus ganja kering berbagi ukuran. Di antaranya, ukuran sedang sebanyak 22 bungkus dengan berat masing-masing setengah kilogram, serta 18 bungkus ukuran besar, masing-masing 1 kilogram. Jika ditotal, barang bukti tersebut mencapai 29 kilogram.

“Jadi barbuk ini disembunyikan di pintu dari mobil tersebut. Mereka mengaku sudah dua kali mendapatkan orderan. Kita akan kembangkan sudah berapa kali dan didistribusikan kemana saja,” ucap Azis

Menurut pengakuan, tersangka utama mendapat upah Rp 10 juta untuk sekali order, kemudian yang untuk membantu mendapat Rp 4 juta sekali order.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya itu, ketiga pelaku yakni Ricky Filandi alias Riki, Hery Amirudin, dan M Fikri terancam dijerat dengan Pasal 114, 112 Undang-undang Nomor 35 tahun 2009 tentang penyalahgunaan narkotika yang ancaman hukumannya seumur hidup atau hukuman mati. (rul/*)