Polisi Ciduk Jaringan Pemalsu Surat Swab Antigen, Sepekan Jual 80 Surat

Kapolres Metro Depok Kombespol Imran Edwin Siregar, bersama Kasat Reskrim AKBP Yogen Heroes dan Kepala Humas Polres Depok Kompol Supriadi merilis kasus jaringan pemalsu surat swab antigen. (DepokToday)
Kapolres Metro Depok Kombespol Imran Edwin Siregar, bersama Kasat Reskrim AKBP Yogen Heroes dan Kepala Humas Polres Depok Kompol Supriadi merilis kasus jaringan pemalsu surat swab antigen. (DepokToday)

DepokToday – Polres Metro Depok merilis enam orang tersangka jaringan pemalsu surat hasil Swab Antigen. Mereka yang diamankan merupakan warga Tapos yang mengaku baru sepekan ini melancarkan aksinya.

Kapolres Metro Depok Kombespol Imran Edwin Siregar mengatakan, penangkapan para tersangka berinisial AS, ME, AK, RR, NN, dan MA ini berdasarkan laporan masyarakat yang masuk ke Kepolisian pada pekan lalu. Dari sana, pihaknya langsung melakukan penyelidikan.

Mereka menawarkan kepada pengguna jasa yang membutuhkan surat swab antigen tapi malas untuk melakukan prosedur tersebut.

“Modusnya si pengguna ini membutuhkan surat swab antigen, tetapi harus dinyatakan negatif. Itu syarat dari perusahaannya, dan dengan berbagai cara dia paksakan membuat surat ini kepada tersangka yang dibelakang. Dibuat lah surat itu tapi berdasarkan dari salah satu klinik,” kata dia didampingi Kasat Reskrim AKBP Yogen Heroes dan Kepala Humas Polres Depok Kompol Supriadi pada Selasa 27 Juli 2021.

Baca Juga: Bikin Heboh, Dokumen Hasil Test COVID-19 Jadi Bungkus Gorengan

Jaringan pemalsu surat swab antigen ini mengambil kop surat hasil swab antigen dari salah satu klinik yang ada di kawasan Tapos. Dengan modus itu, mereka dapat menjual surat palsu dengan harga Rp175 ribu.

“Sehingga begitu selesai perusahaan konfirmasi kepada klinik. Ada nggak membuat antigen atas nama tersangka ini, ternyata tidak ada. Kalau yang asli kan dia pakai barcode. Kalau ini tidak ada,” sebut dia.

Ada sekira 80 surat yang berhasil dibuat oleh jaringan ini dalam sepekan. Rata-rata pengguna jasa mereka merupakan pekerja yang perusahaannya mewajibkan untuk menyertakan surat hasil swab antigen. “Kira-kira seminggu ada sekitar 80 surat yang beredar,” jelas dia.

Para tersangka membagi peran mereka, ada yang membuat surat, ada juga yang bertugas menawarkan surat palsu ini kepada mereka yang membutuhkan.

“AS ini pencetak, kalau yang lainnya ada yang menerima pesanan kemudian menyampaikan ke teman berikut. Karena tadi saya bilang berantai ini ada pemesan lah,” beber dia.

Atas perbuatannya, ke enam tersangka dikenakan Pasal 263 KUHP jo Pasal 55 dan 56 KUHP tentang pemalsuan dokumen dengan ancaman enam tahun penjara. (lala/*)