Polemik Tol Cijago Depok, Warga Ajukan Pemblokiran SHGB

Dengan biaya yang fantastis, PT TLKJ melanjutkan proyek Tol Cijago Seksi Tiga. (Depoktoday.com)
Dengan biaya yang fantastis, PT TLKJ melanjutkan proyek Tol Cijago Seksi Tiga. (Depoktoday.com)

DEPOK- Suharlin Lilin, wanita yang mengklaim sebagai pemilik lahan di kawasan Limo akhirnya melayangkan surat pemblokiran Sertifikat Hak Guna Bangunan atau SHGB, atas nama PT Artha Cahaya Persada. Konflik lahan itu terjadi di area proyek Tol Cijago Seksi III, Depok.

Surat pemblokiran tersebut dilayangkan Suherlin melalui kuasa hukumnya, Yakub. Langkah ini dilakukan agar pihak Badan Pertanahan Nasional (BPN) Depok mengetahui secara jelas persoalan tersebut.

“Iya kami ingin semuanya menjadi terang, terutama kepala kantor BPN, menjadi terang persoalannya dulu,” kata Yakub dikutip pada Kamis 3 Juni 2021.

Baca Juga: Terungkap, Segini Biaya Fantastis Proyek Tol Cijago Depok

Ia khawatir, BPN Depok hanya melihat persoalan ini dari luar saja. Namun keberatan serta duduk permasalahan yang telah disampaikan oleh warga tidak pernah dimunculkan.

“Kami memandang kita perlu mengambil langkah-langkah yang harus dilakukan seperti pemblokiran,” jelasnya.

Didampingi pengacara, Lilin menuntut ganti rugi Tol Cijago di Limo (Depoktoday.com)
Didampingi pengacara, Lilin menuntut ganti rugi Tol Cijago di Limo (Depoktoday.com)

Kritik BPN

Yakub menerangkan, pemblokiran dilakukan agar tidak ada upaya hukum apapun yang bisa mengalihkan sertifikat tanah ke pihak lain. Termasuk juga tidak adanya pembayaran pembebasan tanah untuk tol sebelum adanya kepastian hukum.

“Jadi ada dua hal, kita minta blokir sertifikat, dan mediasi,” katanya.

Terkait hal itu, Yakub meminta adanya mediasi secara resmi atau prosedur kepada warga dan pihak perusahaan. Sebab selama ini hanya pembicaraan tidak resmi yang diklaim BPN sebagai proses mediasi.

“Yang saya tahu itu kalau mediasi ada surat tertulisnya, dan ketika sudah di mediasi. Setelah itu baru bisa dilakukan proses identifikasi fisik. Kalau overlap bisa diketahui dimananya,” katanya.

Kronologi 

Pembebasan lahan Tol Cijago nyatanya masih menyisakan sebagian masalah. Seperti yang dalami oleh Suharlin Lilin, wanita yang mengaku sebagai pemilik lahan dengan luas sekira 2.000 meter persegi di wilayah Kecamatan Limo, Depok.

Ia mengaku, persoalan terjadi ketika dirinya hendak mendapat uang konsinyasi atas pembayaran pembebasan Tol Cijago di kawasan Limo. Padahal menurutnya, tanah itu dibeli sejak 2001 dengan status girik atau tanah adat.

“Jadi pas saya datang ke BPN (Badan Pertanahan Nasional) Depok saat mau pembayaran, saya kaget karena katanya tidak bisa, tanahnya overlap. Inikan aneh,” katanya, Selasa 25 Mei 2021.

Lilin menuntut ganti rugi Tol Cijago di Limo (Depoktoday.com)
Lilin menuntut ganti rugi Tol Cijago di Limo (Depoktoday.com)

Tanah tersebut, belakangan diakui oleh salah satu perusahaan. Padahal, wanita yang akrab disapa Lilin itu yakin, bidang tanah yang dimaksud adalah berbeda.

“Katanya PT itu membeli secara lelang kepada PT Wisma. Tapi masalahnya mereka tidak mengkroscek dahulu tanahnya,” ujar dia. (rul/*)

Baca Selengkapnya Disini: Warga Menjerit Tuntut Ganti Rugi Tol Cijago di Limo, BPN Angkat Tangan