Perusahaan Korsel dan Taiwan Dibobol, Pelakunya Ada Warga Depok

Ilustrasi, warga Depok terlibat dalam aksi pembobolan perusahaan asing. (Foto: Istimewa)
Ilustrasi, warga Depok terlibat dalam aksi pembobolan perusahaan asing. (Foto: Istimewa)

DepokToday- Seorang warga Depok bersama tiga orang rekannya terpaksa berurusan dengan polisi lantaran diduga terlibat dalam aksi pembobolan transaksi dana perusahaan di Korea Selatan, Simwoon Inc dan Taiwan, White Wood House Food.

Pelaku masing-masing diketahui berinisial NT (38 tahun) warga Depok, CR (25), warga Jakarta Selatan, YH (24 tahun), warga Jakarta Selatan dan SA alias FR warga Jakarta Pusat.

Disitat DepokToday.com dari CNNIndonesia, keempat pelaku dibekuk Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri.

Baca Juga: Kejaksaan Depok Terima SPDP Penusukan Anggota TNI, Tiga Jaksa Profesional Ditunjuk

Adapun modusnya adalah penipuan business e-mail compromise (BEC) atau berkamuflase sebagai perusahaan mitra yang mengirimkan surat elektronik (surel) pemberitahuan perubahan nomor rekening.

“Korban perusahaan SW dari Korsel dan WHF dari Taiwan. Yang menyebabkan kerugian untuk perusahaan SW Rp 82 miliar. Lalu, untuk perusahaan WH kerugian Rp 2,8 miliar,” jelas Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigjen Asep Suheri dikutip pada Jumat 1 Oktober 2021.

Peran Warga Depok

Nah keempat pelaku ini memiliki peran berbeda. CR berperan sebagai pendiri perusahaan palsu yang menerima aliran dana dari tindak pidana tersebut. Kemudian, NT, warga Depok ini sebagai Direktur perusahaan palsu.

Sedangkan, YH diduga membuat rekening dengan identitas palsu dan digunakan untuk menerima aliran dana.

Baca Juga: Terpopuler DepokToday, 1 Oktober 2021: Anggota KKB Tewas, Cara Bikin Tikus Rumah Kapok

Terakhir, SA alias FR, ia juga berperan untuk membuka rekening di salah satu bank menggunakan identitas palsu agar bisa menampung aliran dana dari perusahaan asing tersebut.

Menurut keterangan polisi, keempat orang ini telah melancarkan aksinya sejak 2020 lalu. Penyidik meyakini masih ada pelaku lain yang terlibat dalam kasus itu.

“Data sudah kami kantongi, tinggal melakukan tindakan,” kata Asep Suheri dikutip dari CNNIndonesia.

Modus Para Pelaku

Lebih lanjut Asep menerangkan, modus yang digunakan dalam kejahatan ini ialah dengan memaksa masuk ke komunikasi perusahaan korban dengan mitra dagangnya yang berada di luar negeri. Email itu dikamuflasekan dengan mengganti satu digit angka di belakangnya.

Mereka, menggunakan identitas palsu yang digunakan untuk membuat dokumen seperti SIUP, SIB, akta notaris, dan lainnya. Perusahaan itu yang dimiripkan dengan perusahaan mitra untuk kemudian berpura-pura menjalin komunikasi.

Baca Juga: Bikin Kapok! Mantan Perwira Polri Ancam Pidanakan Manajemen AIA

Setelah itu, komunikasi antara tersangka dengan perusahaan korban terjalin. Para tersangka menyampaikan bahwa ada sejumlah perubahan dalam nomor rekening, tempat negara dan nomor rekening.

Ketika sudah ada konfirmasi transfer dari perusahaan korban, mereka kemudian mengambil uang yang diterima dan langsung ditarik tunai untuk diubah ke dalam valuta asing US$.

Baca Juga: Kadisdik Sebut Sampai Desember, PTM Terbatas Masih Fase Transisi

Dari tangan para pelaku polisi menyita sejumlah barang bukti, seperti uang tunai Rp 29 miliar, 3 unit HP, 90 buku tabungan dari berbagai bank, paspor para tersangka, 4 kartu ATM, 9 buku cek dari perbankan.

Kemudian polisi juga mengamankan 1 sepeda motor, 3 KTP tersangka, 1 NPWP tersangka, surat izin usaha, cap perusahaan. Kasusnya kini dalam penyelidikan lebih lanjut. (rul/*)