Soal ABG Citayam di Sudirman, Pengamat UI Devie Rahmawati Sarankan Rajin-rajin Tengok Konten Mereka

- Selasa, 5 Juli 2022 | 13:00 WIB
Ilustrasi fenomena ABG Citayam di Sudirman (Foto: Tangkapan layar YouTube Sipasan Channel)
Ilustrasi fenomena ABG Citayam di Sudirman (Foto: Tangkapan layar YouTube Sipasan Channel)

DepokToday.com –Pengamat Sosial Universitas Indonesia (UI), Devie Rahmawati ikut mengomentari keberadaan sejumlah remaja asal Citayam dan Bojonggede yang belakangan ini berseliweran di wilayah elit Sudirman, Jakarta.  

Menurut Devie Rahmawati, selama apa yang mereka lakukan tidak mengandung unsur-unsur berbahaya maupun kesehatan, tentu saja ini menjadi hal yang tidak perlu dikhawatirkan.

Namun ketika dari berbagai wawancara misalnya ditemukan ada perilaku-perilaku yang unik, dan diekspresikan lewat media sosial maka yang dapat dilakukan adalah ada ikut mengawasi.

“Rajin-rajin menengok konten-konten yang diproduksi oleh anak dan remaja,  sehingga kita bisa mengantisipasi perilaku-perilaku yang kita lihat bisa berujung pada perilaku yang membahayakan diri mereka atau bahkan teman-teman mereka, seperti perilaku berhubungan lebih dekat dengan sesama remaja tersebut,” jelasnya dikutip pada Selasa, 5 Juli 2022.

Baca Juga: Disdik Depok Periksa Guru SD yang Kaitkan Habib Rizieq dengan Holywings

“Nah hal tersebut bisa diantisipasi lebih awal dengan melihat berbagai percakapan yang mereka lakukan. Antisipasinya seperti apa? Bukan kemudian kita mengekang mereka, kita harus mengajak mereka berdialog gitu ya, artinya dialog itu menjadi penting karena untuk memberikan pemahaman kepada mereka,” sambungnya.

Ilustrasi ABG Citayam di Sudirman (Foto: Tangkapan layar YouTube Sipasan Channel)

Karena menurut Devie Rahmawati, di masa-masa remaja biasanya masa-masa yang memang mengidamkan kebebasan dan menghindari adanya tekanan dari figur-figur otoritatif.

“Mereka lebih senang kalau kemudian berbagai masukan nasehat dan sebagainya, di berikan dalam bentuk dialog yang menunjukkan bahwa kita memiliki kesetaraan dengan mereka, atau artinya mereka memiliki kesetaraan tidak dalam posisi sub kordinat, berada di bawah. Karena ketika kita bertindak seperti menggurui, maka mereka cenderung akan menghindar,” katanya.

Halaman:

Editor: Zahrul Darmawan

Tags

Artikel Terkait

Terkini

85 Persen Rumah Tinggal Warga di Jakarta Bebas PBB

Kamis, 18 Agustus 2022 | 08:00 WIB

Jalan Margonda dan Sekitarnya Macet Akibat Banjir

Selasa, 16 Agustus 2022 | 19:03 WIB
X