Pengakuan Janda Muda Pilih Bisnis Seks di Apartemen Margonda

Polisi bongkar kasus prostitusi di apartemen Margonda (DepokToday, Rul)

DEPOK– Belum lama ini polisi kembali membongkar kasus prostitusi terselubung yang memanfaatkan kamar apartemen di wilayah Margonda, Depok, Jawa Barat. Para pekerja seks komersil (PSK) yang dijajakan oleh muncikarinya pun beragam, dari mulai gadis, hingga janda.

H salah satunya. Wanita 23 tahun, janda anak satu ini terpaksa diamankan aparat lantaran tertangkap sedang beroperasi di apartemen Margonda Residence II, Depok. Untuk sekali kencan, harga yang ditawarkan oleh janda molek ini berkisar Rp 600 ribu-an. Tarif itu sudah termasuk sewa kamar apartemen.

Dalam bisnis ini, H tidak sendiri. Ia mengandalkan sang muncikari, yakni pemuda berinisial MR (21 tahun). Pada penyidik MR mengaku, dirinya baru satu bulan terakhir kenal dengan H. Ia pun berkelit, bahwa H lah yang menawarkan dirinya agar dicarikan pelanggan. Untuk sekali booking, MR mengaku mendapat jatah Rp 150 ribu.

“Iya itu untuk short time (sekali kencan),” katanya dengan wajah tertunduk lemas saat ditemui di Mapolresta Depok pada Selasa 22 Oktober 2019

MR beralasan, dirinya tak bisa menolak permintaan H untuk menjadi PSK lantaran terdesak kebutuhan ekonomi. “Karena kasian juga, dia kan janda anak satu buat kebutuhan ekonomi, ya bantu dia juga,” ujarnya

Pemuda berbadan kurus ini mengatakan, dirinya mengenal H lantaran kerap menyewa kamar di apartemen itu.  “Awalnya saya kan nyewain kamar di apartemen itu. Terus dia suka nyewa kamar sama saya. Sekalian dia minta cariin pelanggan,” tuturnya

MR mengaku, pelanggan H beragam, ada yang pria dewasa hingga remaja. Bisnis haram ini dilakukan MR melalui aplikasi media sosial (medsos). Caranya dengan memajang foto H. “Akun itu saya yang megang, kalau ada yang minat ya tinggal saya kasih nomornya ke dia (H).”

Saat ini polisi masih terus mendalami keterangan pelaku untuk mengungkap jaringan lainnya atas kasus ini. Dan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, MR diancam dengan undang-undang perdagangan orang. Sedangkan H ditetapkan sebagai korban.

“Atas kasus ini yang bersangkutan (MR) kami jerat pada pasal perdagangan  orang. Karena dia meraup keuntungan dari H, yang dalam hal ini kami ketegorikan sebagai korban,” kata Kasubag Humas Polresta Depok, Ajun Komisaris Polisi Firdaus. (rul)