Pemerintah Terus Waspadai Gelombang Ketiga COVID-19, Ini Alasannya

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan meminta perusahaan taati aturan PPKM Darurat saat konferensi pers virtual, Senin 5 Juli 2021. Foto: Tangkapan layar Youtube Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi RI.
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan meminta perusahaan taati aturan PPKM Darurat saat konferensi pers virtual, Senin 5 Juli 2021. Foto: Tangkapan layar Youtube Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi RI.

DepokToday – Pemerintah tengah berjaga-jaga untuk mengantisipasi gelombang ketiga COVID-19. Hal itu disampaikan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dalam konferensi pers evaluasi PPKM secara virtual, Senin 18 Oktober 2021.

Dia mewanti-wanti masyarakat agar tidak abai terhadap protokol kesehatan, sebab dari hasil pengamatan diketahui banyak warga melupakan penerapan prokes secara ketat.

“Karena tadi Presiden mengingatkan juga, sudah banyak kegiatan-kegiatan yang kadang-kadang mengabaikan protokol kesehatan. Baik di tempat pernikahan maupun di tempat-tempat kegiatan lain,” ungkap Luhut seperti dikutip dari Kompas.com, Selasa 19 Oktober 2021.

Jika pengabaian prokes berlanjut, pemerintah memprediksi gelombang ketiga COVID-19 akan terjadi pada natal nanti.

“Kami sekali lagi mengimbau agar seluruh masyarakat patuh karena kami masih berjaga-jaga terhadap kemungkinan gelombang ketiga yang akan terjadi pada nanti Natal. Jadi semua kita harus berhati-hati,” ucap Luhut.

Dia menyampaikan, situasi pandemi COVID-19 terus terkendali pada tingkat yang rendah. Kasus konfirmasi Indonesia dan Jawa, Bali masing-masing telah turun hingga 99 persen dari kasus puncaknya pada 15 Juli lalu.

Rendahnya kasus konfirmasi harian menyebabkan kasus aktif nasional dan Jawa-Bali terus menunjukkan penurunan.

Baca Juga: Ketahui, Ini Daftar 21 Jenis Penyakit dan Layanan yang Tidak Dicover BPJS Kesehatan

Luhut menyampaikan, saat ini hanya tersisa kurang dari 20.000 kasus aktif di nasional dan kurang dari 8.000 kasus aktif di Jawa dan Bali. Jauh menurun dibandingkan lebih dari 570.000 kasus aktif pada puncak varian Delta.

Begitu pula dengan angka kematian di Jawa dan Bali yang diklaim nihil alias nol. Sama halnya di provinsi lain di Jawa dan Bali hanya mencatat kurang dari 5 kematian per hari.

Luhut meyakini, tingkat kematian yang rendah mampu dijaga seiring dengan capaian vaksinasi lansia Jawa Bali yang meningkat tajam.

“Namun, langkah akselerasi tetap perlu dilakukan karena saat ini cakupan vaksinasi lansia Jawa Bali baru mencapai 43 persen. Kita ingin cakupan vaksinasi lansia dapat mencapai 70 persen,” terang dia. (lala/*)