Patahkan Mitos Si Pitung: Mayatnya Nggak Dipotong dan Tuak Terakhir

Ilustrasi si Pitung (Foto: Istimewa)
Ilustrasi si Pitung (Foto: Istimewa)

DepokToday- Budayawan Betawi, Ridwan Saidi mengungkap fakta berbeda dibalik sosok Pitung, jawara yang tersohor pada zamannya sampai sekarang. Lantas benarkah si Pitung sakti dan bahkan jasadnya sampai harus dimutilasi agar tak bangkit lagi?

Menyambung kisah sebelumnya yang sempat ditayangkan Depoktoday.com: Tak Banyak yang Tahu, Ternyata Ini Fakta Menarik Si Pitung

Pitung menjadi buronan usai membalaskan dendam pada seorang demang Belanda atas kematian saudaranya yang bernama Ji Ih. Si demang tersebut, kata Ridwan Saidi, dihabisi Pitung dengan cara ditembak.

Sejak saat itulah, cerita tentang sepak terjang Pitung banyak beredar hingga membuat takut Belanda.

“Jadi jasa besar Pitung adalah sosoknya ini menciptakan ketakutan bagi Belanda, karena tersiar dongeng macem-macem tentang si Pitung,” ujarnya dikutip dari channel YouTube Macan Idealis pada Rabu, 3 November 2021.

Baca Juga: Waspada! Pelaku Cabul Modus Pamer Mr P Kembali Teror Warga Depok

Menurut penelitian Margreet van Tiil, kisah Pitung yang digambarkan dengan berbagai kesaktian itu, sampai ke telinga Kepala Polisi Belanda. Bahkan, saking takutnya ia sampai berkonsultasi ke dukun untuk menghadapi jawara Betawi tersebut.

“Nah ini membuat Pemerintah Belanda marah. Karena tidak ada orang Belanda main dukun, baru ini kepala polisi. Masa polisi main dukun. Ini tidak benar (kata petinggi Belanda),” ujarnya.

Baca Juga: Pesugihan Bisa Dibatalkan, Begini Tipu Daya Setan Modus Penyembuhan

Kepala polisi tersebut, lanjut Ridwan Saidi, dianggap tidak memperhitungkan strategi Pitung, yang diyakini dapat memanfaatkan kereta api untuk berpindah-pindah lokasi.

“Dia bilang sangat mungkin pitung hidup dari satu kereta ke kereta api lain, karena dia banyak uang, dia kan juru tulis. Dia buronan. Jadi pitung lari nggak diketahui, nggak jelas juga kapan dia membunuh Demang Kebayoran,” ujarnya.

Akhir Pelarian Si Pitung

Singkat cerita, lanjut Ridwan Saidi, Belanda kemudian menyebar mata-mata ke berbagai wilayah hingga akhirnya jejak Pitung pun terlacak.

“Akhirnya diketahui bahwa Pitung sering melintas di Kali Malang menuju Pondok Kopi. Disitulah dia dicegat kepala polisi dan pasukannya tadi. Saat itu mereka sudah bawa ambulans,” ujarnya.

“Dia (Pitung) ditembak sebanyak 4 peluru, dan memang satu peluru emas. Jadi tetap kepala polisi ini dengar omongan dukun,” sambungnya.

Baca Juga: Tragis, Janda Depok Tewas Gantung Diri Akibat Utang Pinjol

Namun kala itu, Pitung tidak langsung mati, ia sempat sekarat hingga akhirnya menyebut satu permintaan terakhir.

“Dia nggak mati, apakah kebal? Wallahu a’lam.  Setelah ambruk baru dia diangkut ke ambulans. Di ambulans dia nyanyi lagu Nina bobo. Disini terlihat bahwa pitung rindu orangtua. Sosok ibu,” katanya.

Budayawan Betawi, Ridwan Saidi (kiri) sarung biru. (Foto: Tangkapan layar YouTube)

Tingkah Pitung yang terus bernyanyi saat sekarat membuat kepala polisi tersebut jengkel.

“Heh Pitung, koe nyanyi terus, nyanyi terus. Harusnya koe mengajukan permohonan terakhir, bukannya nyanyi terus. Pitung bilang saya mau tuak pakai es. Disaat sekarat, dibeliin. Dijalan kan banyak tukang tuak. Dia minum nggak selesai, dia mati.”

Baca Juga: Ketika Tim Jaguar Ditantang Duel Hingga Dikerjai Gerombolan Pemabuk

Jasad Pitung kemudian dibawa oleh pasukan Belanda ke rumah sakit yang kini dikenal dengan sebutan RSPAD Gatot Subroto. Karena tidak ada yang mengenali Pitung, maka jenazahnya di makamkan di pelataran rumah sakit.

Pada zaman itu, cara tersebut dianggap biasa bagi mereka yang memang tak punya keluarga atau korban kecelakaan tanpa identitas.

“RSCM aja masih melaksanakan itu sampai tahun 70-an. Tapi nggak pakai nisan dan lain-lain. Juga nggak dipotong empat. Intinya tidak ada yang mengenal, karena keluarga nggak ada yang ngaku, kala itu takut dengan Belanda.” (rul/*)