Pasien COVID-19 Meniggal Lagi Tinggi, Jumlah Relawan Tak Sebanding

Ilustrasi petugas pemulasaran jenazah pasien COVID-19. Akhir-akhir ini stok peti mati di Kota Depok mulai mengalami kehabisan stok. (DepokToday.com)
Ilustrasi petugas pemulasaran jenazah pasien COVID-19. Akhir-akhir ini stok peti mati di Kota Depok mulai mengalami kehabisan stok. (DepokToday.com)

DEPOK – Koordinator Relawan Satgas COVID-19 Kota Depok, Denny Romulo menyebut, saat ini sedang terjadi peningkatan jumlah pasien meninggal yang luar biasa.

Akibatnya, tidak sedikit kasus pasien meninggal yang telat tertangani karena keterbatasan jumlah relawan pemulasaraan.

“Jumlah relawan se-Kota Depok 20 orang, rata-rata yang meninggal bisa di atas 20, pernah waktu itu 46 orang yang positif COVID-19 dan suspect itu ya,” kata Denny kepada wartawan, Rabu 14 Juli 2021.

Salah satu kejadian keterlambatan pemakaman yang cukup menyita perhatian adalah meninggalnya Ade Aditia Setiadi, 32 tahun warga Kecamatan Pancoran Mas pada Jumat 9 Juli 2021 lalu.

Baca Juga: Siti Fadilah Ungkap Penyebab Pasien COVID Banyak yang Meninggal

Denny menjelaskan, saat kejadian itu disaat yang bersamaan ada kurang lebih 11 pasien meninggal yang harus mendapatkan pelayanan secara bersamaan.

“Memang pada saat itu kasus tinggi, di Pancoran mas saja ada 5 pasien meninggal di rumah sakit dan 6 meninggal di rumah,” kata Denny.

Denny pun meminta kepada masyarakat, agar bersabar untuk mendapatkan pelayanan, mengingat saat ini kasus meninggal pasien COVID-19 sedang melonjak sementara jumlah relawan terbatas.

“Diharapkan masyarakat agar sabarlah, karena situasi begini, yang penting kan semuanya tertangani. Kita juga harus lihat dedikasi teman-teman relawan-relawan ini yang mau bekerja dengan risiko tinggi,” kata Denny.

Denny pun mengatakan, pihaknya telah berupaya untuk mengatasi hal tersebut dengan menempatkan koordinator relawan pada 11 Kecamatan se-Kota Depok, agar kerja relawan tingkat kota bisa terbantu.

“Dengan adanya koordinator di kecamatan, camat lurah atau rw (bisa) sigap juga, misalnya menyediakan mobil jenazah sendiri dan sebagainya,” kata Denny.

Karena menurut Denny, salah satu penyebab keterlambatan selain minimnya tenaga relawan adalah kurangnya mobil jenazah, “Lah kalau mau nunggu mobil (jenazah) ya nggak mungkin lah, mobil TPU (DLHK) ada 2 mobil jenazah ditambah 1 mobil dari damkar, cuma 3 mau keliling se- Kota Depok, mau sampe kapan kalo kita ga kolaborasi bareng-bareng dengan masyarakat,” beber Denny. (ade/*)