[OPINIKU] PSBB di Depok Mengikat Tapi Menyampingkan Ikatan Perut

Zubair.(Istimewa)

SURAT untuk Bapak Wali Kota Depok dan jajarannya. Teruntuk Bapak Camat dan Lurah se-Kota Depok beserta jajarannya.

Sejak 20 Maret 2020, kami sudah ikut berkontribusi. Bukan hanya duduk bersama membahas Corona, berbagai peran, dan langkah kami ingin turut berjuang seperti legenda sebelumnya yaitu Margonda-pemuda dari Depok yang terkenal di masanya-.

Mulai Besok (15/4/2020), Kota Depok akan menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Mohon bantu cari solusi
BERSAMA LAWAN COVID-19 PSBB Kota Depok yang berlaku mulai 15 April-28 April 2020.

1. BELAJAR DI RUMAH

Hampir seluruh sekolah swasta taraf madrasah tidak bisa mendapatkan arahan belajar di rumah. SPP saja masih banyak yang nunggak. Apalagi harus belajar di rumah dengan online dan lainnya. Ini Depok bukan Jakarta bagaimana nasib anak anak yang tidak sekolah. Bagaimana nasib gurunya di sekolah, bahkan pengajian-pengajian di rumah, semua tutup tanpa ada tuntutan.

2. BEKERJA DARI RUMAH

Berapa persen penduduk Depok dapat menerapkan ini semua, bahkan di stasiun kereta mereka harus berjibaku hulu hilir ke Jakarta, belum lagi para usaha kecil lainnya, parkir stasiun, kantin sekolah dan lainnya.

3. IBADAH DI RUMAH

Terakhir nisfu sa’ban masih ada 1 atau 2 kegiatan. Belum lagi saat Ramadan datang, ingat Depok adalah kota religius. Ada banyak pesantren dan budaya keagamaan yang sudah tradisi turun temurun. Siapa yang mampu memberi edukasi? Dan berapa titik yang mampu terjangkau.
Depok bukan hanya Margonda.

4. BERKUMPUL DIBATASI

Lantas siapa yang akan turun mencari solusi. Badan amil zakat sudah mulai sibuk menakar beras. Namun belum dapat di pastikan seluruh mustahiq Covid-19 mendapatkan. Data? siapa? berapa persen dan berapa lama?

5. SARANA DAN PRASARANA

Berapa tempat yang sudah disterilkan dengan disinfektan. Bekas orang berkumpul. Bekas orang kegiatan. Siapa yang mampu memastikan bahwa sarana tersebut tetap terjaga, bersih dan tak ada sampah berserakan!

6. KHITAN DAN PERNIKAHAN

Para remaja Depok masih banyak berjalan di jalan. Usaha katering, percetakan semua menelan pahit kerugian. Apakah mereka mendapatkan santunan?

7. PENGURUS DAN TAKZIAH KEMATIAN

Seberapa paham masyarakat sekitar memahami protokol kematian, baik dampak wabah atau lainnya? Di depok pernah ada penolakan yang sama, seperti daerah lainnya. Sudahkan mengevaluasi.
Sudahkah memberi edukasi. Sudahkah hak korban keluarga akibat Covid-19 terpenuhi?

8. JAM OPRASIONAL PASAR

Pedagang kaki lima, pedagang keliling, berbeda dengan toko swalayan, mereka cukup menyediakan hand sanitizer dan keamanan tapi semua tidak menjadi jaminan. Covid-19 bukan saja dari tatapan, tapi dari benda yang berpindah tangan.
Lantas apa keamanan untuk mereka? nasib usaha mereka?

9. RESTORAN/WARUNG MAKAN

Berapa persen pasokan makan terjamin aman bagi masyarakat, gas elpiji, telur, minyak dan beras menjadi kebutuhan dasar. Dan berapa banyak yang tersedia untuk para konsumen bisa mencuci tangan. Rasa lapar tinggal menunggu waktu, distribusi logistik siap saling tuduh, kenapa disana dapat disini tidak itu hanya bayang-bayang, semoga tidak terjadi.
Ingat Depok bukan hanya di Margonda.

10. TRANSPORTASI

Lihat stasiun kereta apa yang terjadi, berapa banyak alat pembersih di stasiun bisa memadai. PSBB mengikat tapi menyampingkan ikatan perut di setiap orang yang masih berjibaku untuk menunaikan kewajiban.

Berapa angkot bisa di pastikan aman. Berapa ojek yang harus terdiam karena sulit mendapatkan tumpangan. 1/2/3 hari bukan hanya perut orang dewasa.Tapi juga anak anak mereka, mungkin masih balita, atau tanggungan keluarga orang tua yang sudah renta.

11. WAJIB MELAKSANAKAN PSBB

Lantas siapa yang menjamin warga yang sudah tidak bisa kemana-mana. Lantas harus mengadu kemana? Jika RT/RW/Lurah masih rapat di meja. Juklak, jukdis harus di patuhi, birokrasi kontrakan tak mampu didata hingga kini. Perumahan bisa menutup diri, para tukang dan kuli hanya gigit jari sama seperti kami.

12. OPTIMALKAN KAMPUNG SIAGA

Dimana peran kepemudaan dari kelurahan?karang taruna? Remaja masjid dan musala? LPM? Kami hanya komunitas yang segelintir ingin dan menanti sinergitas, gotong royong. Bukan diskusi untuk menyalahkan. Terbuka dan transparan ini Covid-19 semua bisa berimbas.

13. WAJIB MENGGUNAKAN MASKER

Berapa harga masker? sudahkah pabrik masker dikondisikan? Berapa banyak klinik, puskesmas bisa membagikan masker untuk pasien. Berapa banyak sampah yang masih berserakan.

Bukan hanya hidung yang tersumbat, tapi mata pura-pura tak melihat. Kembali ke hidup bersih dan sehat. Kota Depok terkenal karena MARGONDA, sang pemuda yang berjuang untuk merdeka.●

Ditulis oleh Zubair, Founder Komunitas Ruang Ilmu Bertumbuh Mandiri (Rimbun).