[OPINIKU] Pandemi COVID-19 sebagai Momentum untuk Berjihad

Cokky Guntara, S.Ag.(Foto: Istimewa)
Cokky Guntara, S.Ag.(Foto: Istimewa)

DepokToday—Sudah hampir dua tahun Indonesia mengalami kondisi terpuruk. Hal itu disebabkan lantaran masuknya virus COVID-19 dan menyebar sedemikian pesat. Sehingga pemerintah harus berfikir bagaimana cara untuk menekan angka penularan virus tersebut.

Upaya demi upaya sudah dilakukan oleh pemerintah. Pada periode awal masuknya virus tersebut, pemerintah menerapkan kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), kemudian New Normal sampai yang sedang berlaku hari ini yaitu PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat).

PPKM Level 4, aparat gabungan TNI, Polri, Dishub dan Satpol PP melakukan penyekatan di kawasan Margonda. (DepokToday.com)
PPKM Level 4, aparat gabungan TNI, Polri, Dishub dan Satpol PP melakukan penyekatan di kawasan Margonda. (DepokToday.com)

Namun semuanya itu dianggap belum mampu menjadi solusi yang efektif dalam penanganan penyebaran kasus COVID-19.

Tidak hanya itu, selain belum berhasilnya upaya-upaya pencegahan penyebaran virus Corona, ada dampak lain yang mesti diperhatikan. Di antaranya adalah dampak terhadap masyarakat menengah ke bawah.

Masyarakat mengalami kesulitan mencari nafkah untuk keluarganya, ada pula yang kehilangan pekerjaannya. Penyebabnya adalah lantaran kebijakan yang melarang atau membatasi aktifitas perekonomian. Belum lagi masyarakat yang harus kehilangan pekerjaannya, tentu karena dampak dari kebijakan itu pula.

BACA JUGA: Pemerintah Diminta Perhatikan Para Janda Korban Pandemi COVID

Memang betul bahwa pemerintah melakukan upaya dalan pemenuhan kebutuhan ekonomi masyarakat. Seperti bantuan-bantuan sembako, uang tunai dan lain sebagainya. Namun terkadang pendistribusiannya yang tidak atau belum merata, dan tidak pula terjamin mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Sebagai sesama masyarakat, hal ini tentu menjadi satu potret yang cukup menyentuh hati. Bagaimana tidak, kita diperlihatkan orang-orang di sekitar kita yang mengeluh lantaran tidak ada biaya untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Belum lagi jika terdapat anggota keluarganya yang terpapar COVID-19. Tentu keadaan ini layaknya jatuh dan tertimpa tangga. Terlalu banyak penderitaan dan kesulitan yang dirasakan oleh masyarakat.

Diam Bukan Pilihan

Lalu, apakah keadaan yang sedemikian itu membuat kita harus berdiam diri dan pasrah? Tentu tidak. Meski kita boleh berharap kepada pemerintah untuk menyelesaikan segala persoalan ini, namun sebagai bagian dari bangsa Indonesia, tentu diam bukanlah pilihan yang tepat.

Indonesia adalah bangsa yang kuat karena budaya gotong royongnya. Tentu semangat ini harus kita jaga bersama, apalagi dalam menghadapi gelombang ujian yg besar ini. Sayangnya, tidak sedikit juga (sebagian) masyarakat yang acuh dan tidak perduli terhadap sesama.

Padahal, dalam keadaan pandemi seperti ini, kesadaran untuk saling peduli antar sesama harus dibangkitkan. Sudah waktunya masyarakat yang apatis, berhijrah menjadi insan yang memiliki kepedulian yang tinggi.

BACA JUGA: Bikin Haru, Petugas Rutan Depok Patungan Beli Sembako untuk Warga Terdampak COVID

Dalam Islam, jelas sekali kita diperintahkan untuk saling tolong menolong dan bahu membahu. Di mana yang kuat harus menolong yang lemah, yang kaya membantu yang miskin, yang sehat memperhatikan yang sakit. Hal ini lantaran Allah secara langsung mengamanatkannya dalam dalil Alquran kepada seluruh umat manusia. Surat Al-Maidah ayat 2, Allah SWT berfirman:

وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْبِرِّ وَٱلتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْإِثْمِ وَٱلْعُدْوَٰنِ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ

”Dan tolong-menolong lah kamu dalam kebaikan dan ketakwaan. Dan janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwa lah kamu kepada Allah, sesungguhnya siksa Allah sangat berat.”

Secara gamblang Islam menjelaskan bahwa tolong menolong merupakan perintah Allah, serta merupakan bagian dari pada jihad dalam pengertian upaya menuju kebaikan.

Jihad Kemanusiaan

Berbicara tentang jihad, Istilah ini tidak boleh diartikan dalam pengertian yang sempit. Seperti halnya berperang, menaklukan musuh, dan lain sebagainya. Jihad memiliki makna yang luas, yang salah satu di antara pengertiannya adalah upaya menuju kebaikan.

Kemudian praktik jihad pun harus sesuai dengan konteks dan keadaannya. Jika dalam konteks berkehidupan seperti di Indonesia, dimana isinya penuh perdamaian, santun, serta toleran, tentu jihad dalam artian perang merupakan suatu hal yang tidak tepat untuk dilakukan.

Lalu jihad yang seperti apa yang tepat dilakukan pada pandemi saat ini? Tentu jihad yang mengandung makna menuju kebaikan. Seperti halnya menyuarakan semangat untuk melawan virus corona, membantu sesorang yang sedang dalam keadaan sulit, membantu orang yang terpapar COVID-19, itu merupakan bentuk jihad yang tepat.

BACA JUGA: Bikin Heboh, Dokumen Hasil Test COVID-19 Jadi Bungkus Gorengan

Dalam Alquran Perintah jihad secara fisik selalu diawali dengan berjihad dengan harta baru mempertaruhkan jiwa (wa jahidu bi amwalikum wa amfusikum). Sebagaimana Quran Surah Al Hujurat ayat 15;

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan hrta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS: Al-Hujurat 49:15).

 

Dengan demikian, jelas sudah bahwa Allah SWT menyerukan kepada kita untuk mengutamakan berjihad dengan harta, baru kemudian dengan jiwa.

Dalam konteks pandemi seperti sekarang, inilah momentum yang tepat untuk menjalankan salah satu perintah agama, yaitu berjihad dengan harta.

Dengan cara menyisihkan sebagian harta yang kita miliki, untuk membantu orang-orang yang sedang membutuhkan atau sedang mengalami kesulitan ekonomi karena dampak pandemi.

Karena itu, Indonesia akan tetap utuh dan kuat melawan badai virus corona jika antara sesama masyarakat mau berjihad dengan harta dan jiwanya, untuk menolong terhadap saudara sebangsanya.

Opini ini ditulis oleh: Cokky Guntara, S.Ag (Aktivis Muda Nahdlatul Ulama).