[OPINIKU] Manajemen Risiko Pada Sektor Pariwisata di Tengah Pandemi COVID-19

PEREKONOMIAN merupakan sektor terpenting dalam pembangunan ekonomi suatu negara. Tinggi rendahnya pendapatan disuatu negara pada sektor perekonomian dapat berpengaruh terhadap pembangunan nasional.

Awal tahun 2020 dunia digemparkan dengan adanya pandemi COVID-19. Pandemi COVID-19 merupakan penyakit menular, dimana proses dalam penyebarannya sangat cepat. Semakin hari penyebarannya semakin meningkat.

Pandemi COVID-19 ini membuat berbagai sektor perekonomian di Indonesia sangat menurun bahkan babak belur. Hal ini membuat para pelaku usaha gigit jari, termasuk pelaku usaha pada sektor pariwisata.

Dibaca Juga: https://depoktoday.hops.id/opiniku-strategi-pemasaran-properti-saat-pandemi-virus-corona/

Pemerintah Indonesia melakukkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). PSBB ini dilakukan untuk membatasi kegiatan-kegiatan masyarakat di tempat umum untuk mencegah penyebaran virus COVID-19 ini.

Pembatasan kegiatan yang dilakukan antara lain pembatasan liburan sekolah dan kerja, serta pembatasan kegiatan lain di tempat umum. Namun kebijakan PSBB ini menyebabkan kunjungan wisatawan berkurang sangat signifikan. Menurunnya kunjungan wisatawan ini sangat berimbas terhadap pemasukan pelaku usaha pariwisata.

Sektor pariwisata di Indonesia juga terkena dampak dari pandemi COVID-19 ini. Lebih dari 2.000 hotel dan 8.000 restoran harus menutup usahanya sampai keadaan membaik.

Hal ini menyebabkan kerugian sebesar 70 triliun rupiah untuk ribuan hotel dan restoran tersebut selama Januari hingga April 2020. Kemudian industri pesawat terbang juga mengalami kerugian sebesar 812 juta US dolar. Pada sektor pariwisata, 13 juta pekerja harus dirumahkan tanpa diberikan tunjangan (UNTWO, 2020).

Berdasarkan data Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) mencatat bahwa, hingga bulan April 2020 total kerugian industri pariwisata Indonesia mencapai angka Rp 85,7 triliun. Ribuan hotel dan restoran terpaksa tutup begitu pula dengan sejumlah maskapai penerbangan yang ikut alami kerugian.

Destinasi wisatawan domestik maupun mancanegara masih harus ditutup untuk menahan laju penyebaran virus corona di Tanah Air. Meningkatnya COVID-19 ini menjadi tantangan bagaimana pemulihan sektor pariwisata di Indonesia.

Dalam situasi seperti ini perlu adanya strategi manajemen risiko untuk menghadapi situasi selanjutnya yaitu situasi new normal. Risiko memiliki arti akibat yang kurang menyenangkan (merugikan, membahayakan) dari suatu perbuatan atau tindakan.

Dalam dunia bisnis terdapat risiko bisnis, yang mana risiko tersebut memiliki kesempatan untuk mendapatkan keuntungan maupun kerugian. Pada saat ini sektor pariwisata mengalami kerugian yang diakibatkan adanya pandemi COVID-19.

Maka dari itu diperlukan upaya ataupun strategi untuk memulihkan sektor pariwisata ini dengan melakukan perencanaan ulang terhadap keberlanjutan usaha pariwisata.

Strategi yang dapat dilakukan selain melakukan perencanaan ulang yaitu merekrut sumber daya manuasia atau re-manajemen sumber daya manusia. Pada risiko bisnis, sektor pariwisata dapat merekrut karyawan baru yang efektif guna melancarkan proses pemulihan usaha pariwisata.

Sedangankan pada risiko operasional, sektor pariwisata dapat re-manajemen sumber daya manusia atau melatih sumber daya manusia guna mampu mendorong pengembangan usaha pariwisata hingga dapat pulih dalam waktu yang cepat.

Strategi dalam upaya pemulihan pariwisata tidak hanya dapat dilakukan secara internal, namun dapat dibantu dengan upaya eksternal juga. Yaitu dengan melakukan kerjasama dengan pemangku kepentingan yang terkait dengan pariwisata guna pemulihan pariwisata pasca pandemi COVID-19.

Strategi risiko bisnis lain yang dapat dilakukan yaitu dengan upgrading sistem pada pariwisata. Yang mana sektor pariwisata dapat melakukan penyemprotan disinfektan ditempat pariwisata, membatasi pengunjung yang datang agar tetap social distancing, memberikan perlindungan dengan menyediakan masker dan handsanitizer bagi para pengunjung agar pengunjung tetap merasa aman, serta melakukan update informasi tentang pentingnya menjaga kesehatan sehingga pengunjung tetap bisa melakukan wisata dengan tenang dan aman.

Manajemen risiko ini sangat penting dalam suatu usaha, baik usaha dalam sektor pariwisata maupun sektor usaha lainnya. Maka pelaku usaha diharapkan dapat menerapkan manajemen risiko pada usahanya.

Ditulis Oleh: Fabela Tri Wardani, Mahasiswi STEI SEBI.