[OPINIKU] Kemanakah Mohammad Idris akan Berlabuh?

Mohammad Idris.(Foto-foto: Istimewa)

PEMILIHAN Kepala Daerah (Pilkada) Kota Depok tahun 2020 masih lama dihelat. Tapi sejumlah drama sudah dilakoni oleh para elite partai politik (parpol).

Tujuannya untuk mendapatkan perhatian masyarakat, khususnya figur yang memang niat mencalonkan diri sebagai wali kota atau wakil wali kota. Baik bagi sang petahana (orang yang sedang memegang jabatan dan ikut pemilihan agar dipilih kembali) maupun sang pendatang baru.

Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Gerindra, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Demokrat, dan Partai Golongan Karya (Golkar), punya drama masing-masing. Drama politik itu ternyata cukup menyita perhatian publik.

PKS dengan drama Pemilihan Internal Raya (Pemira) yang kini hanya menyisakan tiga bakal calon wali kota saja, menjadi paling viral. Dramanya bahkan memasuki episode cinta yang hilang.

Sebab, PKS tidak mengikutsertakan nama Mohammad Idris (Wali Kota Depok saat ini) dalam proses penggodokan itu. Padahal, dua edisi pilkada terakhir, PKS adalah partai pengusung yang sukses mengantarkan Mohammad Idris menjadi wakil wali kota mendampingi Nur Mahmudi Ismail (2010) dan menjabat wali kota Depok berpasangan dengan Pradi Supriatna (2015).

Sinyal tidak terangkutnya Mohammad Idris dari PKS bahkan sudah sangat jelas diberikan oleh Presiden PKS, Sohibul Iman. Ia menyarankan agar Mohammad Idris jangan mengandalkan kursi PKS, tapi mencoba dengan partai lain.

Pernyataan Sohibul Iman menjadi “tamparan” keras bagi Mohammad Idris yang di pilkada serentak tahun ini, dari gelagatnya sih, kepingin banget mempertahankan kursi Depok 1.

PKS memang jago memainkan drama politik. Bahkan “aktor utama” seperti Mohammad Idris rela dijadikan peran pembantu (ada media yang menyebut sebagai ban serep PKS).

Pasti ada dasar mengapa PKS tidak mencantumkan Mohammad Idris dalam Pemira. Apakah karena “Sang Kiai” bukan kader partai. Atau mungkin juga Mohammad Idris punya jalur khusus sehingga sudah mengantongi golden tiket, tak perlu lagi diikutkan dalam Pemira PKS. Tapi yang jelas, beliau memiliki kedekatan khusus dengan orang PKS. Ini yang patut digarisbawahi!

Terancamnya posisi Mohammad Idris untuk kembali tampil di Pilkada Depok lewat PKS, jadi tanda tanya besar. 15 Tahun berhasil menguasai Depok dengan memenangkan tiga edisi pilkada (2005, 2010, 2015), PKS pasti punya ukuran capaian yang telah digoreskan “aktor utamanya”, mulai dari Nur Mahmudi Ismail sampai Mohammad Idris. Plus minus, lebih kurang, bagus jelek, baik buruk, pasti ada. Namanya juga manusia.

Nah, jika tidak diangkut lagi oleh PKS, kemanakah Mohammad Idris akan berlabuh? Dari jalur perseorangan atau independen sudah mustahil. Sang Petahana pun sepertinya terlihat santai menyikapi hal ini.

Apabila gagal dari PKS, toh masih ada partai lain yang sudah menyiapkan perahu, salah satunya Koalisi Tertata (PAN, PPP, Partai Demokrat, PKB). Atau bisa juga melamar bahkan dilamar oleh koalisi Gerindra-PDI Perjuangan. Kata peribahasa mah, masih banyak jalan menuju Roma.

Segala kemungkinan masih bisa terjadi. Apalagi pendaftaran peserta pilkada ke KPU Kota Depok masih beberapa bulan lagi. Artinya ada lobi-lobi politik sehingga drama yang disajikan saat ini, akhir ceritanya tidak seperti apa yang diharapkan sekelompok elite parpol dan juga sebagian masyarakat. Namanya juga politik, kawan bisa jadi lawan, pun sebaliknya.

Masih banyak celah, banyak lubang, banyak cara, dan juga banyak drama yang pada akhirnya Mohammad Idris benar-benar berangkat dengan model perahu seperti apa. Atau cuma jadi penonton, bukan seorang kandidat.

Pilkada Depok tahun 2020 tanpa petahana, baik Mohammad Idris maupun Pradi Supriatna, rasanya tak mungkin. Tak akan ada prestise pesta demokrasi lima tahunan itu. Pilkada Depok tahun 2020 juga akan kehilangan marwahnya. Semoga tidak begitu.(Tidar Aira, salah satu founder www.depoktoday.com)

Tulisan ini tidak mewakili kebijakan redaksi, murni pendapat pribadi.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here