[OPINIKU] Aswaja Sebagai Solusi Pembangunan Kota Depok?

Cokky Guntara.(Istimewa)

APAKAH Konsep Ahlusunnah Wal Jamaah (Aswaja) hanya bisa diterapkan dalam nilai-nilai keagamaan dan sosial? Bisakah Aswaja menjadi solusi dalam membangun sebuah daerah (kabupaten/kota).

Jika ingin tercipta tatanan masyarakat yang Toleran (Tasamuh) dan Moderat (Tawassuth), hanya bisa dicapai kalau asas keseimbangan (Tawazun) dalam komponen APBD (pendapatan, belanja dan pembiayaan) terjaga. Begitu juga jika fungsi Alokasi dan Distribusi anggaran yang menekankan pada prinsip keadilan (Ta’adul) selalu menjadi prinsip utama.

Jika kita jadikan kluster, maka kita bisa klasifikasi 2 kluster; Tawazun (Keseimbangan) dan Ta’addul/I’tidal (Keadilan) masuk dalam Cluster Inbound, yang merupakan proses perencanaan dan perumusan APBD kota Depok.

Keseimbangan dalam menjaga sumber sumber APBD menjadi sangat penting agar APBD kota Depok tidak defisit dan program Pemerintah Kota bisa jalan. Keseimbangan antara pembangunan wilayah daratan dan perairan menjadi sangat penting, keseimbaan antara pembangunan infrastrukrur, SDM dan kepentingan menjaga lingkungan harus selaras.

Dibaca Juga: https://depoktoday.hops.id/opiniku-perintah-agama-dalam-menjaga-kesehatan-bentuk-ikhtiar-pencegahan-penyebaran-covid-19/

Prinsip-prinsip Hablun minallah, Hablun minal ‘alam dan hablun minannas (keseimbangan hubungan antara kepentingan manusia-alam semesta-dan menjaga agama agar terus terjaga.

Agama diletakkan sebagai sumber nilai, dan ajaran dalam menjaga kemanusiaan dan alam semesta). Perencanaan APBD juga memuat fungsi Alokasi dan Distribusi. Alokasi untuk mengentaskan kemiskinan agar hasil pembangunan tidak hanya berputar pada orang-orang kaya saja (kay laa takunu dulatan bainal aghniyaa), dan Distribusi anggaran berpijak pada Keadilan (Ta’adul)

Jika Tawazun dan Ta’adul pada cluster Inbound bisa dilaksanakan, maka pada cluster Outbound (cluster hasil) akan tercipta stabilitas (Fungsi APBD) yaitu terciptanya tatanan masyarakat yang Tasamuh (Toleran) dan Tawassuth (Moderat).

Jika cluster Inbound dan Outbound bisa terlaksana, maka tugas berikutnya adalah menegakkan “Amar Ma’ruf Nahi Munkar” dengan mengutamakan pendekatan “Amar Ma’ruf bil Ma’ruf dan Nahi Munkar bil Ma’ruf”, Bukan “Amar ma’ruf bil Munkar dan Nahi Munkar Bil Munkar”

Paradigma ASWAJA buka hanya dalam soal agama dan sosial, tapi harus digunakan dalam mengawal agenda pembangunan Kota Depok agar bertumpu pada efisiensi, efektifitas dan maslahat.

Dari APBD kota yang berfungsi untuk keadilan, maka akan mampu menggerakkan pembangunan Kota, menggerakkan ekonomi rakyat. Gotong Royong-Swadaya-Toleransi ekonomi harus terwujud, bukan hanya oligarki ekonomi. Wallahua’lam.

Ditulis oleh Cokky Guntara (Ketua PC PMII Jakarta Selatan dan Generasi Muda NU)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here