Nyali Tole Iskandar dan Aksi Nekat Bersama Seekor Anjing

0
74
Keponakan Tole, Arifin Darmo Wahyu (Istimewa)

CIPAYUNG- Berani, jujur dan nekat, itulah gambaran sosok Tole Iskandar, pahlawan yang namanya dibadikan sebagai salah satu jalan di Kota Depok. Berlatar belakang darah biru alias bangsawan, rupanya tak menjadikan Tole Iskandar hanyut dalam gelimangan harta. Ia memilih gugur sebagai pejuang untuk bangsa ini.

Merujuk pada berbagai sumber yang didapat Depoktoday.com, sulung dari tujuh bersaudara pasangan Raden Samidi Darmorahardjo dan Sukati binti Raden Setjodiwiryo itu mengawali karir militernya sejak usia belasan tahun.

Sang ayah, yang menjabat sebagai menteri perairan pada zaman kolonial Belanda bahkan tadinya tidak tahu jika Tole Iskandar bakal angkat senjata sebagai seorang pejuang kemerdekaan.

“Saat itu keluarga atau orangtuanya tidak ada yang tahu.  Dia (Tole) balik-balik sudah jadi tentara, pakai samurai panjang,” kata Arifin Darmo Wahyu, keponakan Tole saat ditemui di kediamannya di wilayah Ratu Jaya, Depok, dikutip pada Rabu 11 November 2020

Menarik Lainnya : Jejak Tole Iskandar, Pentolan Kelompok 21 Kebanggaan Depok

Belakangan diketahui, Tole ternyata pernah digembleng bersama tentara Jepang. Karena prihatin dengan kondisi negaranya kala itu, Tole kemudian menggalang kekuatan untuk melawan Belanda hingga akhirnya mendapat dukungan dari keluarga.

Kala itu, pasukan yang dipimpinnya hanya berjumlah 21 orang atau yang dikenal dengan sebutan Kelompok 21. Meski usianya masih terbilang muda, namun sepak terjang Tole ternyata cukup disegani lawan maupun kawan.

“Anak buahnya respek sama beliau. Kalau jadi seorang pemimpin harus berani dan jujur, itu jadi patokan kita,” tutur Arifin

Beberapa kisah yang menggambarkan keberaniannya menyebut, Tole pernah menembak jatuh pesawat Nederlands Indie Civil Administration atau NICA. Pertempuran yang dilakukannya pun kerap membuat musuh kewalahan. Itu terjadi di Depok, Bogor hingga Sukabumi.

Namun karena jumlah pasukan dan senjata yang terbatas, Tole Iskandar dan para prajuritnya dipukul mundur hingga ke wilayah Cikasintu, Sukabumi, Jawa Barat, bersama Batalion 8 pada 1947. Disitulah akhir perjuangannya.

Kala itu, Tole memerintahkan pasukannya untuk mudur dan ia nekat ingin menyergap musuh bersama seekor anjing kesayangannya dengan bersembunyi di sebuah lubang. Di tempat itulah, pekik teriakan Tole yang terakhir sebelum akhirnya dihujani peluru lawan.

“Saat itu om saya ngumpet di parit, tadinya mau nyerang dari lubang itu, tapi ternyata musuh belum datang anjingnya sudah lompat duluan. Ya matilah dibredel disitu,” kata Arifin mengenang kisah yang diceritakan sang ibu dan koran-koran lawas yang dibacanya

Menurut keterangan Arifin, Tole meregang nyawa dengan cara tragis itu pada usia sekira 25 tahun dan belum menikah. Pangkat terakhirnya adalah Letnan Dua. Kini makam Tole Iskandar berada di Taman Makam Pahlawan Dreded, Kota Bogor, setelah dipindahkan dari Sukabumi.

“Om saya (Tole) meninggal saat masih sangat muda. Ia belum menikah. Kami keluarga besar tentu sangat bangga dengan perjuangannya.”

Begitu hebatnya perjuangan Tole Iskandar, hingga ketika ia gugur merupakan pukulan berat bagi rekan-rekannya yang bertahun-tahun berjuang bersama. Bersambung. (rul/*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here