Muncul Petisi Sri Sultan Hamengkubuwono II Jadi Pahlawan Nasional

Sri Sultan Hamengkubuwono II.(Foto: wikipedia)

CINERE-Sri Sultan Hamengkubuwono II diusulkan menjadi pahlawan nasional. Usulan itu dituangkan dalam bentuk petisi yang salah satu penggagasnya adalah Ketua Trah Hamengkubuwono II, RAy Leginingsih Redjosudirdjo.

Kepada wartawan, Senin (20/1/2020), Leginingsih mengungkapkan saat ini Trah Hamengkubuwono II yang tersebar di seluruh Indonesia mendorong petisi agar Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) II layak dianugerahi gelar pahlawan nasional.

“Kami mohon doa dan dukungan masyarakat Indonesia, masyarakat Yogyakarta, Sultan Hamengkubuwono II dapat dianugerahi sebagai pahlawan nasional RI,” kata Leginingsih di kawasan Cinere, Kota Depok.

Pengagas dan Ketua Trah Hamengkubuwono II RAy Leginingsih Redjosudirdjo (kanan).

Dalam petisinya, Leginingsih menuliskan Sultan Hamengkubuwono II lahir di lereng Gunung Sindoro pada 7 Maret 1750 dari permaisuri Sri Sultan Hamengkubuwono I.

Leginingsih juga mencantumkan uraian sejarah panjang perlawanan Sri Sultan Hamengkubuwono II melawan VOC demi melindungi Keraton Yogyakarta.

“Beliau berupaya menggagalkan pembangunan Benteng Rustenburg inisiatif Komisaris Nicholas Hartingh sejak tahun 1765, dengan cara mengerahkan pekerja dari keraton untuk membangun tembok baluwarti mengelilingi alun-alun utara dan selatan. Tak lupa, untuk meningkatkan pertahanan, sebanyak 13 meriam ditempatkan di bagian depan keraton menghadap ke arah benteng Belanda tersebut,” bebernya.

Menurutnya, keluarga Trah Hamengkubuwono II tetap akan memperjuangkan pengajuan Sri Sultan Hamengkubuwono II ke pemerintah sebagai pahlawan nasional, walaupun pihak keraton Yogyakarta tidak mendukung petisi itu.

Sebab, jelas Leginingsih, petisi ini dimunculkan karena bukan sekadar prestise tapi apa yang telah diperjuangkan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono II melawan kolonial Belanda perlu menjadi catatan sejarah bangsa Indonesia.

“Perjuangan Sri Sultan Hamengkubuwono II harus dicatat oleh negara sebagai catatan sejarah. Kelak anak bangsa mengetahui bahwa Sri Sultan Hamengkubuwono II tidak pernah berkompromi dengan kolonial,” ujar Leginingsih.

Ia sangat menyayangkan adanya komentar Penghageng Tepas Dwarapura Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Jatiningrat, bahwa internal Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat tak tahu menahu mengenai usulan pahlawan nasional itu.

“Oh (Keraton) nggak (terlibat petisi), tidak akan mempengaruhi apa-apa. (Keraton) sebagai lembaga ya. Wong itu saja sudah sangat dihormati kok, nggak usah (bergelar) pahlawan sebetulnya (tidak masalah),” tegasnya.

“Saya merasa heran dengan pernyataan pihak internal Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat kalau pengajuan ini tidak diketahui pihak internal keraton. Padahal pengajuan ini sudah pernah di gagas keluarga besar Trah Hamengkubuwono II dan masyarakat Jogja serta didukung Sultan Hamengkuwobono X di Jogja bersamaan dengan pengajuan Sri Sultan Hamengkuwobono I di tahun 2006,” bebernya.

Leginingsih mengaku kecewa jika pihak keraton tidak mendukung usulan Sri Sultan Hamengkubuwono II sebagai pahlawan nasional hanya karena beliau sudab populer.

“Saya kecewa jika dikatakan pengajuan Sri Sultan Hamengkubuwono II sebagai pahlawan nasional tidak perlu karena sudah populer. Menurut saya, orang ini harus banyak belajar sejarah dan
belajar menghargai perjuangan Sultan Hamengkubuwono II melawan kolonial,” paparnya.

Pihak keraton sendiri tidak ingin terlibat dalam petisi ini, karena gelar pahlawan nasional (berdasarkan undang-undang), disulkan oleh pemerintah.(aji)