Menkopolhukam Sebut Peluang Indonesia Emas

Menkopolhukam Mahfud MD (DepokToday, Rul)

DEPOK– Menteri Koordinator Politik Hukum dan HAM (Menkopolhukam), Mahfud MD menyebut, Indonesia bakal memasuki masa emas pada tahun 2045. Dan jika hal itu terwujud, maka Indonesia bakal menjadi kekuatan dunia ke empat.

“Pemerintah sekarang ini, mencanakan tahun 2045 adalah Indonesia emas. Indonesia emas itu adalah satu Indonesia yang maju. Maju itu dimana kemiskinan mungkin sudah sangat sedikit, rakyatnya makmur, rakyatnya rukun, bersatu,” katanya saat menjadi dosen tamu di Balai Poernomo Prawiro Universitas Indonesia (UI) Depok, Jawa Barat, seperti dilansir pada Selasa 18 Februari 2020.

Mahfud bahhan meyakini, diperkirakan di tahun 2045 itu kalau semua berjalan maka Indonesia akan menjadi kekuatan dunia yang ke empat, sesudah Republik Rakyat Tiongkok, India, Amerika, dan kemudian Indonesia atau Jepang.

“Diperkirakan begitu dari hitung-hitungan modal SDM (sumber daya manusia) dan SDA (suber daya alam) yang ada sekarang dihitung perkembangannya dari tahun ke tahun,” ujarnya

          Sehingga nanti, kata Madfud bonus demografi yang akan berpuncak pada tahun 2036 itu akan memberi dampak positif di tahun 2045. Dan itu bakal menjadikan Indonesia emas.

“Indonesia emas itu syaratnya ada lima, satu merdeka. Kita secara politik sudah merdeka. Bersatu, kita secara resmi sudah bersatu sehingga kita merdeka.

Kemudian berdaulat, secara politik kita juga sudah berdaulat, karena semua negara di dunia mengakui Indonesia sebagai negara yang memang berdaulat,” tuturnya

Dirinya menjelaskan, ke lima syarat itu, tertuang di dalam alenia kedua pembukaan Undang-Undang Dasar 45 yang bunyinya, pergerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia telah sampailah pada saat yg berbahagia mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu kemerdekaan Indonesi yang merdeka, bersatu, berdaulat adil dan makmur. Dan itulah Indonesia emas nanti.

Namun yang jadi masalah, menurut Mahfud, adalah rasa keadilan dan makmur. “Itu lah sebabnya Indonesia emas belum ada sekarang, karena keadilan dan kemakmuran belum ada.”

Mahfud menilai, saat ini gangguan yang ada di Indonesia adalah kurangnya rasa persatuan. “Gangguan kita adalah kurang bersatu. Misalnya muncul gejala intoleransi, dimana orang yang berbeda itu dianggap berbeda, itu musuh.”

Kemudian, yang juga menjadi perhatian adalah kurangnya rasa kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Mahfud menganggap hal ini sebagai ancaman.

“Kalau rakyat tidak percaya kepada pemerintah dan kelangsungan negaranya maka akan terjadi disobedients, artinya pembangkangan. Orang melawan. Kalau diperlakukan tidak adil orang melawan. Kalau diperlakukan tidak adil, mati atau melawan. Jadi masih ada kemungkinan gitu. Nah Kalau disobedient terus terjadi, dan dibiarkan terus maka akan terjadi disintregasi.”

Terkait hal itu, Mahfud pun mengajak agar semua pihak menghargai perbedaan dan menjunjung tinggi toleransi. “Perbedaan agama perbedaan kehidupan, bersifat toleran itu sebenarnya keadilan secara psikologis emosional,” ujarnya

Pancasila Penangkal Virus Corona

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan UI, Prof. Rosari Saleh menilai, kegiatan bertajuk Bincang Seru Mahfud: Inspirasi, Kreasi, Pancasila dinilai sangat tepat.

“Kegiatan ini merupakan komitmen UI untuk mengingatkan sivitas akademika dan masyarakat luas bahwa nilai-nilai Pancasila, seyogyanya terus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan bermasyarakat dan bernegara,” ujarnya

Wanita yang akrab disapa Prof Ocha itu menjelaskan, UI bersama MMD Initiative bergerak untuk merancang kegiatan yang membuka ruang dialog luas yang dikemas dengan gaya ringan tanpa meninggalkan makna Pancasila itu sendiri. Menurutnya, sebagai sebuah pedoman, nilai-nilai Pancasila harus diturunkan pada level operasional yang membumi, yang mudah untuk dimanifestasi oleh siapapun tanpa terkecuali.

“Mengetahui apa itu nilai-nilai Pancasila tidaklah cukup. Kemampuan memahami dan menjalankannya, menjadi hal utama,” ucapnya

Lebih lanjut guru besar Fakultas MIPA UI itu mengungkapkan, Pancasila sangat relevan dalam menghadapi berbagai situasi yang mengusik kenyamanan bahkan ketahanan bangsa. Sebut saja, serangan virus corona.

“Sila kelima Pancasila telah mengajarkan kita untuk bergotong royong. Dalam menghadapi kecemasan global terhadap sebaran virus ini misalnya, gotong royong seluruh elemen bangsa dan dunia menjadi kunci yang tak terelakkan.” ujarnya

Tentu saja, kata Ocha, masih banyak lagi nilai-nilai Pancasila yang sebenarnya disadari atau tidak teleh manjadi bagian tak terpisahkan dari pribadi maupun negeri ini dalam menyelesaikan berbagai tantangan domestik maupun luar negeri.

Untuk diketahui, kegiatan yang dikelola oleh Bidang Akademik dan Kemahasiswaan UI ini berlangsung selama empat jam itu, diikuti oleh sekitar 1500 peserta, yang terdiri atas pengajar dan dosen UI, organisasi kemasyarakatan di Depok, pelajar bahkan peserta dari daerah lain seperti Bogor, Makassar dan lainnya.

 Kegiatan ini juga dihadiri Rektor UI, Ari Kuncoro, Wahid Institute, Yenny Wahid, Ketua Dewan Guru Besar UI, Harkristuti Harkrisnowo, serta komedian, Mamat Alkatiri dan Cak Lontong. (rul/*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here